Kuy Ketahui Aturan Ini Sebelum Upload Foto Anak di Media Sosial!

Suatu pagi, sepulang dari berkeliling di rumah-rumah tetangga saat idul fitri, aku meminta adik laki-lakiku untuk foto brdua. Kebetulan dia satu-satunya adik kandung yang aku punya. Nggak papa dong, punya kenangan sendiri… Apalagi sekarang ini kami mulai dewasa dan hidup terpisah jauh. Butuhlah, kebersamaan ini diabadikan.

Nah, ketika aku mintain foto itu, adikku bersedia tapi sambil bilang, “Jangan di upload loh ya!” Dan akhirnya foto tersebut sampai sekarang masih menjadi koleksi priadiku. Sama sekali tidak aku upload di media sosial dengan alasan menjaga privasinya.

Sering juga, aku , melihat peristiwa manis Adna sama Ayahnya, yang sayang kalau tidak diabadikan. Saat ayahnya mengetahui aku ambil gambar, Ayahnya Adna udah bilang, “Jangan di upload loh ya!” Ayahnya Adna tidak mengizinkan semua foto untuk diupload. Hanya foto tertentu saja.

Kebetulan Ayahnya Adna dan Adikku itu satu karakter yaitu introvert. Keduanya tidak terlalu terbuka sama orang lain. Jarang berbagi informasi kepada orang lain. Tidak terlalu  nyaman bertemu dengan orang baru apalagi jika tempatnya ramai. Anakku, kalau aku lihat mulai muncul bibit-bibit karakter bapaknya. Akhirnya aku mulai berpikir, kira-kira apa ya responnya kalau tahu fotonya aku upload?

Tentu bisa saja cuek iya-iya aja. Atau bisa protes karena dengan aku upload fotonya, banyak hal tidak mengenakkan terjadi pada hari-harinya di sekolah mungkin. Jauh amat, di sekolah. Anakku aja baru 5 bulan. Tapi tidak menutup kemungknan terjadi, bukan?

 

Menghargai Privasi Anak

Kalau buibu tahu puisinya Kahlil Gibran? Begini bunyi tiga bait teratasnya :

 

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

 

Mereka lahir lewat engkau,

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

 

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

dan seterusnya………….

 

Meskipun anak kita lahir dari rahim kita, lahir dari persatuan antara kita para perempuan dan suaminya, bukan berati anak lantas berhak kita miliki sehingga bebas kita atur, atau kita jadikan suatu obyek tertentu sesuai kehendak kita.

Kelak, pada waktunya dia akan punya kehidupan sendiri. Anak punya hak yang harus dilindungi. Ada privasinya yang harus kita jaga. Dia juga punya perasaan yang harus kita hargai. Sama halnya dengan kita sebagai manusia, pasti marah kan, kalau hal yang tidak kita suka yang terjadi pada kita diumbar atau dibicarakan orang lain?

Aku juga sedang proses belajar. Memanusiakan bayi yang masih usia 5 bulan. Memandangnya jauh ke depan pada waktu dia dewasa kelak, saat dia sudah bisa mengatakan kehendaknya. Kalau-kalau dia punya karakter yang sama seperti om-nya atau ayahnya, dia pun juga berhak menolak kalau fotonya aku upload.

Jadi. kalau ditanya alasan utama berusaha seminim mungkin tidak upload foto anak alasanku ya menjaga privasinya kelak. Menghargainya sebagai manusia yang utuh. Yang juga punya hak untuk bicara, mau menolak atau mengiyakan jika fotonya di upload.

 

Undang-Undang Melindungi Privasi Seseorang

UU yang mengatur soal privasi tertulis pada pasal 32 UU ITE tentang larangan bagi setiap orang untuk melakukan interferensi (mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan) terhadap bentuk dokumen elektronik atau informasi elektronik tanpa hak dan dengan cara melawan hukum.

Hak perlindungan ITE ini tentu merupakan bantuan hukum menjaga rahasia kita. Sedangkan apabila dilanggar terkena pasal Pasal 48 UU ITE yang tentu hukuman penjara minimal 8 tahun dan denda paling murah Rp 3 miliar saja. Menyebar foto seseorang tanpa izin bisa juga masuk dalam ranah ini. Apakah termasuk dengan foto anak? Apakah kita tidak punya hak atas foto anak kita? Baca sampai habis, yuk… kita belajar.

