Ketika Bercita-cita Menjadi Ibu Hebat, Bukan Ibu Pekerja atau Ibu Rumah Tangga

Sejak aku masuk dunia Ibu-Ibu dengan ditandai kelahiran putri pertamaku pada April 2019 lalu, ternyata banyak banget pro kontra yang terjadi dalam komunitas ini hingga terkadang memunculkan kelompok-kelompok yang saling julid. Dan itu ternyata ada. Salah satu pro kontra yang ramai adalah Ibu bekerja atau Ibu rumah tangga. Ya, kenapa diperdebatkan juga ya?

 

Belajar bertanggung jawab dalam berbagai peran sejak gadis itu penting

 

Sebenarnya, aku mengalami dilema Ibu Bekerja atau Ibu Berumah Tangga,  jauh sebelum menikah. Waktu kuliah, saking ambisiuanya aku, sebenarnya aku ingin menjadi wanita karir yang punya jabatan dan bergaji besar. Bisa perawatan setiap bulan, baju bermerk, kendaraan mewah, dan sederet impian duniawai yang menyinari.

Aku berusaha melatih multitaskingku sejak masuk usia remaja atau gadis. Kuliah, kerja, organisasi, dan terakhir menjadi anak kos yang harus hidup mandiri. Pikiranku waktu itu, harus sanggup aku lakoni agar kelak tidak kaget saat berumah tangga dan mempunyai banyak peran.

Memegang banyak peran itu seperti diburu target. Apa-apa dikerjain demi menambah pengalaman. Sampai jarang pulang ke kampung halaman untuk nengok orang tua, meskipun travelling tidak lupa. Hehehe… jangan ditiru ya. Nengok orang tua itu hal yang utama saat kamu masih gadis belia. Apakah ini bermanfaat setelah berumah tangga? Sedikit banyak iya, tetapi… seimak dulu ya penjelasanku sampai habis. Kalau bosen ngopi dulu.

 

Yakin, mau jadi ibu pekerja? Kalau ritme kerjamu tidak beraturan, bagaimana mengurus anakmu nanti.

 

Kebetulan, setelah lulus aku bekerja sebagai contributor di salah satu media kenamaan. Jam kerjanya padat. Tidak pasti. Hampir setiap hari. Dan lagian, gaji pas-pasan. Tapi pengalamannya menakjubkan.

Yakin, mau bekerja seperti ini setiap hari? Sepanjang umurmu. Bisa meninggalkan anak sampai malam. Bisa nggak pulang seharian. Seekestrim itukah? Akhirnya aku mengubah haluan. Tidak sekedar menjadi Ibu Bekerja, tetapi menjadi Ibu Bekerja yang bisa atur jam kerja sendiri. Menarik ya kayaknya?

Setelah menimbang-nimbang berdasarkan peluan dan potensi diri, ada dua profesi yang kiranya bisa kujadikan jalan hidup ketika menjadi Ibu. Pengacara dan Penulis. Akhirnya, dua-duanya kusiapkan sebelum menikah. Iya, sebelum menikah. Bahkan sebelum menemukan jodohnya.

Apa yang aku persiapkan? Pertama bikin buku, meski akhirnya nggak aku terbitkan lagi karena malu. Heheh. Kedua tentu proses ikut pendidikan pengacara sampai proses seleksinya. Iya, semua kupersiapkan demi menjadi Ibu pekerja yang bisa mengatur jam kerjanya dengan suka-suka.

 

Menjadi Ibu Ternyata Proses Belajar

 

Alhamdulillah, Allah mengabulkan doaku. Aku hamil sebulan setelah upacara pernikahan. Sejak dua garis biru tertera pada tespack, sejak itulah aku resmi menjadi Ibu. Dan ternyata, apa yang aku pelajari kemarin itu bukan mempersiapkan diri menjadi Ibu. Tapi mempersiapkan diri gimana cari uang tambahan atau kesibukan lain saat menjadi Ibu.

Setelah dinyatakan hamil, aku mulai rajin baca-baca artikel tentang kehamilan. Buku-buku tentang hamil dan parenting, sejak itu aku tahu menjadi Ibu tidak cukup dengan wajib belajar 12 tahun ditambah dengan SMA dan sarjana.

