5 Hal Yang Harus Dimiliki Newbe Mom di Era Milenial

Hallo Bu Ibu, selamat datang di blog saya. Mungkin setelah ini, saya akan lebih banyak menulis seputar rumah tangga dan sederet dinamikanya menjadi Ibu-Ibu. Dimulai dari definisi seorang Ibu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Ibu berarti wanita yang telah melahirkan seseorang. Apakah hanya melahirkan saja? Tentumya tidak. Seorang bijak berkata,”You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.” Jika engkau mendidik seorang lelaki maka engkau mendidik seorang lelaki. Ketika kamu mendidik seorang perempuan, maka kamu mendidik satu generasi. Benarkah begitu? Mungkin kamu bisa tanyakan bapakmu, dia sukses seperti sekarang ini berkat siapa.  

Apakah kamu siap jadi Ibu? Itulah pertanyaan yang terpampang dalam benak saya beberapa bulan lalu sebelum melahirkan. Nyatanya, mau tidak mau, suka tidak suka pada akhirnya saya menjadi seorang Ibu. Dan ternyata, menjadi Ibu itu tidaklah mudah. Merawat anak itu tidak seperti bermain bonekah-bonekahan. Ya, kali….. disamakan sama boneka. 

Pokoknya, jadi Ibu itu repot bangetlah. Harus bangun tengah malem buat memastikan si bayi tidak dehidrasi. Sekalipun bayi nggak rewel kaya bayi saya, ya begitu harus memastikan dia tidak dehidrasi. Itu masalah di malam hari. Siangnya, mau kerja itu kaya curi-curi waktu. Apalagi buat saya yang freelance kaya gini. Karena terkadang tiba-tiba anak maunya nemplok aja. Kalau sudah begini, apa kabar project-project yang harus digarap.

Tapi, entah kenapa diantara banyak masalah setelah memiliki bayi tetap mau aja ngurusin si bayi. Kenapa rasanya tetap sayang. Apa karena bayi itu menggemaskan? Entahlah, yang pasti jadi Ibu itu nggak gampang. Lalu apa saja yang harus dipersiapkan bagi calon Ibu di era milenial seperti sekarang? Apalagi, calon Ibu baru yang nggak paham apapun tentang mengurus anak. 

Baik, sebelum ngomong panjang, kali, lebar, kali tinggi, tentang Ibu yang mencetak generasi penerus bangsa, eiiiss….. Pastikan lima hal ini dulu yang harus kita punya sebagai Ibu baru. Oh ya, lima hal ini adalah kesimpulan saya sebagai Ibu baru ya… kalau ada Ibu-Ibu senior mau nambahin monggo.

 

Cara Menyusui yang Benar

Apa sih yang harus kita lakukan setelah bayi lahir? Menggendong. Kalau itu jawabannya, bagaimana dengan yang melahirkan dengan metode SC? Pasti dia masih terbaring lemah di ruang pemulihan kaya saya dulu. Jadi, menggendong bukan yang utama. Meskipun menggendong adalah salah satu skill yang wajib kita punya setelah ada bayi. Yes, jawabannya ya menyusui. Si bayi mau dapat makanan dari mana kalau kita tidak bisa menyusui.

Halah, menyusui itu gampang. Wong setiap perempuan punya payudara. Eiittsss….. tidak segampang itu ferguso. Ok, setiap perempuan punya payudara. Pertanyaannya, apakah bayimu sudah terlatih ngencitnya? Banyak kasus yang terjadi misalnya bayi bingung puting, bayi maunya ngencit ujung puting doang jadi bikin puting lecet dan sebagainya.

Kalau masalah saya awal memberikan ASI dulu, lebih kepada saya sendiri. Bayi saya ngencitnya bagus. Sampai dipuji perawatnya. Sedangkan saya, bingung cari posisi yang pas untuk menyusui dan ngepasin puting biar masuk ke mulut bayi. Sampai akhirnya bayi saya rewel terus pas di rumah sakit gara-gara dehidrasi sampai panas tinggi dan terpaksa disambung dengan susu formula.

