Seandainya Aku Jadi Pengacara Arthur Fleck – Joker

Ternyata imajinasiku mulai muncul setelah nonton film Joker. Terlepas seseorang memiliki gangguan mental atau tidak, banyak loh orang di luar sana yang membenarkan tingkah laku mereka padahal tidak sesuai aturan ataupun norma.

Sedikit cerita waktu itu masih jadi reporter di salah satu stasiun TV lokal, nah kebetulan aku mendapat kesempatan wawancara teroris dan narapidana yang dihukum seumur hidup lantaran membunuh orang.

Dia mengaku tidak menyesal atas pembunuhan yang dilakukannya lantaran orang yang dibunuh, sering membuatnya sakit hati. Toh menurutnya, meskipun dia berada dalam lembaga pemasyarakatan, hidupnya tidak tersiksa sama sekali. Di area lembaga pemasyarakatan disediakan perpustakaan jika ingin membaca, disediakan tempat ibadah, dan kegiatan seperti beternak ataupun berkria seni sesuai kemampuan. Dengan begitu, dia merasa lebih hidup katanya.

Memang tidak bisa disamakan persis dengan Joker yang melakukan kegiatan kriminal untuk mengikuti bahagianya karena ada semacam kangguaan pada kejiawaannya. Tapi, keduanya sama-sama melakukan suatu tindak pidana yang kalau sampai ditindak lanjuti hingga penyidikan atau penyelidikan, mereka butuh pengacara untuk mendapatkan hak-hak mereka.

 

Pengacara Tuh, Suka Bela Orang Salah, Ya?

Nah,  aku sering banget mendapat pertanyaan ini. Jadi, emang iya pengacara bela orang yang salah. Gini ya teman-teman pembaca, dalam menetapkan tersangka ada asas praduga tidak bersalah. Sebelum kasus tersebut kena jedok palu hakim, ya orang yang berstatus tersangka itu dianggap belum bersalah.

Nah, kalau emang aku nih… sebagai pengacaranya tahu kalau orang tersebut memang bersalah secara aturan hukum formil, pasti ada ajalah kebenaran yang dia simpan dan harus disampaikan pada hakim untuk mendapatkan hak-haknya selayaknya manusia. 

Karena begini, kalau memang ada si A membunuh si B? Apakah pasti si A sengaja membunuh si B? Atau justru, si A tidak sengaja karena kebetulan dia berjalan membawa pisau kemudian tersandung batu dan jatuh akhirnya pisau tersebut menusuk si B. Tentu beda analisa hukumnya.

Tahunya benar atau salahnya bagaimana? Nah, negara kita kan punya aturan tertulis tuh. Ada undang-undang, ada KUHP, dan lain sebagainya. Ya benar atau salahnya berdasar  ketentuan yang ada di situ. Tugas pengacaralah yang akan meramu agar kliennya mendapat hak-hak yang sesuai sekalipun dia bersalah.

 

Arthur Fleck Jadi Kebal Hukum

Arthur Fleck atau Joker rupanya memang hanya ada di Gotham. Seandainya dia ada di Indonesia, dengan penyakit yang menggangu kejiawaannya itu, Arthur Fleck atau Joker bisa jadi kebal hukum. Kenapa?

 Pasal 44 ayat (1) KUHP:

Tiada dapat dipidana barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal.”

 

Pasal 44 ayat (2) KUHP berbunyi:

Jika nyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal, maka dapatlah hakim memerintahkan memasukkan dia ke rumah sakit jiwa selama-lamanya satu tahun untuk diperiksa.

Ngeri deh, kalau ada orang sakit jiwa sampai membahayakan orang lain. Karena kondisi kejiwaannya, tentu tidak akan masuk penjara  tapi di rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Permasalahannya, apakah Joker benar-benar dianggap memiliki gangguan jiwa? Untuk itu, harus dibuktikan oleh dokter ahli kejiwaan.

 

 

 

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top