Tanpa Mengajak Anak di Bawah Umur, Sebagai Hiburan Joker Wajib Ditonton Orang Tua

Huuuffttt…. hela nafas panjang dan terlebih dulu aku ucapin Bismillahirohmanirrohim, sebelum cerita pengalamanku menonton film Joker yang belakangan laris banget ditonton jutaan orang. Yap, aku nggak mau bilang artikel ini merupakan review atau ulasan. Yang jelas, aku mau cerita pengalamanku menikmati hiburan berupa tontonan yaitu film Joker.

Belakangan, Joker menjadi bahan pembicaraan. Tidak hanya di Gotham City dia populer. Rupanya, seluruh jagat raya sedang menggaungkannya. CNN Indonesia menyebutkan kalau di Tanah Air, film ini mampu mendapatkan US$846 ribu atau setara dengan Rp11,9 miliar dari 1.197 layar yang menayangkannya. Selain karena film ini menjawab teka-teki siapa Joker sesungguhnya dari film sebelumnya, ternyata film ini mengandung banyak kejutan. Ada yang kontroversial, namun ada pula yang bisa kita jadikan pelajaran.

Sebenarnya berat banget mau meneceritakan kembali film joker sesuai yang aku tangkep. Karena awalnya aku sendiri bingung mau menceritakan dari sisi apa karena memang pada kenyataannya, sepuluh orang menonton film ini, bisa jadi sepuluh orang tersebut menarik kesimpulan yang berbeda dari film ini. Menurutku itulah kesuksesan Todd Phillips sebagai sutradara film ini. Dia berhasil menyuguhkan suatu film, yang masuk dalam benak penonton dan merefleksikannya dalam kehidupan masing-masing sehingga memunculkan kesimpulan yang berbeda-beda dari setiap kepala.

 

Jangan Ajak Anak Di Bawah Umur Menonton Joker

Ini yang harus pertama aku garis bawahi sebelum aku cerita banyak tentang pengalamanku menonton Joker. Beberapa artikel menyebutkan, Joker mengandung adegan kekerasan dan contoh yang tidak baik tentang hubungan anak dan orang tua sehingga tidak pantas ditonton oleh anak-anak.

Joker bukanlah film komedi badut yang lucu, bukan juga film superhero yang menyelamatkan dunia, tapi joker merupakan film dengan permasalahan hidup tokoh utama yang begitu kompleks. Tentu apabila ditonton anak di bawah umur, akan sulit dipahami. Apalagi film ini cenderung berat dengan pemeran utama yang memiliki suatu penyakit mental. Kita sebagai penonton, dituntut untuk bisa membedakan mana yang benar-benar kejadian nyata yang dialami tokoh utama dan mana yang hanya khayalan.

Disini aku mau menambahkan. Tidak hanya itu, kenapa joker tidak pantas ditonton anak-anak. Jika teman-teman pernah mendengar atau bahkan pernah memberikan nasihat pada anaknya tentang, “Jadilah dirimu sendiri, Nak!” Pesan itu akan menjadi bias jika kita tidak hati-hati mengikuti film joker.

Dalam fim Joker diceritakan bahwa kebahagiaan pribadi Joker yang diperankan oleh Joaquin Phoenix, yaitu membunuh orang. Titik baliknya, saat Joker masih menggunakan seragam badut usai dipecat dari pekerjaannya, kemudian dia menertawakan seorang perempuan yang digoda oleh tiga pemuda. Joker rupanya tidak bisa menyembunyikan penyakitnya, yang memaksakan dia untuk tertawa terbahak-bahak dan memancing kemarahan tiga pemuda tersebut. Sakit hati karena disiksa, Joker yang saat itu bernama Arthur membunuh tiga pemuda tersebut. Dia tidak menyesal setelah itu. Justru dia bahagia dan selanjutnya banyak korban berjatuhan di tangannya. 

Itulah diri alther ego Joker yang sebenarnya. Bahaya banget jika anak-anak mencerna jadilah dirimu sendiri dengan mengikuti gaya Joker yang tanpa aturan. Joker mencoba menjalani hidup, sewajarnya agar diterima lingkungan. Tapi dengan begitu, joker justru dibully hingga tidak bisa membentengi diri. Satu-satunya alasan yang bisa dimaklumi orang ketika dia tertawa sampai lehernya terasa sakit, saat dia memberikan kartu yang berisikan permohonan maaf atas penyakit yang dideritanya.

