Tidak Hanya Lelaki, Perempuan Juga Bisa Memilih Pasangannya Sendiri

Menurutku, kebahagiaan sebuah pernikahan itu dimulai dari cara kita memilih pasangan kita untuk selamanya. – jihanfauziah.com

Pertengahan tahun 2019 ini, Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk mengisi acara tentang perempuan berkarir dan berumah tangga yang mayoritas pendengarnya adalah kalangan muda. Senang sekali tentunya, karena biasanya saya lebih sering menampung energi negatif dari orang-orang yang ingin bercerai tapi kali ini, justru menguatkan energi positif untuk membentuk keluarga yang bahagia demi generasi yang bahagia pula.

Banyak yang bingung bagaimana caranya membagi tugas rumah tangga jika perempuan bekerja. Ada pula yang bingung, bagaimana mendapat restu suami agar boleh bekerja. Sebelumnya saya sudah menulis alangkah baiknya, kita menemukan siapa diri kita sebelum memutuskan maju ke jenjang pernikahan. Lebih baik lagi, jika kita sudah paham tentang diri kita, sebelum memilih pasangan.

 

Begini Cara Saya

Dalam tulisan ini, saya akan berbagi bagaimana saya sebagai perempuan memilih pasangan. Tentu cara ini bukan cara yang terbaik. Karena setiap orang punya caranya sendiri. Setidaknya ini bisa dijadikan refrensi untuk anak-anak muda yang sedang resah dan gelisah menanti.

 

Tentukan Kriteria

Menurutku, boleh saja perempuan menentukan kriteria asalkan memang sesuai dengan dirinya dan tidak mengada-ada. Maksudnya, akuilah kekuranganmu terlebih dahulu. Jangan menarget bisa menikah dengan oppa-oppa Korea kalau ke Korea saja tidak pernah. Bahkan tidak kenal sama sekali dengan Bahasa Korea ataupun Bahasa Inggris. Susah ya, kan? Kriteria ini akan memudahkanmu menyeleksi calon pasangan agar sesuai dengan dirimu. Kalau nanti nggak laku karena terlalu jadi pemilih bagaimana? Ya, makannya pilih yang sesuai dengan keadaanmu. makannya, mengenali dirimu sendiri terlebih dahulu sangat penting.

Aku sendiri menentukan kriteria pasanganku juga kusesuaikan dengan kemampuanku. Pertama, dia bersedia tinggal di Madiun atau kalau pekerjaannya pindah-pindah setidaknya menetapkan Kota Madiun sebagai kota untuk pulang. Kedua, dia tidak sedang punya utang atau angsuran sekalipun punya, aku sanggup membantu melunasinya sampai hidup bersama bersedia tidak utang dan kredit. Ketiga, dia paham konsekuensi bahwa aku ini sandwich generation dan si calon tidak termasuk dalam sandwich generation. Keempat, bersedia kalau pengasuhan anak sepenuhnya di bawah kendali kami berdua sebagai pasangan tanpa ada campur tangan dari orang tua masing-masing. Kelima, mengizinkan saya bekerja dan sekolah lagi suatu hari nanti.

 

Pahami Gaya Komunikasinya

Gaya komunikasi memang akan terus bertumbuh seiring dengan waktu. Ketika kita membina rumah tangga, sama halnya dengan kita membina komunikasi. Komunikasi itulah yang akan membentuk masing-massing pasangan untuk tumbuh.

Bagiku, menikah itu membutuhkan energi sabar dan iklas yang luar biasa. Apalagi setelah mempunyai anak. Makannya, mencari pasangan yang tidak perlu membuang banyak energi untuk bicara dengannya itu perlu. Misalnya, tanpa berdebat panjang kali lebar kita sudah nyambung. Cara komunikasi yang selalu klik menurutku yang akan membuat perjalanan rumah tangga menjadi ringan meskipun banyak ujian yang menghadang.

Memahami komunikasi tentu tidak sehari dua hari namun setidaknya cukup untuk diri kita yakin bahwa cara komunikasi seperti ini yang akan membuat kita nyaman berumah tangga. Kalau aku sendiri, triknya sederhana. Pastikan kita sudah jujur dengan diri kita sendiri dengan begitu kita mudah menyeleksi mana orang yang jujur mana yang banyak membual.

 

Kenali Keluarga Intinya

Kita memang menikah dengan calon pasangan kita. Tapi mengenal keluarga inti sebelum berkata iya adalah suatu yang penting. Setidaknya kita tahu pasangan kita berasal dari keluarga yang seperti apa sehingga membawa pola pikirnya yang seperti apa. Kira-kira cocok tidak sama kita. Apakah keluarga intinya tipe yang akan terus menjaga anak kesayangannya dengan ikut campur dalam rumah tangga kita? Apakah calon suami kita memang dari keluarga yang baik-baik? Sebagai sandwich generation, aku memilih pasangan yang keluarga intinya bisa mandiri tanpa bantuan kami.

