Bersalin dengan BPJS di Madiun, Gratis! (Kelahiran Part 4)

Disclaimer dulu ya terkait judul di atas. Jadi, perlu diketahui, kalau saya tidak sedang iklan soal BPJS atau RSI nya dalam postingan ini. Saya  hanya sharing terkait persalinan yang mendewasakan kami sebagai pasangan. Sebelumnya, teman-teman bisa baca tulisan sebelumnya yaitu :

Persalinan yang Mendewasakan Kami sebagai Pasangan (Kelahiran Part 1)

Khawatir Soal Biaya Bersalin

Ya, saya pernah khawatir soal biaya bersalin. Entah, kenapa saya lupa tentang ayat Allah yang akan selalu mencukupkan hambanya yang kekurangan. Tapi justru, keinginan saya untuk bersalin normal yang awalnya saya pikir akan menghabiskan biaya lebih murah ternyata justru lebih mahal. Kenapa? Karena hal-hal yang saya lakukan seperti yoga, berenang, dan belanja serta makan-makan untuk menumbuhkan hormon oksitosin juga memakan biaya. 

Siapa sangka Allah punya jalan lain. Allah punya kehendak lain sehingga memberikan saya pengalaman pertama dengan melahirkan secara operasi.  Setelah nyaris membatalkan operasi yang saya ceritakan dalam artikel berikut :

Antara Keyakinan dan Ketakutan (Kelahiran Part 2)

Akhirnya ujung-ujungnya operasi juga.

 

Di Kamar Kelas 3

Karena kamar habis, ya akhirnya kami menginap di kamar kelas 3. Satu ruangan dihuni 3 orang. 1 Orang mungkin mendapatkan ruang 3 x 2 meter. Hehehe, sama kamar mandi rumah kalian besar mana? Diterima dulu ya nak, kalau kelas VVIP seperti yang ada di Instagram, Ibu belum sanggup. Kalimat itu sebagai dialog orang tua yang berkomunikasi dengan anaknnya. Sebisa mungkin, kami mengajarkan anak untuk hidup minimalis dan bekecukupan. Jika memang yang kita terima bisa mencukupi. Tapi kalau belum, ya kita terima apa adanya.

Di kamar kelas 3 ini, masih ada AC nya. Satu untuk tiga orang. Yang membuat resah ketika jam besuk. Saya sengaja meminta teman-teman untuk datang saat di rumah saja. Tapi, penghuni kamar sebelah, penjenguknya banyak sekali dan membuat anak saya rewel nggak karuan. 

Ternyata kerewelan anak, ditambah komentar dari pasien lain yang harus kami terima resikonya. Dan ini tidak kami bayangkan sebelumnya. Asal bisa operasi, ya sudah. Saya dan putri saya dirawat satu kamar (room in). Bisa dibayangkan betapa sesaknya kasur Ibu yang celahnya disisipi box bayi. 

 

Perkenalan Awal yang Mendewasakan

 “Selamat Ayah, sudah menjadi Ayah,” kata saya pada suami.

“Adakah yang salah dari keputusan kita?” tanya suami.

“Kesalahan itu bisa terjadi kalau kita tidak iklas menerima ini. Sebagai orang tua yang masih belajar, biarkan juga anak kita belajar menerima bagaimana dia hidup di dunia bersama kita. Semoga Allah selalu memberi petunjuk,”

Ya, pada waktu akan operasi, saya juga bilang ke janin saya, “Nak, mari kita lebih berserah pada Allah. Kalau-kalau kemarin ada yang lalai.” Operasi memang menjadi dilema dalam batin saya. Terkadang, saya masih yakin anak saya bisa lahir normal walau ditunggu selama 42 minggu. “Nak, kamu bebas lahir kapanpun, Ibu dan Ayah akan menunggu,” begitu kata saya.

