Koperasi Zaman Now, Wadah Kebersamaan Para Ibu Milenial

Sejak masuk dunia ibu-ibu, linimasakui ramai dengan akun parenting. Tidak jarang juga aku melihat posting-an yang berisi sindiran tentang ibu-ibu dengan saling membandingkan. Mislanya, lahiran caesar atau normal, menggunakan ASI atau susu formula, Ibu pekerja atau Ibu rumah tangga, dan seterusnya. Sepertinya, dunia Ibu-ibu tidak akan ada habisnya untuk diperdebatkan sepanjang masa.

Lelah nggak sih, berdebat melulu? Kalau aku sih, cukup di persidangan aja ya debatnya. Daripada menjadi ibu saling berdebat, alangkah baiknya jika setiap ibu bisa saling mendukung satu sama lain. Meskipun banyak yang saling julid, tetapi banyak juga influencer yang selalu mendorong para ibu untuk saling mendukung satu sama lain.

Ada dua pilihan menjadi seorang Ibu dalam kehidupan sosialnya. Pertama menghujat Ibu lain atau yang kedua berdaya bersama Ibu lain. Aku sih, pilih yang kedua. Berdaya bersama Ibu lain. Apa wadah yang paling pas? Apakah komunitas ibu-ibu di WA Group saat ini sudah efektif. Menurutku, kualitas komunitas ibu-ibu harus ditingkatkan lagi. Tidak hanya diskusi tentang anak saja, melainkan juga saling memberdayakan untuk menjadi ibu milenial yang mandiri.

Koperasi, saat ini bisa menjadi jawaban agar komunitas ibu-ibu lebih berkualitas dan terarah. Kenapa koperasi? Bukannya itu organisasi zaman Ibu kita dulua ya? Ehhh… jangan salah dulu, koperasi zaman old ternyata mampu berkembang mengikuti tren ibu zaman now, loh. Lebih jelasnya, lanjut baca artikel ini ya!

 

Filosofi Koperasi

Ingat koperasi, pasti ingat selalu dengan Bung Hatta yang diberi gelar Bapak Koperasi Indonesia. Beliau pernah mengatakan bahwa perekonomian haruslah disusun sebagai usaha bersama, berdasarkan asas kekeluargaan.

bung hatta. foto/id.wikipedia.org

 

Dasar Hukum Koperasi

Indonesia merupakan negara hukum. Sehingga dalam menjalankan kegiatan negara selalu ada dasar hukum yang mengikutinya. Koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa Indonesia berlandaskan asas kekeluargaan sesuai yang diamanahkan Pasal 33 Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia 1945. Redaksinya mengatakan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Diperjelas lagi dengan ketentuan dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, menyebutkan bahwa koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum Koperasi dengan melaksanakan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi. Pada Pasal 5 ayat 1 UU Perkoperasian tersebut, menyebutkan prinsip-prinsip koperasi adalah sebagai berikut :

  1. keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka;
  2. pengelolaan dilakukan secara demokratis;
  3. pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota;
  4. pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal;
  5. kemandirian.

 

 Lanjut pada Pasal 5 ayat 2 UU Perkoperasian tersebut menyebutkan bahwa dalam mengembangkan Koperasi, maka Koperasi melaksanakan pula prinsip Koperasi sebagai berikut:

  1. pendidikan perkoperasian;
  2. kerja sama antarkoperasi.

 

Kisah Koperasi Zaman Old

Koperasi sebenarnya sudah tidak asing di telingaku sejak kecil. Mungkin begitu juga di telinga teman-teman. Waktu SD, ketika Ibuku masih aktif di organisasi darmawanita kantor Ayahku, seringkali membeli bahan-bahan pokok rumah seperti sembako, detergen, sabun mandi, dan lain sebaginya di koperasi yang dikelola Ibu-ibu darmawanita disana. Rasanya, ada keharusan untuk Ibuku membeli bahan-bahan pokok di koperasi tersebut. Di waktu tertentu, Ibu juga mendapat uang tambahan dari koperai. Setelah aku belajar tentang koperasi baru aku tahu kalau ternyata keuntungan koperasi dibagikan kepada anggota sebagai Sisa Hasil Usaha (SHU). Lantas, apakah tampilan koperasi seperti ini masih relevan dengan Ibu-ibu zaman now?

