Pekan ASI Sedunia, Begini Pengalamanku Meng-ASI-hi

Mengutip dari tirto.id, World Breastfeeding Week (WBW) atau Pekan ASI Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 1 – 7 Agustus. Peringatan ini dimaksudkan untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak atau bayi akan kebutuhan air susu ibu hingga berusia 24 bulan atau lebih. Tujuan globalnya, demi mengoptimalkan kesehatan gizi dan kesehatan ibu beserta anak.
 
Tahun ini, tema Pekan ASI dari WBW yaitu Empower Parents Enable Breastfeeding. Sedangkan tema nasional di Indonesia yaitu Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui, dengan slogan Ayo Dukung Ibu Menyusui.
 
Pekan ASI kali ini fokus pada kebijakan dan peraturan tentang perlindungan sosial orang tua; tempat kerja ramah orang tua dalam sektor formal dan informal; dan nilai-nilai ramah orang tua dan norma sosial kesetaraan gender.
 
Jujur aku baru tahu ada peringatan pekan ASI setelah menjadi Ibu menyusui. Sejak hamil, aku memang bertekat untuk menyusui Adna (anakku) sebisa mungkin selama 24 bulan. Aku pikir, memberi ASI itu gampang selama ada payudara. Ternyata tidak semudah itu di awal. Anakku sempat bingung puting. Alhamdulillahnya, nggak lama. Tapi tetap ada drama. Apa saja dramanya? Akan kuceritakan dimulai dari IMD.
 

IMD Inisiasi Menyusu Dini

Aku tahu kalau Inisiasi Menyusu Dini itu penting banget dari bidan di puskesmas dan juga youtube dr. Tiwi . Dari pengetahuan itu, aku jadi ketakutan melahirkan dengan caesar hanya karena takut melewatkan IMD. Membayangkan operasi, yang dikeruminin banyak orang, dan aku tidak bisa melihat langsung si bayi keluar, langsung di bawa pergi oleh perawat dan dipisahkan dariku. Benar-benar membuatku ketakutan untuk melahirkan caesar. 
 
Aku berusaha untuk bisa melahirkan normal. Ikhtiar dengan jalan-jalan dan makan makanan yang dianjurkan. Aku juga surve rumah sakit manapun yang pro ASI dan bisa melakukan Inisiasi Menyusu Dini meskipun bayi lahir caesar. Ternyata tidak ada tempat melahirkan yang buat aku klik setelah surve. Satu rumah sakit tidak aku surve karena pertama kali periksa hamil disana, dan pengalaman itu membuat saya memutuskan untuk tidak melahirkan disana.
 
Tapi, takdir berkata lain. Adna seolah memilih sendiri cara lahirnya. Dia lahir dengan operasi caesar di rumah sakit yang tidak aku surve itu. Alhamdulillahnya, ternyata disana ada IMD meskipun sebentar. Aku berhasil IMD sekitar 10 menitan. Memang jauh dari standar yang mengatakan IMD itu sekitar 30 menitan atau lebih lama lebih baik. Ah, 10 menit saja bisa bikin aku beryukur karena aku dengar dari kakak iparku, tempat dia meliharkan tidak ada yang namanya IMD.

 

Rasanya Senang, Saat Pertama Dia Menyusu 

Selesai operasi, ternyata aku tidak langsung dipindahkan di kamar rawat inap. Aku didiamkan di ruang pemulihan dulu, sampai hampir tujuh jam. Ketika rasa sakit bekas operasi terasa, bersamaan dengan perasaan yang begitu rindu saat bayi dan ibu dipisahkan.

Sampai akhirnya, saya dikeluarkan dari ruang pemulihan dan bertemu dengan bayi yang baru saja saya lahirkan. Alhamdulillah, dia pintar sekali dalam menyusu. Gerak mulutnya begitu indah saat menempel di payudara saya. Dan senang sekali rasanya saya bisa mendekapnya begitu dekat. Sakit pasca operasi sirna sudah diganti rasa bahagia yang diciptakan dari gerak mulut bayiku saat menyusu.

Sayangnya, akunya yang bodoh. Iya, bayiku pintar tapi Ibunya rupanya kurang belajar. Bayiku sebenarnya tidak bingung puting. Aku yang tidak bisa menggendong dengan pas, juga tidak bisa merekatkan dengan pas. Alhasil, waktu mau nyusu harus dibantu perawat untuk memasukkan putingku ke mulutnya. Kalau si bayi tidak juga mendapat putingku, dia akan rewel dan nangis kejer. Itu yang bikin aku dan ayahnya panik karena baru anak pertama.

