Buka Cerita, Buka Mata Ada Kebaikan Satu Tetes Insto Dry Eyes!

Buka mata di pagi hari. Jam dinding berdetak tiada henti. Memacu kita untuk segera pergi menjemput rezeki. Menembus jalanan yang penuh polusi. Setumpuk tugas pun menanti. Saatnya menatap layar laptop dengan cermat dan teliti. Seharian mata dipacu untuk bekerja seakan takpeduli akan keajaiban-Nya. Sampai tiba malam hari kita menutup mata, berapa banyak yang kita lewatkan karena terlalu sibuk bekerja? Matapun seketika terasa pegal, perih, dan sepet. Gejala mata kering melanda. Apa yang kita lakukan sebaiknya? Tutp layar, buka mata, dan selesaikan, temukan kebaikan saat kamu melihat dunia dengan cara berbeda.

 

Buka Cerita…

Ini bukan cerita perjalanan menuju kesuksesan. Ini adalah cerita pahit manis kehidupan. Dari buka mata, segudang rutinitas mengancam mata.

Berawal dari kisah saat SMA. Di masa inilah aku mulai berproses untuk menemukan diriku yang sebenarnya. Apapun kegiatan yang aku suka, aku lakukan tanpa berpikir apa yang aku dapat di masa selanjutnya. Nothing to lose, semboyan itu yang aku pegang waktu itu. Mengerjakan tugas tanpa mengharap imbalan. Mengerjakan tugas karena senang.

Aku paling suka kegiatan jurnalis dan tulis menulis waktu itu. Selain anggota ekskul majalah dinding, aku juga menjadi jurnalis remaja di rubrik Ekspresi Muda Radar Madiun. Kegemaran pada kegiatanku tersebut, membuatku tidak tidur sampai tengah malam. Belum lagi kalau ada tugas sekolah yang harus aku selesaikan. Tidak jarang esoknya tugas tersebut dipresentasikan dengan power point. Demi tampilan presentasi yang  kece, kembali begadang rela dilakukan. Oh, ya sekolahku ini jam belajarnya mulai pukul 07.30 sampai 16.00. Seharian aku menatap buku, laptop dan papan tulis.

Waktu itu tahun 2008. Aku juga sudah mulai menulis blog yang berisi curhatan anak ingusan. Sayang, karena malu membacanya aku pilih untuk hapus saja. Sekarang baru sadar hal yang memalukan pun, bisa jadi aset di masa depan. Meskipun begitu, aku anggap prosesku tidak pernah sia-sia. Dari menulis baik di blog maupun media lainnya, aku jadi mendapat lebih banyak teman dan pengalaman.

Sampai akhirnya, aku menyadari otot-otot di sekitar mata terasa kaku terasa kaku. Bahkan sampai pusing dan sesekali pandangan buram kemudian kembali terang setelah mata aku kedip-kedipkan.  Gejala ini tidak aku rasakan sekali dua kali. Beberapa kali, yang membuatku berpikir kalau mataku mulai minus.

Aku putuskan pergi ke dokter mata untuk memeriksanya. Usai pemeriksaan, ternyata dokter bisa menebak bagaimana aku menjalani hari dengan segudang aktifitas tanpa henti. Aku pun membenarkan analisa dokter tersebut. Ternyata mataku tidak mengalami minus. Kata dokter, ini merupakan tanda penyakit mata kering. Dokter pun memintaku untuk istirahat dan menjaga mata agar tetap lembab.

 

Mata kering, bukan alasan berhenti berkarya. Karena hasil konsistensi masih menanti di depan sana. Aku biarkan juga, ketulusan membawaku pada letupan kehidupan.

Tamat SMA, aku tidak berhenti menuang rasa dalam kumpulan kata. Aku tetap menulis. Bahkan semakin rajin mengikuti lomba-lomba penulisan. Proses yang aku jalani saat SMA, sangat bermanfaat untuk menambah uang saku di masa kuliah. Hingga tamat kulaih, portfolio yang aku kumpulkan sejak SMA, membawaku berada di ruang redaksi Tempo Biro Surabaya. Saat itu tahun 2015. Aku wawancara dan ditrima sebagai kontributor bidang hukum.