 

Aturan Hukum Upload Foto Anak di Indonesia

Sebenarnya, di Indonesia tidak ada aturan yang redaksinya langsung menjurus pada foto anak. Apa lagi kalau yang upload orang tua. Hanya saja, kalau kita telaah undang-undang Hak Cipta, ada pasal yang relevan tapi juga rada maksa kalau dihubungkan. Tapi nggak apa, aku bakal coba bedah pasal tersebut ya…

 

Karya Foto Merupakan Hak Cipta Bernilai Ekonomi

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (“UU Hak Cipta”) pengertian hak cipta adalah:
 
Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
 
Nah, suatu ciptaan yang dimaksud dalam pasal tersebut juga termasuk hasil karya cipta foto yang dihasilkan dari kamera. Karena kita (orang tua) yang ambil foto anak, maka kitalah yang punya hak cipta atas karya foto tersebut. Bebas dong, kita upload semau-mau kita karena hak cipta milik kita.
 

 

Menggunakan Foto Untuk Kepentingan Iklan

Tapi, bagaimana jika foto tersebut untuk kepentingan iklan produk, atau sekedar untuk kuis foto kontes? Ternyata, dalam karya foto sendiri juga terdapat terdapat pembatasan hak ekonomi yang diatur dalam Pasal 12 UU Hak Cipta yang berbunyi:

 
  1. Setiap Orang dilarang melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan/atau Komunikasi atas Potret yang dibuatnya guna kepentingan reklame atau periklanan secara komersial tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya.
  2. Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan/atau Komunikasi Potret sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang memuat Potret 2 (dua) orang atau lebih, wajib meminta persetujuan dari orang yang ada dalam Potret atau ahli warisnya.

 

Dalam membaca pasal tersebut, kita bisa menelaahnya dari kata setiap orang. Setiap orang itu artinya, semua orang termasuk juga orang tua. Berikutnya redaksi Penggunaan dilarang melakukan secara Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan/atau Komunikasi atas Potret yang dibuatnya. Jadi, fokus kegiatannya adalah kegitan dilarang melakukan secara komersial. Komersial artinya, ada keuntungan bersifat ekonomi dari kegiatan tersebut. Hal ini, juga diperjelas dengan redaksi selanjutnya yang berbunyi guna kepentingan reklame atau periklanan secara komersial.

Ternyata, menggunakan karya foto untuk kepentingan iklan dengan obyek foto manusia, sekalipun itu hasil jepretan kita sendiri tidak bisa sembarang loh… seperti redaksi yang berbunyi pada Pasal 12 UU Hak Cipta tersebut, harus ada izin tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya.

 

Kapan Seseoarang bisa dikatakan Ahli Waris?

Kalau ini, sepertinya harus saya bahas dalam artikel tersendiri. Berkaitan dengan Pasal 12 UU Hak Cipta di atas, saya mau ulas sedikit tentang ahli waris. Nah, di Indonesia hukum waris itu dibagi menjadi dua. Hukum waris islam, dan hukum waris barat. Hukum waris islam, memasukan orang tua sebagai ahli waris. Sedangkan hukum barat, atau menurut Kitab Undnag-undnag hukum perdata, orang tua merupakan ahli waris golongan II. Yang hanya bisa jadi ahli waris jika golongan I (suami / isteri yang hidup terlama dan anak / keturunanya).

Nah, ahli waris sendiri hanya berlaku kalau pewaris meninggal. Ya, kalau masih hidup tentunya harus izin langsung pada pihak yang bersangkutan. Kalau soal foto anak, ya kita sebagai orang tua harus dong izin anak dulu sebelum upload. Terutama jika digunakan untuk kepentingan komersial.

 

Sanksi Jika Upload FotoTanpa Izin Obyek yang Difoto

Sanksi yang dapat dikenakan apabila Anda tidak meminta persetujuan diatur dalam Pasal 115 UU Hak Cipta sebagai berikut:
 
Setiap Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara Komersial baik dalam media elektonik maupun non elektronik, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
 
Nah, karena ini ranahnya hukum pidana, maka harus ada laporan jika kasus ini mau ditindak. Kebayang nggak sih, kalau anak udah gedhe terus melaporkan kita orang tuanya karena pernah upload foto-fotonya waktu kecil untuk kepentingan promosi?  Imajinasiku terlalu jauh ya…. hehehe… “howalah, bisa nyekolahin kamu itu, nak… berkat foto-foto yang sering ibu pasang di medsos.”
 
 

Kelemahan Aturan Upload Foto Anak di Indonesia

Sayangnya, aturan dalam UU Hak Cipta tersebut tidak mengacu ke spesifik tentang orang tua upload foto anaknya. Redaksinya masih bias untuk diterjemahkan. Tapi kesadaran diri untuk menjaga privasi anak perlu kita tanamkan dalam diri. Lagi pula, aturan tersebut hanya ditindak kalau ada aduan. Masak iya, anak ngadu orang tuanya ke pihak kepolisian? Naudzubillah, semoga jangan. Tapi kitanya sendiri juga harus sadar. Sebagai orang tua, tidak bisa seenaknya bersikap pada anak.
 
