Karena Pernikahan Itu, Dimulai Dari Selesai Dengan Diri Sendiri

Dua tahun sebelum menikah, saya sempat dilanda gelisah. Terlebih, saat saya diminta Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) untuk bertugas melayani masyarakat yang membutuhkan bantuan hukum di Pengadilan Agama Kota Madiun. Mengapa begitu? Karena banyak sekali perempuan-perempuan muda yang akan mengajukan perceraian dengan pasangannya.

Serambi saya mengetik surat gugatan yang sudah ada formatnya, saya biasa melakukan wawancara dengan mereka. Tidak jarang, setelah menanyakan soal kenapa memutuskan bercerai saya juga akan menanyakan, kenapa dulu bisa menikah? Jika memang hari ini merasa tidak cocok dengan pasangan, kenapa dulu menikah? Bagaimana perkenalannya? Bagaimana prosesnya sampai menikah?

Jawabannya pun beragam. Pada intinya, mereka kurang ilmu tentang pernikahan. Banyak diantaranya, berpikir bahwa pernikahan bisa berhasil hanya dengan dijalani saja. Bahkan tidak sedikit pula yang berharap bahwa pasangannya mampu memberikan jalan keluar dari masalah yang sedang dialami. Menurut saya pemikiran seperti itu harus diluruskan. Menikah itu butuh ilmu untuk bahagia. Tidak bisa hanya dijalani saja. Pernikahan juga bukan pelarian ataupun jalan keluar dari masalah yang sedang kita alami.

 

Ini Hanya Opini

Dari permasalahan di atas, akhirnya saya memiliki opini sendiri tentang idealnya sebuah pernikahan. Ditambah ilmu yang saya dapat dari berkunjung ke sanak saudara seperti om dan tante yang rela membagikan cerita perjalanan tentang bagaimana mereka mengarungi samudra dengan angin kencang. Satu lagi, saya juga membaca buku pranikah sebelum suami melamar saya sebagai pasangan.

Ini hanya opini. Opini saya setelah melalui berbagai kontemplasi hingga akhirnya saya memutuskan untuk menikah karena kesadaran diri. Opini boleh jadi tidak benar atau salah tapi cocok atau tidak cocok dengan kehidupan yang kamu alami. Semoga bisa dijadikan refrensi.

 

Selesai Dengan Diri Sendiri

Mengatakan selesai dengan diri sendiri, bukan berati saya berhenti bermimpi. Saya masih bermimpi untuk melanjutkan S2, menerbitkan buku, dan membangun bisnis. Ternyata, masih banyak deretan mimpi yang belum saya capai. Saya memang tidak menentukan target harus mendapatkan mimpi-mimpi itu sebelum menikah. Apa artinya itu saya belum selesai dengan diri sendiri?

Selesai dengan diri sendiri saya artikan dengan menemukan kata cukup untuk memanjakan diri seperti puas untuk berlibur sendiri, puas dengan mencari pengalaman sendiri, dan berbagai kepuasan lain yang tentu setiap orang punya standar yang berbeda. Selesai dengan diri sendiri, menurut saya artinya kita mengenal diri sendiri dan mampu menerima kelebihan dan kekurangan diri. Selesai dengan diri sendiri juga saya artikan dengan sudah saatnya saya berbagi tanpa harap balas sama sekali.

 

Apa Tanda Selesai Dengan Diri Sendiri?

Manusia itu mahkluk yang kompleks. Setelah saya baca-baca, tidak ada ukuran secara teoritis untuk mengukur kapan seseorang selesai dengan diri sendiri. Saya mengibaratkan kata selesai dengan diri sendiri itu hampir sama dengan kata cukup. Cukup untuk menjalani sebagai diri sendiri yang paling nyaman untuk berbagi. Benar-benar menghapus ego dan siap bernegosiasi dengan orang lain untuk berbagi.

 

Mengapa Menikah Perlu Selesai dengan Diri Sendiri?

Bayangkan kalau kalian sudah merasa cukup dengan sepotong kue, relakah sepotongnya lagi kalian bagi dengan pasangan kalian? Tentu tanpa mengharap imbalan. Jika kalian masih sayang dengan sepotong kue itu, ya sudah tidak usah dibagikan. Karena pasti akan menyesal jika tidak mendapat balasan.

Menurutku menikah juga begitu. Ibarat kata, hari ini kita punya sesuatu, tidak harus dalam bentuk materi. Bisa juga kebahagiaan yang tidak terperi, mampukah kita rela berbagi?

Menikah itu kompleks. Kita tidak bisa menyalahkan pasangan atas konsekuensi dari pernikahan yang telah kita lakukan. Kita juga tidak bisa menuntut pasangan atas harapan-harapan yang belum bisa terkabulkan.

Dalam pernikahan, kita hanya bisa mencari solusi-solusi dari seluruh permasalahan yang sedang kita alami. Bukan lagi saya tapi kita. Masalah isteri menjadi masalah suami, masalah suami menjadi masalah isteri. Apalagi masalah anak. Jadi susah, jika kita belum selesai dengan masalah diri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top