 

Bicarakan Semuanya Sebelum Pernikahan

Setelah poin satu, dua, dan tiga sudah dilaksanakan, sebelum berkata ya, pada pasangan, pastikan semua sudah dibicarakan. Mulai soal keuangan saat itu hingga bagaimana mengelola keuangan kedepannya. Mau tinggal dimana. Target-target apa saja yang harus dikejar bersama. Apa visi misi yang akan dibina dalam keluarga. Semua harus dibicarakan di awal. Bukan melulu membicarakan pestanya di gedung apa, berapa undangannya, pakai MUA mana dan lain sebagainya. Hal yang esensial harus terlebih dahulu dibahas agar tidak menimbulkan kekecewaan di belakang.

 

Pergi atau Tetap Bertahan adalah Keputusan

Kalau semua sudah dilakukan, pastikan hati klik dengan calon pasangan. Begitu sebaliknya. Memang setelah kita menentukan kriteria akan ada hal-hal yang dinegosiasi. Apakah kita akan toleran atau tetap dengan kriteria kita? Itu hak kita sebagai perempuan untuk memilih. Pilihlah dengan kewarasan dan kesadaran yang penuh agar tidak menyesal kemudian. Kalau memilih pergi, bagaimana nanti kalau dianggap menyia-nyiakan yang sudah datang mau melamar? Menyia-nyiakan itu, kalau kitanya klik, tapi malah di PHP, diberi tantangan berlebih.

Karena pencarian ini, bukan seperti mencari pacar ketika SMA yang kalau udah sayang masih aja diberi ujian. Kalau cocoknya pergi baru menyesal. Sebagai manusia quarter yang seharusnya sudah dewasa, kita pasti paham mana yang layak dipertahankan mana yang harus direlakan untuk kebahagiaan kita sendiri seterusnya seumur hidup nanti. Karena, meskipun sudah menikah kebahagiaan itu bukan ditentukan oleh pasangan. Tapi oleh diri sendiri. Jadi, mulailah dengan menentukan pasangan sendiri.

 

Cerita Dibalik Suami Memilih Saya

Saya bertemu suami saya di tempat kerja. Waktu saya, masih jadi reporter di salah satu stasiun TV lokal swasta. Suami saya editornya. Usut punya usut, suami saya sudah lima tahun bekerja disitu dan selama itu, tidak ada yang tahu masalah asmaranya. Biarpun reporter di kantornya selalu gonta-ganti, katanya tidak ada satupun yang bisa menarik hati suami saya kecuali saya.

Ternyata, dia sudah menentukan kriterianya dari awal. Tidak punya adik atau saudara yang banyak dan harus dihidupi maksimal, bisa diajak kerja sama dalam menyusun anggaran dasar rumah tangga, dan solutif dalam menghadapi masalahnya. Katanya begitu. Selebihnya katanya bonus. Ketika saya bicarakan tentang kriteria saya, diapun menyanggupi asal semua permasalahan bisa dibicarakan dan dicari solusinya bersama.

Sebagai perempuan, bukan berarti kita harus selalu bergentung pada lelaki. Konteksnya tidak hanya ekonomi. Tapi juga soal pemikiran, ataupun ide-ide dalam mencari solusi untuk permasalahan yang dialami. Suamiku memandangku mampu. Sehingga dia lanjutkan pada jenjang berikutnya. Setelah beberapa kali kencan, setiap hari bertemu di kantor, dua kali bertatap dengan keluarganya, akhirnya saya bersedia menikah dengannya.

Cara dia menyeleksi membuat saya bangga karena menjadi perempuan terpilih. Begitupun cara saya menyeleksi membuatnya bangga menjadi lelaki terpilih. Bukannya akan lebih mudah membina hubungan jika sama-sama dipilih dan memilih?

 

Kesimpulan

Keputusan untuk menikah itu bukan keputusan sehari semalam. Mempersiapkan diri untuk bertemu pasangan yang sesuai juga butuh proses. Saya lulus kuliah tahun 2015. Belum berpikir untuk menikah. Mulai tegerak untuk menikah pada tahun 2016. Memahami bahwa diri ini membutuhkan kriteria yang seperti apa menyadarinya di tahun 2017. Bertemu calon pasangan dengan kriteria yang pas di tahun 2018. Dan saat itu juga kami menikah.

Cara yang aku bagikan ini belum tentu cocok untuk kawan-kawan single sekalian. Paling tidak, aku berikan gambaran. Bahwa pemilihan calon pasangan itu akan menentukan hidupmu ke depan. Jangan takut untuk memilih. Lebih baik jomblo di sebelum menikah daripada jomblo setelah menikah.

_______________________________________________________________

 

 

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top