Menjadi wartawan tentu aku harus sadar konsekuensi selain harus menatap layar berjam-jam, aku juga harus siap mengitari jalanan. Demi memburu berita, menembus macetnya Surabaya dan polusi yang yang mencemari udara. Rasa panas pun juga turut menembus ubun-ubun kepala.

Kalau teman pembaca paham wilayah Surabaya, sedikit aku gambarkan rute perjalananku, mulai dari Kos yang juga bersebelahan dengan Kantor Tempo Biro Surabaya. Lokasinya di wilayah Gubeng Kertajaya tidak jauh dari Universitas Airlangga Kampus B ataupun A. Setiap hari, perjalananku dimulai dari situ.

Pos wajibku, ada di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Lokasinya ada di daerah Juanda, jalanan menuju Bandara Juanda. Pos kedua yaitu Polda Jawa Timur dan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang lokasinya di Jl. Ahmad Yani. Pos berikutnya di Pengadilan Negeri Surabaya lokasinya di Jl. Arjuna. Tidak jarang redaktur memintaku pergi ke Kantor Kejaksaan Negeri Kota Surabaya yang lokasinya di Sukomanunggal. Dalam satu hari, aku bisa berada di dua sampai tiga pos untuk memburu berita. Belum lagi, jika ada kasus dadakan seperti kecelakaan. Aku juga pernah ikut konfrensi pers yang diadakan pengacara La Nyalla Mattaliti pada kasus Korupsi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) di kantor daerah Dukuhpakis.

Demi materi dan cita-cita, mata harus tetap prima. Tapi apa daya, mata kering selalu siap melanda. Apalagi pekerjaanku waktu itu, tidak hanya menuntutku untuk siaga di depan layar saja. Tetapi juga siap berkeliling memburu berita, menembus debu dan polusi udara. Aku tidak akan membiarkan mata kering dan menghalangi aktifitas sebagai kuli tinta.

 

Ada kalanya, kita bimbang dalam menjalani cerita kehidupan. Percaya saja, satu keputusan akan membawamu pada cerita yang tertebayang sebelumnya.

Pertempuran batin pernah melanda hati ini. Antara tetap bekerja sebagai wartwan atau memilih profesi pengacara sempat jadi dilema. Sampai aku ada pada di satu titik mempertanyakan makna. Apa yang aku cari dalam hidup sebenarnya. Detik itu aku berhenti menulis karena tulisanku kehilangan nyawa. Aku mulai masuk dunia pengacara hanya untuk cari materi saja. Lama-lama jenuh juga. Aku ingin kembali menjalani hidup yang penuh makna.

Tahun ini, 2019, kucoba mengawali kembali. Tentu sekarang ini, tidak lepas dari dukungan suami yang menuntunku membuka mata kembali, untu berkarya lagi. Jari jemari kini bergoyang di atas keyboard dengan mata berseri menatap layar laptop. Kata demi kata tersusun rapi dalam sebuah blog. Blog inilah, langkah awalku kembali menemui diriku.

Hadirnya sang buah hati mampu memberi warna berbeda. Dia tidak menghentikanku berkarya. Sekalipun lebih menguras waktu dan tenaga. Justru inspirasi datang karena hadirnya. Kini, aku kembali mengerjakan semuanya dengan nothing to lose. Bukan berarti aku tidak butuh bayaran. Tapi lebih kepada pekerjaan ini yang aku lakukan tanpa beban.  Mungkin, istilah kerennya passion. Jika aku mau jujur, inilah yang aku impikan. Menjadi seorang ibu, dan tetap bisa berkarya sekalipun dari rumah saja.

Satu cita-cita yang belum menjadi nyata, aku ingin menulis buku yang bisa kuwariskan untuk Inara Adna. Putri kecilku tercinta. Untuk mewujudkannya, tentu aku harus membagi waktu. Dan yang paling efektif itu waktu malam hari. Ketika putriku tidur aku sibuk di depan layar laptop. Aku baru ikut tidur ketika dia tidur siang.

Tentu saja aktifitasku di luar rumah berkurang sejak memiliki momongan. Tapi bukan berarti ancaman mata kering hilang. Aku jadi lebih sering belanja online. Karena sekarang rumah tidak menghilangkan gerah, duduk di ruang ber-AC menjadi langganan. Akhirnya berujung lagi pada mata terasa tidak nyaman. Terkadang seperti lengket saat dibuka. Setelah dikedip-kedipkan rasanya mata sepet. Dan ternyata ini, juga termasuk gejala mata kering.