Tapi Ayah mencoba meluruskan logika saya.  “Sebebas-bebasnya sesuatu yang kita berikan pada anak, harus ada batasnya. Jangan sampai anak terlalu bebas sehingga tidak memperhatikan hal seharunya tidak dilakukan atau tidak terjadi. bebas tetap harus tau batas. Nak, kamu bebas lahir kapanpun, tapi bagaimanapun juga, Ayah dan Ibu harus beri kamu tenggat waktu. Kalau kamu nngak bisa turun panggul sampai tanggal 22 April, nanti minta tolong dokter bikin jalan baru, ya.” Dan kemudian saya sambung dengan, “Kalau sayang sudah lelah untuk berusaha turun panggul, kasih kode untuk Ayah dan Ibu ya, biar Ayah dan Ibu segera minta bantuan dokter.” Ya, kata itu terlontar ketika saya mulai mempertanyakan apakah keinginan melahirkan normal hanya ego saya semata?

Perlahan, kami beruda berusaha mengenal anak kami sendiri. Ternyata susah-susah gampang. Bayi hanya bisa menangis. Sedangkan tugas kami, menerjemahkan sura tangis itu. Apakah lapar, buang air besar, atau buang air kecil, atau risih dengan sekitar. Tangisnya selalu menghujam telinga karena kami sulit menterjemahkannya.

 

Akhirnya biaya Bersalin Gratis

Saya pikir, akan ada penambahan biaya perawatan bayi dan lain sebagainya. Ternyata tidak, Hari terakhir ketika kami hendak pulang, dan suami menyelesaikan urusan administrasinya, siapa sangka karena turun kelas, kami di gratiskan dari semua biaya.

Ya, Allah memang punya rencana. kami yang suka takut dan menduga-duga. “Mulai hari ini, kita santai saja masalah pengeluaran. jangan terlalu boros tapi jangan juga terlalu takut kalau kita tidak bisa penuhi ini itu. Allah maha tahu kesulitan hambanya. Kalau kita butuh sesuatu dan Allah memang berkehendak itu pantas menjadi milik kita, pasti diberi. Jadi, santai saja setelah ini,” kata suami.

Ya, suami berkata seperti itu karena saya sering takut. Takut tidak bisa menyekolahkan anak karena belum menyiapkan dana pendidikan. Takut tidak bisa beli rumah karena tidak juga nabung untuk membelinya. Ya, kami mengusahakan dan kami tidak akan hidup boros, jika sudah waktunya, Allah pasti akan memberi. Mungin itu yang harus kami pupuk lagi. Kami percayai lagi. Dan sekarang, Allah sudah mempercayakan seorang anak pada kami. Tentu saja, kami harus percaya, Allah akan mencukupkan perjalanan kamil 

Baca Juga :

Perjanjian Pranikah. Apa itu?

Adna Mengubah Hidup Kami

Nama Anak kami, Inara Adna Qurrota A’yun. Inara artinya cahaya dari surga, Adna artinya anak kesayangan Ayah dan Qurrota A’yun artinya penyejuk jiwa. Kami berharap, anak yang didambakan Ayahnya ini, kelak bisa menjadi penerang bagi umat dan penyejuk jiwa bagi kedua orang tuanya dan sekelilinganya.

Sekarang kami tak hanya berdua, tapi bertiga. Alhamdulillah Adna, terlahir dengan sehat dan sempurna. Apalagi kiranya yang kita pinta? Banyak orang di luar sana yang memohon dan maminta untuk dikaruniai seorang anak. Banyak di luar sana, perempuan yang memohon agar dikaruniai kehamilan. 

Apalagi yang kami pinta, selain bersyukur karena telah diberikan momongan. Apapun metode persalinannya, anak kami juga berhak menjadi anak yang sehat, soleh, dan cerdas. Tentu, kami sebagai orang tua akan mengupayakannya. Agar kelak, dia bisa menjadi jalan surga bagi kami. 

Terimakasih Allah. 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top