Nah, peluang pihak luar memberi formula pada bayi kita dan kita menyetujuinya itu akan menambah peluang masalah saat menyusui selajutnya. Kenapa begitu? Karena setelah diberi formula, bayi akan merasa sangat kenyang terus tidur sepanjang hari dan susah dibangunkan. Kalau sudah begini, siapa yang bakal mancing ASI keluar kalau nggak bayi. Akhirnya produksi ASI melambat, ketika sang bayi butuh lebih dan persediaan ASI tidak cukup, akhirnya diberi formula lagi kekanyangan lagi, tidur lagi terlalu lama. Sampai akhirnya, ada Ibu-Ibu yang bilang, ASI saya tidak keluar. ASI saya keluar sedikit. Padahal hukumnya, antara permintaan dan persediaan itu pasti seimbang. Semakin banyak permintaan semakin banyak persediaan. Nah, kalau permintaannya langsung disodori formula bagaimana?

Tapi saya juga tidak mau mengjudge Ibu-Ibu yang memberikan formula pada anaknya adalah Ibu-Ibu pemalas yang tidak mau berjuang keras. Selain urusan puting dan encitannya, memberikan ASI itu diperlukan support sistem yang bener-bener solid. Nggak hanya support dari suami saja tapi juga orang tua dan mertua.  Dan juga tenaga medis. Haduh, kalau udah di judge tenaga medis produksi ASI tidak cukup itu rasanya kaya mau kiamat dunia ini. Tidak hanya mereka saja, bagi Ibu-Ibu pekerja kantoran yang menggunakan jasa ART, tentu ART-nya juga harus memberikan support yang bagus. Kalau uda niat ASI ekslusif 2 tahun nih, hidupmu akan disibukkan dengan mengASIhi. Misal nih, 1 jam bayi sudah mimik  langsung, 30 menit selanjutnya kamu mompa, dan 30 menit berikutnya kamu nata ASImu atau sterilkan botol-botol, eh, tiba-tiba bayi nangis minta ganti diapres. Eh, habis ganti diapres nyusu lagi. Begitu terus sampai dia agak gedean. Kan repot kalau nggak ada yang bantuin.  Belum tugas-tugas domestik lain seperti bersih-bersih dan nyuci. Terus nyusuin kan laper terus, asupan gizi juga harus terpenuhi. Siapa yang masakin kalau seharian ngurus bayi nggak ada habisnya. Kapan-kapan deh, saya bahas di artikel kusus soal per-ASIan ini.

 

Siap Main Tebak-Tebakan sama Si Bayi

Ini deh yang paling seru. Main tebak-tebakan. Kaya apa mainnya? Saya jadi ingat awal Adna (bayi saya) lahir. Hari pertama, waktu itu kita cuma bertiga. Saya, suami, dan Adna. Nggak ada Ibu saya, nggak ada mertua saya. Dari hamil, saya dan suami sudah bicara kalau setelah Adna lahir, kita harus berupaya  ngrawat Adna sendiri sekalipun kita tinggal dekat dengan orang tua. 

Eng ing eng, ternyata ekspektasi memang jauh dari realita. Realitanya, bayi saya di hari pertama lahir itu rewelnya minta ampun. Saya belum bisa duduk dan jalan pasca operasi. Nah, saya dan suami masih belajar nih gaya bahasa bayi yang cuma nangis doang. Akhirnya kan kalau nangis suami yang harus urus baru kalau dia butuh netek, sama suami diletakkan di sebelah saya. Kan bingung ya, kalau ditetekin masih nangis, diliat diapresnya masih kering, terus nangisnya kejer banget nggak berhenti-berhenti. Apalagi, kami baru pertama punya bayi. Stres iya, tapi percayalah lama-lama kan terbiasa. Asal punya tekat untuk berdamai dengan bayimu dan coba berkenalan lagi meskpun sembilan bulan lebih sudah ada di perutmu, ternyata bayi juga butuh adaptasi dengan rumitnya dunia yang baru ia kenal.

Sampai hari ini, artikel ini diketik dan usia Adna sudah hampir dua bulan, tangisnya tuh makin beragam. Kami pun mulai paham, tangisnya karena risih sama diapresnya, tangisnya karena mau pup, kedinginan, kegerahan, gelisah karena hidungnya mampet, dan lain-lain. Memang ada kalanya kami mendengar tangis yang belum bisa kami terjemahkan. Saat itu hanya bisa bilang, “Apa sih nak? Kamu lagi mikirin politik negara ta? Sudah nggak usah mikir yang berat-berat.”