 

Drama Itu, Seolah Menggambarkan Hidup Ini Tidak Boleh Terlalu Bahagia

 Apakah menyusuiku terbilang sempurna? Saya katakan, tidak. Hari kedua di rumah sakit. Suamiku sudah lelah di hari pertama karena setiap kali bayi rewel dia bingung menyikapi sedangkan akunya tidak bisa berbuat banyak pasca operasi. 

Aku tahu, suamiku sudah berjuang eksta. Berjuang melebihi batas kemampuannya di malam pertama bersama aku dan anakku bertiga. Dia belajar menggantikan diapres saat bayi buang air besar, dia mengambilkanku air minum saat aku tidak bisa menjangkaunya, dia yang menyuapiku karena infus di tanganku membuatku sulit makan sendiri. Dia yang menggendong bayi mungilku kala rewel dan mendekatkannya padaku kala bayi ingin menyusu. Suamiku sungguh-sungguh sudah berjuang, mewujudkan impianku memberikan ASI eksklusif dua tahun.

Hingga dia lelah di malam kedua, dan meminta Ibunya untuk membantu menjagaku dan si bayi. Bayiku panas di suhu 38 derajat celcius. Suamiku tidak ada di sampingku. Perawat mengusulkan agar aku memberi bayiku susu formula. Seketika hatiku runtuh. Apa tidak ada jalan lain? Mertuaku mendesakku untuk mengiyakan dengan alasan kasian bayiku. 

Detik itu, aku tiak bisa berkutik. Bodohnya aku, tidak membawa termometer dan alat pumping. Benar-benaar aku yang bodoh. Aku sebanrnya yakin, ASIku keluar. Tapi perawat bilang, ini butu segera dan produksi ASIku masih sedikit. Benar-benar aku jadi Ibu yang nggak berdaya dan aku relakan anakku minum susu formula. Sejak itu, dia tidak rewel dan langsung tidur pulas.

Aku menangis. Menangis karena kebodohanku. Mertuaku mungkin berpikir aku berlebihan. Kakak-kakak iparku hampir semuanya memberikan susu formula di waktu bayi. Aku mengelak, bahwa aku jangan disamakan dengan anak-anaknya. Aku punya cara sendiri untuk anakku. Dan kini, aku sudah merasa runtuh ketika harus memberikan susu formula pada anakku.

 

Tidak Ada Lagi Susu Formula

20 ml susu formula berhassil masuk tubuh Adna. Esok harinya, aku menolak pemberian susu formula ini berlanjut. Hari ketiga di rumah sakit, Ibuku datang dan mengajariku bagaimana melekatkan mulut bayi pada puting. Alhamdulillah sejak itu menyusuiku lancar.          

Suamiku memang kelelahan pada waktu itu. Aku menyebutnya, mungkin dia terserang baby blues. I know, dari awal mau melahirkan, dia udah jaga gawang paling depan. Wira wiri ngurus ini itu sampai keringetan. Dia lelah, dan aku tak akan menyalahkannya.

Sudah aku hentikan drama pemberian susu formula sampai sini. Adna memang bisa tidur pules setelah minum susu formula. Dia kenyangan. Tindakan yang aku lakukan, langsung memompa ASI-ku. Alhamdulillah hasilnya lumayan. Bisa aku berikan selagi aku belum pintar menyusui. Aku tidak putus asa untuk belajar. Sampai akhirnya, menyusuiku berjalan lancar dan menyenagkan. ASIku melimpah. ASIPku juga banyak karena di awal, air susuku sampai merembas di baju. Begitu melimpah sampai kualahan.

 

ASIP Basi

Ternyata, yang keluar banyak-banyak sampai berlimpah itu bukan rejekinya Adna. Bodonya aku lagi, kurangnya pengetahuan tentang ASIP, membuatku salah dalam melakukan penyimpanan. Aku simpan ASI di kulkas biasa. Itu cuma awet dua minggu dan aku luput akan hal itu. Terpaksa, aku buang. Bukan berarti ASIku sangat melimpah. Tapi kali ini aku takut justru membahayakan.

 

ASI Cukup

Sejak itu, aku jareng berdoa ASI melimpah. Aku lebih banyak berdoa ASI untuk Adna cukup sampai usianya 2 tahun. Dan ya, ASIku tidak pernah melimpah lagi. Bisa dikatakan, produksinya menurun. Tapi tidak pernah kurang. Adna selalu menyusu dalam waktu yang lama. Pernah hampir dua jam dia nyusu sampai kekanyangan dan tidur pules.

Aku tidak  rutin pumping sekarang. Karena mobilitasku di luar tidak sebanyak dulu. Sekarang prioritasku Adna. Aku pumping kalau-kalau mau keluar rumah saja. Kencan sama Ayahnya misalnya. Juga kalau ada sidang.

