5 Hal Ini yang Bikin Pendidikan Pranikah Menurutku Penting

Menikah untuk membina keluarga itu merupakan project seumur hidup. Tanggung jawabnya besar untuk membangun peradaban. Kalau kita membuat project pekerjaan saja membutuhkan partner yang pas, apalagi berkeluarga. Dimulai dari suami dan isteri yang menjadi pondasi. Sebagai pondasi, tentu diharapkan keduanya kuat seutuhnya. Kuat mentalnya, financialnya, dan hatinya.

Tentu ini bukan perkara mudah. Banyak sekelilingku mengira bahwa menikah itu dijalani saja. Tak perlu muluk-muluk tentang teorinya. Toh nyatanya, mereka yang terlihat baik-baik saja belum tentu bahagia juga. Hal ini tentu berpengaruh juga pada pendidikan karakter anak dimana, anak sebagai investasi sumber daya manusia Indonesia kedepannya.

Jadi, sebelum menikah menurutku setiap pasangan harus mengetahui 5 hal di bawah ini. Fakta-fakta ini aku kumpulkan dari diskusi dengan teman-teman baik seumuran atau dibawahku. Ditambah lagi dari klien perceraian yang datang kepadaku. Bukan tentang dimana akan menyelenggarakan resepsi, mana catering yang akan digunakan dan apa sovenir yang berkesan. Tapi ini tentang perjalanan panjang. Bagaimana suatu keluarga mengambil peran untuk kebermanfaatan.

 

Berkeluarga itu Butuh Ilmu

Dalam membina rumah tangga, membangun keluarga, kita akan menemui masalah mulai dari masalah ekonomi (ini yang kerap kali jadi polemik), masalah prinsip, keyakinan, pendidikan, dan eksistensial menurutku itu yang menjadi isu paling hot di kalangan keluarga Indonesia. Apapun masalahnya, semua butuh ilmu bagaimana menyelesaikannya.

Masalah ekonomi, bukan hanya bekerja keras saja tapi kita harus paham menejemnen keuangan rumah tangga, produk keuangan yang bisa menunjang kelancaran perekonomian, dan strategi-startegi untuk menata ekonomi. Masalah prinsip dan keyakinan juga seharusnya sudah dibicarakan sejak sebelum pernikahan. Memang terkadang setiap pasangan harus saling bernegosiasi dengan dirinya sendiri agar bisa saling kompromi dengan pasangannya. Tapi menurutku, tanpa ilmu pra nikah atau pra keluarga tehnik ini sulit dilakukan.

Paling penting lagi ilmu mendidik anak. Setiap keluarga menginginkan akan hadirnya seorang anak. Tapi apakah setiap keluarga mampu menampung kebutuhan anak. Soal ini, juga ada ilmunya. Ya, menikah memang butuh ilmu ekonomi, psikologi, komunikasi, matematika, bahasa, hukum, dan lain sebaginya. Tidak semua harus kita pelajari. Yang perlu kita sadari adalah ilmu berkeluarga tidak cukup hanya sekolah TK sampai tamat sarjana. Ini ilmu kehidupan yang hanya bisa kita tangkap saat mengaktifkan kepekaan.

 

Bahagia Itu Diperjuangkan Bersama

Aku setuju dengan kata-kata menikah itu bukan untuk bahagia. Tapi menikah itu butuh bahagia. Sehingga bahagia itu perlu diperjuangkan bersama. Ya, bersama. Nggak bisa salah satu pihak saja yang memperjuangkannya. Tidak bisa salah satu bergantung pada salah satunya. Tidak ada yang bergantung meskipun sudah menjadi pasangan. Hanya saja, dalam berkeluarga memang membutuhkan empati dan kesadaran untuk saling berbagi sebagai pasangan.

Beda lo…., begantung dan saling berbagi. Bergantung berarti, jika keluarga ditimpa masalah bukan mencari solusi, tidak berinisitif tapi malah menuntut pasangannya untuk menyelesaikannya. Sedangkan saling berbagi, jika salah satu ada yang kurang, pasangannya dengan sadar diri melengkapi. Begitu sebaliknya. Jika kita tidak menyadari ini saat pra keluarga tentu akan kesulitan membina hubungan. Terlebih jika standar bahagia suatu pasangan belum disamakan. Jadi, sekali lagi pendidikan pranikah itu penting salah satunya untuk mencapai kebahagiaan. Karena hanya dengan keluarga bahagialah anak tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan berdaya.

 

Pendidikan Anak Tidak Cukup Dengan Sekolah Saja

Banyak orang yang bekerja mati-matian dengan alasan untuk biaya sekolah anak. Ada satu cerita yang cukup menginspirasiku. Ini cerita kawan dekatku. Maylia namanya. Dia merupakan founder dari Indonesia Writing Edu Center (IWEC) .  Usahanya berawal dari pilihannya untuk mengajar anaknya sendiri sesuai dengan minat dan bakat yang sudah digali sejak dini. Hipotesanya sewaktu akan memasukkan anakknya ke sekolah adalah, apakah biaya sekolah semahal itu bisa menjamin kualitas anakku mulai dari ahlak, kretivitas, dan otaknya? Apakah dirinya sebagai Ibu yang sekolah perlu sekali bantuan sekolah untuk mendidik anaknya sendiri?

