Antara Keyakinan dan Ketakutan (Kelahiran Part 2)

Entah ini kesalahan atau bukan. Saya, baru bisa yakin bisa melahirkan dengan normal pada pertengahan trisemester ke-3. Saya juga pernah mengalmi ketakutan tidak mampu membayar rumah sakit jika seandainya saya harus ambil keputusan operasi. Masalahnya, dokter langganan saya hanya praktik di rumah sakit-rumah sakit swasta yang bagus dengan kata lain, yang tidak menerima BPJS. Saya sebenarnya terdaftar BPJS lewat kantor suami. Sebenarnya untuk operasi, bisa saja gratis karena fasilitas BPJS. Tapi, bagaimana cobakalau rumah sakitnya nggak menerima BPJS?

“Nak, lahir normal aja ya… biar Ibu sama Ayah bisa hemat, nggak ngluarin uang banyak buat lahiran,” kata saya ketika di tengah-tengah kehamilan tiba-tiba tabungan harus dilarikan ke post lain. Langsung deh saya dimarahi suami, “Jangan bilang gitu ke anak, normal ya normal aja. Jangan karena pengen hemat. Ya karena ingin melahirkan normal.” Begitu Pak Suami mengingatkan saya, baiklah saya diam.

Baca Juga :

Persalinan yang Mendewasakan Kami sebagai Pasangan (Kelahiran Part 1)

Dokter menyarankan operasi tanggal 22 April. Sebenarnya, kami punya rencana melahirkan di kinik milik dokter tersebut. Tapi memang tidak menerima BPJS. Kata Dokter, “Sayang kalau ada BPJS tidak digunakan. Saya buatkan  rujukan di Rumah Sakit Islam saja ya, yang pakai BPJS,”

Iya, saya dan suami belum surve ke RSI sebelumnya,. Karena ruang tunggu dan ruang antri asiennya yang sumpek dan bikin males. Yah, meskipun ternyata kami mendapatkan kejutan pelayanan yang memuaskan. Nanti deh, di postingan lain saya akan cerita.

 

Artikel Yang Menginspirasi

Seorang teman, mengirimkan saya artikel ini. Niatnya untuk memberi semangat bahwa ada loh, yang bisa menunggu lahir normal sampai usia kandungan 42 minggu. Tapi tidak bisa dipungkuri kalau semangat itu juga harus butuh keyainan yang sifatnya bukan mengambil contoh dari orang lain tapi kekuatan diri sendiri dan orang-orang yang akan menolong persalinan nanti.

 

Masih Berharap Datang Keajaiban

Logika saya sudah mati. Gerakan saya didominasi bagian otak teta mungkin. Sedangkan otak beta mati. Sejak tanggal 18 April 2019, saya dan suami sepakat untuk tidak melakukan tindakan apapun yang memacu kelahiran. Kami mencoba mengikuti garis takdir. Penantian menuju tanggal 22 April 2019, kami isi dengan makan-makan, jalan-jalan dan foto-foto. Intinya mengaburkan ketakutan. Mengaburkan rasa cemas. Ya, meskipun rasa cemas itu ada,

22 April 2019 

Tanggal yang ditunggu sudah datang. Pihak rumah sakit belum juga menghubungi kami. Rujukan dari dokter sudah kami berikan pada rumah sakit sejak 18 April 2019 di bagian pendaftaran umum. Saya dan suami juga tidak mencoba menghubungi pihak rumah sakit. Siapa tahu, si bayik tiba-tiba menggoda ibunya memberi kesempatan merasakan gelombang cinta.

Waktu daftar tanggal 18 April itu, sebenarnya kami diminta datang pukul 06.00 WIB karena jadwal operasi saya pukul 10.00 WIB. Tapi ya, dasar kami yang tidak yakin akan melewati hari ini, ya kami santai menylesaikan pekerjaan rumah sampai sarapan. Padahal sebelum operasi kan harusnya puasa. Saya benar-benar lupa karena pihak rumah sakit tidak ada yang memberi tahu.

Pukul 07.00  saya dan suami baru sampai di rumah sakit. Waktu datang ke loket pendaftaran umum, kami diminta untuk ke lantai dua yaitu bagian bersalin. Ternyata, rujukan dari dokter langganan kami hilang dan tidak sampai ke administrasi bersalin. 

Saya menangis ketakutan. Bukan takut karena masalah administrasi yang ternyata tidak di registrasi. Saya takut karena mau operasi. Andai saja ada suatu peristiwa yang mengharuskan saya untuk menunda operasi dan meluaskan kesempatan saya untuk melahirkan normal. 