Ini membahayakan jika diserap anak tanpa filter. Bisa-bisa anak mengajukan pembenaran menurut kepalanya, tanpa menyadari apa keselahannya. Atau menjadikan alasan yang bisa dimaklumi orang untuk memaksa orang lain memahami keadaannya.

 

Pulang dari Nonton, Banyak-Banyak Ajarkan Empati pada Anak

Yaps, orang tua harus nonton ini sebab harus tahu bahwa di luar sana, di dunia yang antah brantah ini, kita akan mendapat perlakukan baik jika kita juga berlaku baik. Kita tidak akan diganggu jika kita mampu berempati dengan orang lain. Saat kita bertemu orang baru, atau bahkan teman lama, kita tidak pernah tahu bagaimana perasaannya dan respon yang sebenarnya atas perkataan dan sikap yang sudah kita lakukan. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga. Menjaga lidah agar tidak menyayat hati orang, menjaga tangan agar tidak memukul orang, dan menjaga pikiran agar selalu bertabayun dengan orang.

Inilah yang mungkin jarang kita dapatkan di zaman dengan persaingan yang begitu ketat seperti sekarang ini. Saat semua orang berlomba mendapatkan popularitas, bahkan dengan cara menjatuhkan orang lain sekalipun. Sehingga, kita sebagai pribadi yang menghuni bumi ini pun diminta untuk kuat dalam menggunakan hati dan pikiran. Tidak hanya tentang menjadi diri sendiri tanpa aturan, tapi menjadi diri sendiri yang tanggung jawab dan memiliki sikap empati untuk menghargai setiap manusia.

 

Mana yang Jahat, Mana yang Baik?

Perlu diketahui, bagian pada saat Joker diundang di acara talk show Marry Franklin, dan membuka semua unek-uneknya disitu seperti menunjukkan bahwa solah-olah tokoh yang selama ini kita anggap prontagonis, menjadi antagonis ketika kita larut dalam pemikiran Joker.Dan memang dalam film ini, sutradara begitu cerdas agar penonton hanyut dalam pemikiran Joker yang seolah membongkar paradigma tentang definisi orang baik yang selama ini kita yakini.

Di sisi lain memang ada benarnya, sehingga banyak bermunculan quote orang jahat itu, adalah orang baik yang tersakiti. Kalau begitu, siapa sebanarnya orang baik? Bagaimana sikap baik seharusnya? Nah, jika kita tidak melakukan filter atas film ini, bisa jadi kita ikutan stres menonton film ini. Apalagi jika ditonton anak-anak yang masih minim kemampuannya dalam memfilter informasi. Bisa-bisa jadi sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang jahat.

 

Kaum Elite vs Marginal

Gotham City, pada film ini memperlihatkan bagaimana lingkungan yang carut marut, penuh dengan korup, sampah yang tidak teratasi, dan tikus yang berlarian di tengah kota. Ditambah dengan warganya yang sulit mencari pekerjaan dan hidup pas-pasan. Tapi bagaimana dengan kaum elite sekalas akrtris dan pejabat publik? Ketika mereka bisa menonton bioskop di gedung yang bersih dan rapi. Sunguh berbeda dengan keadaan kaum marginal yang bisa bertahan hidup saja, sudah sangat mereka syukuri.

Tidak heran jika pada akhirnya, pemberontakan terjadi di Kota itu. Joker pun menjadi simbol perlawanan dari kaum marginal terhadap kaum elite. Tapi apakah cara-cara tersebut dibenarkan? Film ini, menunjukkan tentang keadaan sebuah kota yang begitu kritis. Yang bisa saja dialami  kota atau negara-negara yang sebenarnya pada saat ini. Antara kaum elite ataupun kaum marginal, semua sama. Tidak bisa mengungkapkan pesan yang disampaikan dengan cinta karena masing-masing hati sudah slaing tersakiti.

Sedangkan pada anak-anak, kita punya harapan baru pada mereka. Jangan sampai keadaan saling menyakiti mereka pupuk dan berlanjut dengan penyampaian cinta yang jauh dari nilai-nilai kebaikan. Ya, biarkan dunia Joker sampai disitu. Biarkan dunia Joker jadi refleksi kita sebagai orang tua. Maka saya katakan sekali lagi, orang tua perlu nonton film ini. Tapi ingat, jangan bawa anak-anak. Terutama yang dibawah umur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top