Akhinya Maylia memutuskan untuk menggunakan metode homeschooling kepada tiga orang anaknya. Sebagian besar memang dia yang mengajarkan. Tapi untuk bidang yang tidak dia kuasai, tetap dia fasilitasi guru untuk mengajari. Contohnya anak keduanya yang begitu minat dengan fashion. Karena Maylia tidak mendalami bidang itu, akhirnya di usia 8 tahun anak keduanya itu menjadi murid termuda di salah satu sekolah fashion di Jakarta.

Ya, banyak dari kita yang mencari ilmu, sekolah tinggi bukan untuk project dunia akhirat yaitu berkeluarga tapi untuk project dunia saja yaitu bekerja mengumpulkan materi yang tiada cukupnya kalau terus dikerjar. Tapi memang tidak semua orang punya pola pikir seperti Maylia. Masih banyak diantara kita yang ragu akan kemampuan kita mendidik anak sehingga menitipkan anak pada sekolah. Tapi masalahnya, kita terlalu pasrah pada sekolah. Alangkah baiknya, jika kita juga sama-sama belajar bersama sekolah untuk memahami anak agar kebutuhannya dalam pendidikan dapat terpenuhi sehingga dapat memberi manfaat yang lebih baik untuk Indonesia kedepannya.

Pemaham seperti inilah yang seharusnya diluruskan pada waktu prakeluarga atau pranikah. Kenapa? Agar kita paham tujuan dari setiap peran yang kita emban. Tujuan bekerja tidak hanya sekedar mencari uang untuk anak sekolah saja. Memberi contoh kepada anak-anak bagaimana menjadi orang yang bemranfaat dengan bekerja menjadi tujuan yang lebih mulia.

 

Selesai Denga Diri Sendiri Adalah Kunci

Ini sudah pernah aku bahas di postingan sebelumnya. Intinya, memahami diri sendiri adalah bekal kita untuk memahami pasangan kita. Jangan minta pasangan memahami kita kalau kita sendiri aja belum bisa pahami diri kita sendiri. Hubungan yang baik dengan pasangan dimulai dari hubungan baik kita dengan diri sendiri.

Tentang ini menurutku juga perlu dibahas saat pranikah atau pra berkeluarga. Pembahasannya harus benar-benar tuntas. Banyak sekekelingku yang aku temui, mereka menikah karena usia, karena sudha didesak tapi mereka belum paham tujuan hidup mereka sendiri itu apa. Dan apa-apa lain yang belum terkejar dan belum diiklaskan. Masalah hati harus tuntas sampai akar-akarnya. Selengkapnya, simak tulisan berikut.

 

Cinta itu Butuh Dibina

Beberapa hari yang lalu, waktu pillow talk sama Ayahnya Adna, dia bilang, “ternyata emang nggak banyak orang yang paham bagaimana hubungan cinta seharusnya.”

“Maksudnya?” tanya saya balik.

“Ya, banya orang nggak paham kalau cinta itu ada ilmunya. Menjalin hubungan apalagi pernikahan itu nggak bisa sembarangan.”

Alhamdulillah suamiku paham. Aku sepakat sejak sebelum menikah dengan pendapatnya soal esensi dari pernikahan. Klise kalau cuma bilang ibadah. Ibarat sholat rasanya hambar kalau kita nggak paham makna sholat. Seperti zakat rasanya berat kalau kita nggak tahu essnsi dari zakat. Bagaikan haji cuma sekedar angan kalau kita nggak paham maknanya. Begitu juga, kalau syahadat yang cuma diucap kalau kita nggak tahu filosofinya. Menikah tidak hanya untuk memnuhi hasrat naluri ataupaun kehidupan sosial, menikah juga rasanya hambar tanpa cinta yang harus terus dibina.

Membinanya juga butuh ilmu. Ibarat tanaman, akan mati jika tidak dipupuk dan disiram. Sama halnya cinta. Kita juga harus belajar cara memupuk dan menyiram agar pas. Tidak kelebihan dan kekurangan.

 

Jadi, Bagaimana Sudah Siapkah Kamu Untuk Menikah? Kalau Belum, Pelajari Ilmunya Dari Sekarang.

Menurutku, memang lebih baik cari ilmunya dulu daripada cari jodohnya dulu. Kita hanya akan tahu apa yang akan kita butuhkan saat menikah nanti kalau kita paham kekurangan dan kelebihan kita seperti apa. Dari situlah kita bisa menilai yakin atau tidak yakin kepada calon pasangan kita. Kalau yakin, rasanya akan seperti puzzle yang kalau diutak-ataik, bagaimanapun juga, pasnya begitu. Jadi, sudahkah kamu belajar tentang ilmu menikah sebelum menikah?

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top