 

Waktu yang Tepat untuk Quality Time dengan Suami

Menjadi Ibu, bukan berarti kehidupanmu sebagai isteri berakhir. Suami juga masih butuh elusanmu loh….  eaaaa….. dielus bagian mana nih? Perubahan yang drastis setelah saya punya bayi adalah, sudah nggak bisa duduk-duduk santai sambil minum teh sama suami baik di sore dan pagi hari seperti yang biasa kami lakukan sebelum punya bayi. Sekarang, kalau pagi saya urus si bayi mulai jemurin sampai mandiin. Nah, suami sebelum ngantor, nyuci popok kainnya si bayi yang banyaknya hampir dua ember setiap harinya. Sedangkan sore pulang kantor, kadang posisi saya belum mandi dan solat asar. Jadi suami jagain bayi, saya mandi dan solat asar dulu. Malem, mau quality time? Eh, tiba-tiba bayi nangis minta dikelonin. Kalau begini, kapan mau bahas uang belanja yang udah nggak cukup lagi….? #eh.

Saya menyadari, kalau rutinitas ini terus berlanjut, saya dan suami pun jadi jareng bicara empat mata, weleh… bagaimana cerita rumah tangga saya selanjutnya. Karena jarang komunikasi, akhirnya kita membuat jarak dalam frekuensi (bahasa apa ini ya? Gitulah, maksudnya). Kalau sudah ada jarak, terbuka dong, kesempatan buat diisi? Diisi apa? Ya kalau nggak mau perselisihan terjadi, mari diisi dengan komunikasi. Ya, komunikasi antar suami dan isteri.

Akhirnya, lima menit aja bisa jadi waktu berharga buat kami negteh lagi di teras berdua. Ngobrol ngalur ngidul mulai dari bahasan pemilu sampai pemila. Yah, karena sekarang sudah punya anak, quality time pun nggak jauh-jauh bahas soal perkembangan anak dan pengasuhan yang harus kami lakukan. Sesekali, kami juga titipkan anak pada orang tua terus pergi berdua dan bahas hal-hal di luar anak. Percayalah, anak juga butuh lihat orang tuanya bahagia. Jadi tetap jaga kewarasan bersama pasangan meskipun punya bayi akan menguras perhatian.

 

Berhenti Jadi Sempurna

Setelah jadi Ibu-Ibu, pasti home page medsosmu dipenuhi postingan standar yang baik menjadi Ibu, ataupun teman-temanmu yang udah jadi Ibu posting kelebihan anaknya ataupun dia sendiri sebagai Ibu. Disitu, kamu akan merasa, nah dia kok bisa. Aku harusnya bisa dong. Oh ternyata jadi Ibu harus begini menurut artikel ini. Baik, aku juga harus begini. Belum lagi, group-group Ibu-Ibu di WA. Tahu nggak, kalau mengikuti standar media sosial apa jadinya? Ah, yang ada kitanya malah stres. 

Saya berhasil meminimalisir diri saya untuk tidak mengikuti standar medsos dalam hal pemberian ASI. Okelah saya sepakat memberikan ASI kalau bisa dua tahun. Itu memang standarnya Al-Quran. Di kitab saya itu, ada perintahnya. Tapi menimbun ASI sampai berliter-liter ternyata tidak ada di kitab saya. Jadi, kalau untuk pekerja kantoran atau yang sering dinas keluar kota nimbun ASI itu penting banget. Banget banget banget. Awalnya aku lihat teman tuh, yang ASInya se-abrek. Wowlah. Panutan. Pengen deh kaya gitu. Sampai akhirnya tersadar, kalau saya kerja di rumah terus ASI sebanyak itu buat apa? Kalau Adna lebih suka mimik langsung, apa kabar timbunan yang cuma bertahan dua minggu? Iya, soalnya kulkas saya kulkas satu pintu. Dimana ASi, kalau disimpan di freezernya hanya bertahan dua minggu. Kalau lebih? Masak dibuang. Yah sudah pintar-pintanya aja kita bertindak sesuai dengan permasalahan dan keadaan yang kita hadapi.