 

Adna Menolak ASIP

Adna sekarang (saat aku menulis artikel ini) berusia 3 bulan lebih 1 minggu. Tidak lama saat terakhir aku pergi tanpa dia. Sekitar hampir 6 jam, aku titipkan Adna pada Ibuku. Katanya dia tidak mau minum sama sekali. Awalnya memang rada susah Adna minum ASIP. Dia baru mau kalau benar-banar lapar. Kalau hampir 6 jam, menurutku itu namanya dia menahan lapar. Karena biasanya, Adna menyusu setiap 3 sampai 4 jam sekali.

Aku bingung juga harus senang atau sedih. Ya tentu senang karena dengan begitu produksi ASIku akan terus berjalan. Karena hukum ASI, semakin banyak permintaan juga samakin banyak produksinya. Linierlah, antara permintaan dan produksi. Kalau ada permintaan terus kan otomatis lancar produksinya.

Tapi sedihnya, ya tentu aku harus banyak ada di rumah sampai memungkinkan Adna bisa ikut kalau aku sidang atau acara di luar. Kenapa aku tidak nekat saj ajak dia? Adna ini kan masih 3 bulan. Dia punya jam tidur yang agak lama dan nggak bisa diganggu. Kalau pun tidur di jalan Adna lebih banyak rewel.

Nggak ada yang bisa menahanku untuk tetap diam di rumah kecuali Adna. Setiap kali ada peretemuan di luar rumah atau acara di luar rumah, aku timbang-timbang dulu. Apa dampaknya buatku dan keluarga terutama Adna jika aku penuhi pertemuan-pertemuan itu. Bertemu klien pun, sekarang aku minta di rumah saja.

 

Konspirasi Dibalik Susu Formula

Kali ini aku tidak berniat menjatuhkan siapapun. Tapi semoga, kita semua punya kesadaran hati untuk mendukung Ibu menyusui. Aku belajar mengiklaskan momen dimana susu formula masuk dalam tubuh Adna.

Kebetulan aku punya klien seorang dokter. “Alah mbak, kok kamu. Saya aja yang dokter nih, ditawarin pakai susu apa. Ya aku jawab, ya aku susui sendiri lah,” kata dokter itu. Beliau juga menambahkan, kadang memang susu formula itu angin surga buat tenaga medis. Artinya, jika tenaga medis berhasil membantu industri untuk menjualkan susu formula, tentu ada kompensasi sendiri.

Hatiku lagi-lagi runtuh. Masak sih, sejahat itu. Kata dokter itu lagi, “seharusnya kalau anak panas ya skin to skin aja.” Diminumin terus. Kalau ASI belum keluar, pasti lama-lama keluar karena disusu terus. “Lagi pula, bayinya panas kan, bukan lapar. Bayi baru lahir itu bisa bertahan sampai 78 jam meski tidak diberi ASI. Dia masih membawa makanan dari kandungan,” tambah dokter itu.

Seketika itu juga, aku jadi mikir buat nanti S2 aku mau ambil fokus hukum kesehatan.

 

Hikmah Dibalik Pemberian Susu Formula

Mungkin, Allah merenggakan hatiku dan kondisi yang tidak bisa aku kendali sehingga susu formula masuk ke dalam tubuh Adna meskipun hanya 20an ml. Hikmahnya agar aku tidak sombong menjadi Ibu. Agar aku bisa berempati pada Ibu yang kesulitan memberikan ASI. Aku yakin, mereka sebenarnya juga ingin memberi ASI yang terbaik bagi anaknya.

Ketidak berhasilan Ibu dalam memberi ASI bukan hanya karena kurangnya kemauan Ibu. Terkadang ada kondisi dimana lingkungan untuk memberikan ASI eksklusif tidak mendukung. Misalnya, Ibu pekerja yang di kantornya tidak ada tempat untuk memompa ASI. Faktor pengetahun Ibu juga perbengaruh dalam mengASIhi

 

Terimakasih, Untuk Ayah Adna yang Selalu Mendukung

Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui adalah tema Pekan ASI Nasional 2019, tahun ini. Aku beterimakasih sekali Ayah Adna benar-benar mendukungku untuk mengASIhi. Dengan membebaskan bekerja atau tidak, aku memilih bekerja dari rumah. Ayah Adna yang turut melakukan pekerjaan rumah agar Ibu punya waktu istirahat setelah mengASIhi. Apa yang dilakukan Ayah Adna, aku Ibunya Adna sangat beterimakasih. Semoga kita bisa memberikan ASI eksklusif sampai Adna usia 2 tahun.

 

Menyusui itu menyenagkan karena dengan cinta kita melakukan. Kalau masih kesulitan, ayo perkaya pengetahuan.

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Jihan FauziahJuliapasca Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Juliapasca
Guest

Baru tahu mb ada pekan ASI🤭
Hallo adna sayang, salam kenal dari bulek🙏

Go Top