Mulai dari nutrisi ibu hamil dan menyusui, persiapan menyusui sejak hamil, mempersiapkan kehamilan impian, dan sederet ilmu lain yang harus kita pelajari karena bertanggung jawab menyandang peran sebagai Ibu. Apakah itu diajarkan di bangku sekolah? Mungkin, yang sekolah gizi atau kesehatan diajarkan ya… Kalau sekolah hukum kan enggak, beb.

 

Mau jadi Ibu bekerja, atau Ibu rumah tangga, keterampilan menemukan solusi dalam setiap masalah itu perlu dimiliki.

 

Kalau ditinggal kerja, nanti ASInya bagaimana? Dititipin siapa? Ya kan ada neni, day care, dan semacamnya. Namanya kerja pasti mendapat gaji dong. Ya, gajinya dianggarkan buat bayar asisten-asisten yang bantuin ngurus bayi. ASI pumping sekarang juga gampang. Selain alatnya yang sudah canggih-canggih, ilmu tentang ASI sudah banyak beredar.

Kalau jadi Ibu rumah tangga, kira-kira darimana ya dapat penghasilan tambahan. Kira-kira aku masih bisa berkembang lagi enggak ya. Bosen kegiatannya ini-ini aja. Jujur, Ibu rumah tangga masih sering berpikir demikian enggak?

Jujur, kalau aku lagi nggak ada klien dan diam di rumah, aku berpikir kaya gitu. Duh, kerja freelance ternyata begini ya. Kalau nggak ada klien ngganggur banget ya. Otakku kok rasanya mati ya. Sekalipun kalau dikasih klien banyak berasa kepala mau pecah.

Ternyata, menjadi Ibu bukan soal Ibu bekerja atau Ibu rumah tangga saja. Bukan perkara, lebih baik mana. Iya bener Ibu bekerja anaknya dititip-titipkan. Tapi kalau anaknya jadi lebih mandiri karena terbiasa mengerjakan apapun sendiri siapa yang seneng? Kalau hasilnya bagus, apakah itu didikan neninya? Ibu yang tanggung jawab pasti punya kontrol sendiri untuk anaknya sehingga anaknya menjadi anak yang berkualitas.

Iya, bener jadi Ibu rumah tangga nggak punya penghasilan tambahan. Tapi apakah nggak juga bisa berkembang? Nyatanya, banyak Ibu rumah tangga melakukan banyak kegiatan bersama anaknya dan menghasilkan kolaborasi karya antar keduanya. Banyak Ibu rumah tangga yang masih suka baca buku, dan punya perkumpulan Ibu-ibu yang bikin tambah pinter.

 

Menjadi Ibu hebat

 

Setelah menjadi Ibu, aku merombak tujuanku. Bukan menjadi ibu bekerja, atau ibu bekerja yang bisa atur jam kerjanya suka-suka. Tapi menjadi Ibu hebat. Ibu bahagia untuk mencetak generasi yang bahagia. Kenapa bahagia? Karena dengan bahagia, proses yang berliku menjadi Ibu dan seorang manusia ini bisa dinikmati dengan suka cita.

 

Semua ada waktunya

Kita sendiri yang tahu kapan harus :

  1. Menjadi ibu bekerja
  2. Menjadi ibu bekerja di rumah
  3. Menjadi ibu rumah tangga secara full

Setiap keluarga tentu memiliki konsep, pemahaman, dan masalah yang berbeda. Tidak bisa disama ratakan. Ada kalanya, suatu keluarga yang butuh ibu yang bekerja secara full time. Ada juga keluarga yang butuh ibu bekerja di rumah sambil momong. Ada juga yang butuh ibu tetap berada di rumah dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.

Setiap keluarga punya kondisinya masing-masing. Kita tidak pantas menghakimi lebih baik mana. Yang kita perlu lakukan hanyalah sama-sama saling mendukung. Semua keputusan memang punya baik buruknya sendiri-sendiri. Tapi kalau itu menjadi solusi, dan keluarga juga lebih baik kenapa tidak dipilih. Yang terpenting, sebagai perempuan kita ikhlas menjalani. Mungkin mereka yang julid memang karena sebenarnya iri. Kurang bersyukur dengan peran yang sudah diamanahi.

 

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top