Berikutnya, jadi Ibu itu apalagi Ibunya bayi. Pasti lelah. Sudahlah, yang sudah jadi Ibu nggak usah munafik. Banyak lelahnya kan, dari pada senengnya? (“tapi aku ikhlas kok,” kata Ibu bijak) Hmmm… menurutku nih, manusiawilah kalau kita merasakan lelah dan jenuh mengurus bayi yang kegiatannya hanya tidur, nen, pup, dan pis. Sudah deh, nggak usah ngoyo kerjain semua. Beri kesempatan neneknya juga menimang cucunya. Pasti seneng banget tuh nenek. Kitanya juga seneng deh, bisa kencan sama Pak Su. hihihi.

 

Berperinsip tapi Tetap Fleksibel

Oh ya, tapi jangan lama-lama ya titip ke neneknya. Anak kita titipin ke nenek terawat itu pasti. Asupan makanannya terjamin itu pasti. Bagaimana dengan perkembangan motoriknya? Alhamdulillah, kalau neneknya juga paham mengasah itu. Kalau terusan dititipin. Yakin, si nenek bisa mendidik anak kita sesuai zamannya? Menurutku, sebaik-baiknya orang tua kita mendidik kita, tidak akan sebaik dia mendidik cucunya. Kenapa? Selain cara mendidiknya sudah tidak sesuai zaman, nenek pasti cenderung memanjakan. Percaya nggak?

Sedikit cerita nih, tentang perbedaan pendapat penggunaan kaos kaki antara saya dan mertua. Maunya mertua sih, tiap pagi, siang, dan sore Adna pakai kaos kaki dan kaos tangan biar nggak kedinginan. Meskipun dia sudah satu tahun lebih, tetap harus pakai. Waduh, kalau udah kringetan mengucur kemana-mana masak iya, saya tega ngasih Adna kaos kaki dan kaos tangan. Teorinya, kaki butuh bernafas. Jadi kalau kakinya gerah mana mungkin saya beri kaos kaki. Apalagi kalau sampai keluar kringat dan lembab. Kan bisa jamuran tuh kaki. Selain itu, menurut sumber yang saya baca tidak menngenakannya kaos tangan atau kaos kaki bisa melatih motorik halus kasarnya. Nah, repot kan kalau harus berdebat dengan mertua masalah kaos kaki.Sedikit demi sedikit saya beri pemahaman tentang penggunaan kaos kaki dan tangan yang berpengaruh pada motorik kasar dan halus dengan bahasa yang santun karena takut dibilang sok pintar. Sampai akhirnya beliau memahami maksud saya ini.

Selain itu, waktu kumpul keluarga atau reunian dan bahas soal anak. Pasti ada aja yang komentar cara kamu mengasuh. Cara kamu memberikan sesuatu ke anak. Ada ajalah, para komentator handal itu. Tenang saja, kalau kamu udah paham knowledgenya kenapa harus melakukan itu nggak usah takut. Kalau ada orang komentar artinya kesempatan akan ada diskusi baru yang akan memperkaya knowledgemu sebagai Ibu. Yes, jadi Ibu juga harus open minded. Biar nggak kaku. Nggak gampang stres. Jadi Ibu bahagia, untuk anak bahagia.

 

Kesimpulan

Jadi, kenapa saya hadirkan artikel ini? Pertama untuk menyalurkan hasil pemikiran saya setelah hampir dua bulan jadi Ibu). Halah, belum dua bulan aja udah bikin artikel tentang Ibu-Ibu. Hehehe. Sejujurnya, saya jarang menemukan tulisan bagaimana mempersiapkan mental menjadi bu baru. Atau memang sayanya yang nggak nemu dan males cari. Sebenarnya banyak sih, artikel yang membahas tips anti stres jadi Ibu baru yang nyrempet-nyrempet artikel saya ini. Tapi kadang ada teman yang butuh refrensi dari pengalaman pribadi. Dan setelah mengalami sendiri, lima hal ini yang diperlukan untuk siap menjadi Ibu baru yang bahagia untuk generasi yang bahagia. 

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
1 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Jihan FauziahJoe Candra Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Joe Candra
Guest

wah ibu2 millenials cocok banget nih bacanya, karena parenting zaman ibu2 kita dulu sangat kontradiktif dgn skrg ya kak. Mantabbbb

Go Top