  •  

 

Mata Kering

Sebelum aku melanjutkan cerita pengalamanku di atas, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan gejala mata kering. Menurut satu artikel kesehatan, mata kering merupakan gangguan mata karena mata tidak mendapatkan pelumas yang memadai dari air mata. Nama lain dari penyakit mata kering adalah keratoconjunctivitis sicca. 

Mata kering bisa juga karena mata lelah akibat terlalu fokus di depan layar ponsel ataupun laptop, sering berada di ruang ber-AC, kurang istirahat, dan sering beraktifitas di luar ruangan sehingg mata sering kali terkena debu dan polusi udara. Persis dengan pengalaman yang sudah aku tuliskan.

Dokumen insto.co.id

Gejala awal mata kering ditandai dengan mata perih, terasa gatal, warna merah, seperti kemasukan pasir, penglihatan menjadi kabur, serta berair. Bisa juga ditandai dengan mata pegal yaitu mata lelah, adanya perbedaan ketajaman penglihatan yang signifikan antara mata kiri dan mata kanan, radang, serta bisa juga kesalahan koreksi lensa kaca mata. Terakhir bisa karena mata sepet yaitu mata kan terasa lengket saat berkedip. Biasanya karena terlalu lama di ruang ber-AC atau terlalu lama menatap layar laptop. Intinya mata lelah. Tentu gejala ini akan menggangu kegiatan sehari-hari. Rasanya tidak nyaman.

 

Waspada Mata Kering

Penyakit mata kering tidak hanya menyerang orang dewasa saja. Anak-anak ataupun remaja juga punya potensi terserang penyakit mata kering. Belajar ataupun membaca buku terlalu lama juga bisa mengakibatkan gejala mata kering.

Perlu dipahami, bahwa kita tidak boleh mengabaikan gejala mata kering. Apalagi, potensi penderita mata kering di Indonesia sangat tinggi siering tingginya pengguna gadget di negara ini. Berikut data pengguna gadget di Indonesia:

 

Sumber : techinasia – https://www.techinasia.com/indonesia-web-mobile-statistics-we-are-socialdata pengguna gadget di Indonesia

Tentu saja, penggunaan gadget tersebut tidak lepas dari kebutuhan internet sehari-hari. Mulai dari pagi, mencari informasi dari media online ataupun menonton berita di TV. Bekerja seharian di kantor hingga mencari jalan alternatif untuk pulang agar terhindar dari kemacetan semua membutuhkan akses internet.

Berjam-jam menatap layar, seakan sudah biasa dan menjadi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. Pengguna Internet di Indonesia setiap tahunnya juga meningkat. Tentu saja, fenomena ini bisa meningkatkan potensi resiko penyakit mata kering. Berikut data pengguna internet di Indonesia.

Sumber : Techinasia – https://www.techinasia.com/indonesia-web-mobile-statistics-we-are-social – data pengguna internet di Indonesia

Jadi, pastikan teman pembaca dan keluarga terjaga dari ancaman penyakit mata kering. Jaga mata saat interaksi dengan gawai jangan sampai mata lelah. Sebab begitulah faktanya. Gadget saat ini memang memberikan banyak kemudahan dalam hidup kita. Jangan sampai karena mata kering jadi menghalangi aktifitas untuk berkarya dan bekerja.

Selain itu, menurut healt.detik orang di atas usia 40 tahun, khususnya wanita yang sudah menopause sebaiknya waspada juga terhadap penyakit mata kering. Bisa saja mata kering disebabkan kondisi autoimun berupa sindrom sjorgen yang tak bisa disepelekan. Jadi, kita harus waspada dan menjaga diri kita sendiri serta keluarga dari resiko gejala mata kering. Sebab bila dibiarkan, gejala mata kring dapat merambah pada penyakit mata kering, bahkan bisa sampai komplikasi mata kering. 