 

Kisah Sukses Koperasi

Sumber foto ini : https://www.madaninews.id

Rupanya, koperasi juga punya cerita suksesnya sendiri. Cerita ini aku dapatkan saat berselancar di google (berikut lamannya). Hajjah Zainab (49) pemilik UD Azhari ini, mengelola usaha makanan ringan berbahan baku jagung dan rumput laut dengan brand merek Tapona Food. Awalnya, perempuan yang tinggal di Lombok Tengah ini berkeliling menawarkan produk dari pintu ke pintu dengan sepeda motor. Sampai akhirnya produk usahanya berhasil merangsek ke jaringan toko oleh-oleh di sejumlah penjuru Pulau Lombok.

 Zaenab juga mengajar ibu-ibu di kampungnya untuk bisnis keripik tortilla. 20 ibu-ibu akhirnya turut serta mendirikan koperasi wanita Putri Mandiri. Dalam koperasi itu ada 380 ibu-ibu yang terbagi dalam 38 kelompok usaha produktif. Secara berlahan, Zaenab membina Ibu-ibu tersebut.

Usaha Zaenab berbuah manis. Bisnis berjamaah yang dirintisnya bisa menghasilkan 500 kilogram keripik tortilla setiap satu minggu. Sedangkan 25 kilogram keripik tortilla mentah dikirim ke pelanggannya di Batam, Jakarta dan Banyuwangi. Berbagai penghargaan telah dia terima. Kabar baik terbarunya, Kopwan Putri Rinjani mendapatkan outlet UMKM di Kawasan ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang akan dibuka pada 2020 mendatang.

 

Rebranding Koperasi Zaman Now

Pada tahun 2013, Mahkamah Agung (MK) mengeluarkan putusan Nomor 28/PUU-XI /2013. Putusan tersebut telah membatalkan berlakunya UU No. 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian. Menurut Mahkamah Agung undang-undang Perkoperasian tersebut berjiwa korporasi dan menghilangkan asas kekeluargaan serta gotong royong yang menjadi ciri khas koperasi. Sehingga, UU Mahkamah Agung membatalkan seluruh isi materiil UU No. 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian. Agar tidak terjadi kekosongan hukum, UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian berlaku kembali. Menurutku, dengan undang-undang yang lama, koperasi sudah menunjukkan karakternya. Tanpa mengubah nilai-nilainya, alangkah lebih baik koperasi melakukan rebranding agar nilai-nilai yang ada pada koperasi masih bisa dilanjutkan oleh generasi masa kini. 

 

Ibu Millenial

Bicara soal milenial (generasi yang terlahir antara tahun 1980an sampai 2000). Sebagian dari mereka sekarang ini, berusia 39 sampai 20 tahunan sudah menjadi Ibu. Sepanjang pengamatanku berada dalam komunitas ibu-ibu, beberapa karakter dari Ibu milenial antara lain sebagai berikut :

  1. Terhubung Internet 24 jam.
  2. Haus Ilmu
  3. Gabung Group Online Sesama Ibu
  4. Penghasilan Tambahan dengan Berjualan pada Sesama Ibu
  5. Berusaha untuk Lebih Berdaya

Dari lima karakter milenial tersebut, rupanya masih cocok dengan lima prinsip yang terkandung dalam  UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Hanya saja, para milenial perlu melakukan modifikasi tampilan agar relevan dengan perkembangan bisnis zaman now. Sehingga meskipun cara pelaksaannya berubah, tapi tidak meninggalkan prinsip koperasi sesuai terkandung dalam Pasal 31 UUD 1945.

 

Kesimpulan

Rebranding Koperasi Zaman Now tidak melulu soal perubahan undang-undang. Lebih esensi lagi, adalah tentang penerapannya pada lingkungan masyarakat. Koperasi Zaman Now, diharapkan mampu mengikuti perkembangan bisnis saat ini. Koperasi, seharusnya tidak selalu menjual bahan pokok seperti koperasi ibu-ibu darmawanita atau PKK zaman dahulu. Melalui koperasi, para ibu milenial juga bisa berdaya mengembangkan potensi sesuai minat dan kelebihan lingkungan sekitar, belajar bersama untuk saling memberdayakan antar ibu-ibu, dan tentunya menjadi ibu melenial yang mandiri agar dapat mendidik generasi selanjutnya yang lebih tangguh.


Tulisan ini, aku ikutkan lomba di https://praja2019.multiintisarana.com/login/

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Reyne Raea Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Reyne Raea
Guest

Koperasi ada jualan make up juga nggak ya mba? saya jarang bahkan nggak pernah ke koperasi sih, bahkan dulu wakttu sekolah pun enggak hahahahaha

Go Top