Operasi Caesar dengan Keiklasan (Kelahiran Part 3)

Ada banyak cerita tentang persalinan. Dan juga, ada banyak cerita tentang metode persalinan. Kebetulan kelahiran anak pertama saya dilakukan dengan operasi caesar. 

Baca Juga :

Antara Keyakinan dan Ketakutan (Kelahiran Part 2)

Persalinan yang Mendewasakan Kami sebagai Pasangan (Kelahiran Part 1)

Berharap masih ada keajaiban, nyatanya saya harus ikhlas lantaran tubuh saya harus mendapat intervensi dari luar agar bayi saya bisa lahir dengan sehat dan selamat. 22 April 2019 pukul 11.00 saya masuk ruang operasi. Ada tiga dokter beserta rombongan tim medisnya yang menangani saya. Tiga dokter tersebut diantaranya :

  • dr. Meddy Romadhan, SpA,Mkes
    dr. H. Suwardi,Sp. Og
    dan satu lagi dokter Anestasi yang saya lupanya.
    FIY, dua dokter yang saya ingat namanya di atas itu kabarnya merupakan dokter terbaik di Madiun. Nanti akan saya review di posting berbeda. 
     
  • Santainya, si Dokter

  • Bius mulai masuk di tubuh saya lewat punggung. Dokter sebenarnya agak kesulitan menyuntikkan biusnya karena berkali-kali tubuh saya memberikan penolakan. Ya, detik-detik menjelang operasi saya masih belajar ikhlas. Ikhlas tubuh saya dikerumuni banyak orang tak dikenal untuk mengeluarkan calon buah hati tersayang.
  •  

Bius lokal akhirnya dapat masuk ke tubuh saya setelah bagian lengan depan tubuh saya dicengkeram kuat oleh satu perawat. Setelah bius masuk, saya diminta untuk berbaring, dan di depan saya sudah ada tirai yang menutupi proses operasi oleh tim dokter. Dibalik tirai, terdengar suara begitu sibuk namun tidak riuh di balik tirai yang membatasi tubuh saya bagian dada dan perut.

Saat dokter Sp.Og mulai masuk ruang operasi, beliau menyapa saya. Menanyakan soal keterlambatan saya datang ke rumah sakit. Dengan sedikit ling lung saya jawab, “takut dioperasi, dok.” Seraya dokter anestasi curhat kesulitannya waktu membius saya.  Si dokter Sp.Og hanya menjawab, “Masak udah post date belum turun panggul, nggak mau dioperasi.” Batin saya masih menjawab, “karena menunggu keajaiban, Dok.”

 

Hanya Padanya, Untuk Dia

Saya kira, suasana operasi itu menegangkan. Nggak taunya, santai-santai banget. Ya, kalau kitanya ikhlas dioperasi sebenarnya semua terasa lembut. Selembut lagu-lagu yang diputar mengiringi jalannya operasi. Nah, sayangnya saya tidak tahu kalau waktu operasi, dokternya memutar lagu. Tahu gitu, saya mau minta diputarkan Murothal saja. Biar tenang, sekaligus bayi saya waktu lahir langsung dengarkan murothal. 

Nggak tahunya, dokternya malah muter lagu-lagu tahun 80an. Ya, maklum nih dokter Sp.Og udah kakek-kakek sebenarnya. Nah, tapi pas lahirnya Adna (nama anak saya) malah yang keputer lagunya Anjie Drive yang judulnya Dia. Dalam hati saya bisikin, “Dia yang dimaksud Allah, Nak.”

“Hanya pada-Nya. Untuk Dia….” Eaaaarrrr…… suara tangisnya terdengar kencang. Bebarengan terikana tenaga medis secara bersamaan, “Braaavooo….” 

 

IMD ditolong Perawat

Ternyata, meskipun operasi caesar, IMD masih bisa dilakukan. Tentu dengan bantuan perawat setelah bayi dibersihkan. Perasaan haru menyelimuti hati saya, kini ternyata saya sudah menjadi Ibu. Sang bayi dipetakkan di dekat payudara saya sebentar lalu dia menyusu. Hanya sebentar. Tapi, saya bersyukur diberi kesempatan langsung melihatnya dan menyusunya setelah dia lahir meskipun metode melahirkannya dengan operasi.

Tak lupa , saya bisikkan kalimat La Illa Ha Illahlah di telinganya sebelum perawat membawanya pergi menemui Bapaknya untuk di adzani. Alhamdulillah anakku lahir dengan sempurna, sehat, dan selamat. Lahir pukul 11.28 dengan berat 3 kg dan panjang 49 cm. 

 

Menderita 5 Jam di ruang Pemulihan. 

Karena operasi saya dilagukan saat pergantian jam jaga dan kebetulan penjaga sebelumnya sedang ada sidak atau rapat, menyebabkan saya tidak segera di alihkan di ruang bersalin. Meskipun bius saya sudah pulih total. 

Bius itu, rasanya pulih sedikit demi sedikit. Mulai dari jari-jari, naik ke atas ke pergelangan kaki, ke betis, hingga ke paha. Dan yang paling saya rasakan sakitnya adalah di perut yaitu di bawah pusar bekas bedahan untuk mengambil bayi oleh tim medis tadi. 

Akhirnya saya nggak bisa menahan tangis. Suami ataupun keluarga tidak boleh ikut masak. Para perawat anestasi sedang makan snack. Mbok ya saya ditawari, saya juga mau. Jenuh kan, menunggu pemindahan kamar dalam ruangan yang tidak ada seorag pun yang saya kenal. Akhirnya saya diambil oleh bidan bersalin pukul 17.00. Leganya, bisa bertemu suami dan orang tua. beberapa menit kemudaian Adana datang cantik, setelah mandi. 

 

Rasa Sakit Itu Hilang, Ketika Dia Menyusu 

Begitu bayi diserahkan pada kami (saya dan suami), saya sudah terosepsi sekali untuk mengASIhi dengan sepenuh hati. Langsung saya belajar menyusui dalam keadaan terbaring dan masih dipasang infus. Alhamdulillah ASI keluar sedikit demi sedikit. Dan rasa sakit pasca operasi hilang, serasa dia terus mengencit puting berulang-ulang.

Baca Juga :

Bersalin dengan BPJS di Madiun, Gratis! (Kelahiran Part 4)

 

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Operasi Caesar dengan Keiklasan (Kelahiran Part 3) […]

Go Top