 

Komplikasi Mata Kering

Pada mata sehat, kornea selalu dialiri oleh air mata. Terutama saat mata berkedip. Kelenjar air mata berfungsi untuk memberi nutrisi pada sel kornea dan melindungi kornea dari bahaya lingkungan luar seperti kuman yang menimbulkan infeksi. Maka saat kelenjar air mata berkurang atau berhenti produksi, mengakibatkan permukaan luar mata yang berperan untuk meneruskan cahaya ke dalam mata menjadi terganggu. Sehingga mata terasa tidak nyaman.

Jika gejala mata kering dibiarkan berlarut-larut, maka bisa mengakibatkan penyakit mata kering bahkan sampai pada komplikasi mata kering. Komplikasi mata kering dapat meningkatkan terjadinya infeksi mata atapun kerusakan permukaan mata. Apalagi jika mata kering dibiarkan tanpa pengobatan, dapat memicu kerusakan permukaan kornea, luka terbuka pada kornea, serta gangguan penglihatan.

 

Solusi Mata Kering

Dokumen instodryeyeducation.com

Mata kering memang sulit kita hindari. Mau bagaimana lagi, tuntutan rutinitas yang tiada henti, memaksa mata terus menguras energi. Sejak dokter memberiku pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan mata, aku mulai waspada. Rutinitas mulai aku atur sedemikian rupa agar tidak terpaku pada paparan layar teknologi saja. Tapi bukan berarti, aku berhenti melakoni passion yang sudah aku pilih. Lima hal berikut bisa menjadi alternatif, bagaimana menghindari mata yang tiba-tiba pegal, sepet, dan perih :

 

Insto Dry Eyes, Kebaikan Cinta Untuk Mata

Catatan Vidio : Dokumen milik Insto

Insto Dry Eyes, satu-satunya obat tetes mata andalanku. Sejak bertemu dengan dokter mata waktu SMA, aku mulai menggunakan Insto Dry Eyes setiap kali aku merasa mata sepet, mata pegal, dan mata perih. Tidak lupa aku meneteskan Insto Dry Eyes di sela-sela aktifitas sekolahku agar terhindar dari mata kering.

Setelah berkeluarga, aku pun selalu menyediakan Insto Dry Eyes di rumah. Tidak hanya untuk diriku sendiri. Karena suamiku bekerja sebagai editor TV lokal yang juga selalu menatap layar komputer, dia pun juga membutuhkan tetesan dari Insto Dry Eyes.

 

Insto Dry Eyes Sebagai Produk Unggalan Siapa Saja

Sumber : Insto.co.id diolah sendiri jihanfauziah.com

Sebagai solusi mata kering, Insto Dry Eyes memang sudah berpengalaman semenjak aku kecil. Ayahku, yang juga seorang pengacara sering meneteskan obat tetes air mata ini kala setumpuk berkas melanda meja kerjanya. Kakekku, yang masih suka membaca di masa tuanya juga selalu sedia Insto Dry Eyes untuk menjaga matanya tetap segar. Tentu saja kebaikan Insto ini harus diwariskan pada generasi berikutnya. Aku sendiri, jadi tidak ragu menggunakan Insto Dry Eyes untuk mengatasi mata kering karena sebelumnya Ayah dan Kakek juga menggunakannya. Selain itu, Insto Dry Eyes juga punya keuunggulan sebagai berikut :

Solutif

Insto Dry Eyes memiliki kandungan zat aktif Hidroxyprophylmethyl selulose dan Benzalkonium Chloride yang mampu berperan sebagai pelumas air mata untuk dalam mengatasi gejala mata kering . Menurut salah satu artikel di internet, kandungan zat aktif di atas juga mampu membunuh bakteri untuk mencegah iritasi. Jadi, bisa dikatakan Insto Dry Eyes tidak hanya mengatasi gejala mata kering tetapi juga membantu mencegah iritasi. Dua manfaat dalam satu produk yang membuatku semakin jatuh cinta.
 
 

Mudah

Insto Dry Eyes begitu mudah didapat. Tidak hanya dijual di apotek-apotek terdekat, tetapi juga di mini market terdekat. Jadi tidak perlu khawatir kalau kehabisa Insto Dry Eyes di tengah perjalanan. Kita bisa mampir ke minimarket terdekat.

 

Praktis

Insto Dry Eyes tersedia dalam ukuran 7,5 ml. Begitu mungil sehingga praktis dibawa kemana-mana. Penggunaanya juga tidak ribet. Cukup teteskan 1 – 2 tetes Insto Dry Eyes pada mata setiap 3 kali dalam sehari.