Kelemahan berikutnya, pasal dalam UU Hak Cipta hanya ditujukan bagi foto yang digunakan untuk kepentingan promosi. Permasalahannya, tidak ada penjelasan yang lebih detail indikasi adanya promosi atau tidak. Apakah upload foto anak, untuk promosi produk anak juga termasuk promosi? Sekalipun hasil uangnya juga masuk ke tabungan anak juga.
 
 

Kesimpulanku tentang Upload Foto Anak Setelah Mengkaji Pasal Tersebut

Bebas ya, mau upload foto anak ataupun tidak. Tidak ada larangan tegas yang redaksinya menyebut pihak orang tua dan anak. Tapi hati-hati kalau ada kepentingan komersialnya. Apalagi, ketentuan sanksi di atas berlakunya merupakan delik aduan. Yaitu, tindak pidana yang hanya bisa diproses jika ada laporan. Ya udah, upload saja foto anak selama dia nggak lapor polisi karena kita orang tuanya melanggar UU Hak Cipta.

Beda dengan hukum di Perancis yang sudah mengatur secara tegas tentang orang tua upload foto anak. Dan jika saya telaah dari beberapa sumber, (sependek pengamatanku) aturan tersebut bukan delik aduan. Tapi delik biasa yang sewaktu-waktu bisa ditangkap kalau melanggar.

 
 

Upload Foto Anak Denda 67.000 $ di Perancis

Ini, ada keterangan yang aku kutip dari kompas.com

See, di Perancis ternyata  ada aturan hukum yang kusus tentang upload foto anak tanpa  Ternyata negara ikut melindungi kemanan dan privasi warga negaranya. Sekalipun masih anak-anak. Ternyata negara, turut juga melindungi hak anak layaknya manusia dewasa yang tidak bisa semena-mena dijadikan obyek bahkan oleh orang taunya sendiri.

 

Susah, Susah Banget Berusaha Tidak Upload Foto Anak

Yaps, aku sendiri kadang juga suka khilaf foto anak. Masalahnya, secara estetik foto yang memperlihatkan wajah lebih terlihat unsur seninya. Apalagi, ketika anak masih lucu-lucunya pasti menggemaskan.

Bagi yang berprofesi sebagai blogger ataupun influencer juga banyak banget job produk anak yang mengharuskan upload foto anak. Realistis dong ya, kalau soal cari uang. Berat memang. Berat nggak upload foto anak.

Disini, aku juga cuma share beberapa aturan terkait yang menjadi fokus bidang keilmuan saya. Selain juga saya sisipkan pandangan pribadi untuk mengurangi upload foto anak., terutama kalau menampakkan wajah. Bukan bermaksud untuk melarang siapapun mengupload foto anaknya. Lagi pula, di Indonesia belum ada aturan yang begitu tegas tentag upload foto anak oleh orang tua seperti di Perancis.

 

Ya sudah, upload dengan bijak foto anak kita agar tidak menyusahkan hidupnya kelak. Maka dari itu sebelum upload foto anak, coba pertimbangkan hal-hal di bawah ini :
  1. Foto tidak bersifat mempermalukan anak. Meskipun kita anggap itu lucu, jangan sampai kelak dijadikan bahan lelucon teman-temannya.
  2. Tidak menampakkan aurot yang berlebihan. Hal ini bisa memicu pedofil yang berniat buruk.
  3. Tidak memunculkan identitas untuk menghindari penculikan.
  4. Upload foto yang menunjukkan kelebihan dan keceriannya untuk menginspirasi anak-anak lain dan membuat bahagia orang yang memandangnya.

 

Sekian, Semoga Bermanfaat

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Jihan FauziahRohyati Sofjan Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Rohyati Sofjan
Guest

Serba salah juga karena saya narablog, dulu jarang unggah foto anak di media sosial, tetapi untuk kepentingan pekerjaan terpaksa mengunggajnya untuk bagian artikel blog maupun promosi di di media sosial. macam Instagram.
Saya baru tahu hukum di Prancis, bagus juga Prancis menetapkan aturan ketat. Tetapi di indonesia dan luar negeri banyak selebgram cilik untuk endorse.
Saya suka bingung lihat foto anak kecil yang usianya entah berapa, masih batita atau balita dan bergaya ala orang dewasa. Jadi aneh liihatnya. Seperti boneka mini dalam balutan busana trendi.

Go Top