 

Ekonomis

Tidak sampai Rp 15.000, solusi gejala mata kering bisa teratasi. Sebelum parah sampai membutuhkan operasi, obat tetes ini harus dimiliki. Bisa dibilang, Insto Dry Eyes ini bentuk cinta tanpa menguras kantong kita.

Halal

Sebagai kaum muslim, aku selalu hati-hati dalam menggunakan produk. Terutama terkait kehalalannya. Alhamdulillah, Insto Dry Eyes sudah mengantongi sertifikat MUI dengan nomer 00140094950419. Jadi aku tidak khawatir.

 

Teruji

Selain terbukti halal, penting bagiku untuk mengetahui uji klinis suatu produk kesetahan atau kecantikan. Aku pun lega, menegtahui Insto Dry Eyes sudah terdaftar di BPOM dengan nomer registrasi DTL1438202146A1.

 

Brand Terpercaya

Siapa sih dirimu? Pertanyaan itu membuatku sadar akan pentingnya pengakuan. Bagaimana Tuhan memandangmu, bagaimana dunia memanangmu, seolah bisa menjadi alasan kenapa hari ini kita tetap semangat membuka mata dan menjalani hari-hari dengan bahagia. Aku pun begitu. Lewat penghargaan yang pernah aku dapat, rasanya diri ini semakin yakin dengan kemampuan yang terus diuji sampai hari ini. Ya, penghargaan akan karya yang sudah kita buat memang penting. Bukan hanya sekedar untuk pengakuan tapi lebih kepada menguatkan keyakinan diri untuk melakukan yang terbaik kembali.

Itulah kenapa, keuunggulan brand yang bisa dipercaya menjadi pertimbanganku dalam menggunakan sebuah produk. Insto Dry Eyes sudah membuktikan mampu menjadi brand tetes mata nomor satu di Indonesia. Terbukti dengan berbagai penghargaan yang diraihnya. Tentu, dengan penghargaan itu Insto yang merupakan bagian dari brand PT PharmaHealt Care bersama group combiphar selalu mengupayakan yang terbaik untuk konsumennya.

 

Sumber : Insto.co.id disusun kembali oleh jihanfauziah.com

Buka Mata, Buka Insto

Cerita ini pun menemukan muaranya. Sederet proses yang aku lalui, ternyata membawaku pada satu kesimpulan bahwa kesuksesan sejati  adalah kebahagiaan yang berasal dari hati. Materi adalah bonus akan ketulusan yang kita beri setelah Tuhan memberikan kecukupan yang hakiki. Popularitas juga bukan untuk dipandang megah. Melainkan untuk penggugah. Agar kita semakin tanggung jawab dan amanah.

Kita bisa, terus bekerja tiada henti untuk mendapatkan kepuasan dunia dan memberikan yang terbaik untuk Sang Kuasa. Sayang, tubuh ini punya batasnaya. Tuhan juga ingin agar kita menjaga raga yang sudah diberikan-Nya. Termasuk mata. Ada waktunya kita untuk menutup mata dari rutinitas pekerjaan yang membuat kita berjarak dengan keluarga, berjarak dengan karya Sang Pencipta. Kemudian momen itu tiba. Ketika kita membuka mata kembali dengan satu tetets Insto Dry Eyes. Rasa  syukur terpanjatkan karena Tuhan telah memberi kita berjuta kebaikan dari dua mata yang harus kita jaga.

Setetes kebaikan insto dry eyes

Sumber :

https://insto.co.id/

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3111345/patut-dicoba-cara-alami-untuk-bantu-atasi-mata-kering

https://www.alodokter.com/mata-kering

https://www.techinasia.com/indonesia-web-mobile-statistics-we-are-socialdata pengguna gadget di Indonesia

Cerita pengalaman pribadi

Bagaimana dengan ceritamu? Buka mata, jangan lupa teteskan Insto Dry Eyes untuk  temukan makna lebih dalam setiap cerita. Ceritakan pengalamanmu juga tentang mata kering yang pernah kamu derita, lalu ikuti juga kompetisi blog di bawah ini. Artikel ini, juga saya ikutkan dalam kompetisi tersebut.

Insto Dry Eye Blog Competition

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top