 

Pengen Batal Operasi

Pihak bersalin sempat kecewa dengan sikap kami. Kenapa baru datang jam segini, kenapa tidak menghubungi kami ketika kami tidak juga menghubungi. Begitulah kurang lebih pertanyaan mereka. Kami tahu jawabannya. Dan kami tidak ingin menjawab jujur. Kata pihak ruang bersalin lagi, sabtu lalu artinya tanggal 20 april 2019, dokter langganan kami menanyakan apakah kami sudah daftar kamar atau belum. Dan mereka jawab belum.

Pada detik-detik yang genting itu, saya hampir memutuskan untuk batal operasi dan mencari dokter lain yang mau cek air ketuban dan plasenta sampai bayi ini lahir dengan normal. Batin saya, “seharusnya masih bisa menunggu.” Suami sempat bilang ke bidan-bidan yang ada di ruang administrasi bersalin kalau operasi kami batalkan saja. Ketika mereka tanya kenapa, suami saya jawab isteri saya masih sehat dan yakin bisa melahirkan dengan normal.

Sedangkan saya jawab, dari pada nanti operasinya nggak tenang karena kesalahan kami yang datang terlambat. Waktu itu, pukul 08.00 WIB. Para bidan di ruang administrasi itu, akhirnya menurunkan egonya. Takut kalau terjadi apa-apa, mereka yang kena. Mereka bilang, “Kalau masalah operasi tidak ada masalah, di IGD malah biasa menangani persiapan operasi beberapa menit sebelum. Kalau ganti dokter, nanti malah bingung mendapatkan second opinion. Kalau mau ke dokter Wardi lagi (dokter langganan kami) harus atur jadwa lagi. Dan itu nggak mudah. Apalagi operasi ini melibatkan tiga dokter. Pasti kami akan koordinasi secepatnya dengan baik.”

 

Takut Kehilangan

“Ini masalah nyawa,” suami saya kembali mengulangi. Dokter langganan kami tidak berani menjamin kalau kami nekat menunggu satu minggu ke depan. Suami juga tidak bisa menjamin soal kondisi saya. Ini anak pertama. Saya juga isteri yang baru dinikahinya 10 bulan. Takut kehilangan sudah pasti.  Suami juga tidak punya refrensi dokter lagi. Saya juga tidak bisa menjamin ada dokter di kota saya yang mau sabar mendampingi penantian kami.

Bagi kami, Dokter Soewardi sudah baik hati mau menemani penantian kami hingga lebih satu minggu HPL. Karena sebelumnya ada tetangga yang cerita, niatnya malah periksa di satu rumah sakit karena biasanya dia periksa di Surabaya. Eh, justru di rumah sakit itu dia langsung diminta langsung operasi hari itu juga. Padahal HPLnya masih 2 minggu lagi. 

Dokter Soewardi, Sp.Og Insya Allah pilihan yang tepat. Keputusan beliau Insya Allah tepat. Beliau dokter senior di kota kami. Suami saya saja, lahir ditolong dokter Soewardi juga. Memang ada dokter di kota lain yang berani menunggu sampai 42 minggu lebih. Mungkin saja, dokter Wardi ada pengalaman yang membuat beliau tidak berani menjamin bayi saya akan turun panggul dengan baik hingga 42 minggu. Kalau ujung-ujungnya operasi juga. Dokter pasti bisa memprediksi.

Kondisi seperti ini, memang hanya pasrahlah yang membuat kita tenang. Sambil menangis, akhirnya saya menandatangani semua perijinan tindakan yang akan dilakukan pada tubuh saya. Suami mengurus administrasi di lantai 1. Entah administrasi apa. Saat saya mulai dipasang infus dan berbagai alat medis laninnya, tangis saya makin sesenggukan dan bilang ke suami, “Saya nggak sakit, kenapa jadi kaya orang sakit,”

Suami waktu itu masih sempat jawab, “Ini yang namanya benar-benar pasrah. Insya Allah ini yang terbaik untuk menjemput amanah Allah,”

 

Kehabisan Kamar

Oh ya, hari itu, tanggal 22 April 2019 kamar benar-benar habis untuk kamar kelas 2 sesuai BPJS kami. Begitupun dengan kamar kelas 1. Ada yang kosong kelas 3 dan VVIP. Kalau milih VVIP tentu BPJS jadi tidak berlaku. Biaya persalinan bakal lebih dari 10  juta kalau begitu.  Insya Allah ada. Tapi kok ya sayang. Akhirnya kami memutuskan mengambil kelas 3 saja. Kamarnya tetap ber AC, hanya saja satu ruangan 3 orang dan cenderung sempit.

Sabar ya nak, hanya 3 hari. Nanti saya ceritakan di postingan lain tentang 3 hari heroik di kamar kelas 3.

 

Detik-Detik Menengangkan

Benarkah keajaiban itu tidak lagi berpihak pada kami? Pukul 10.30, saya digiring di ruang operasi. Pukul 11.28 saya mendengar tangisan yang begitu kencang. Tiba-tiba saya lega. Tangis yang sebelumnya karena ketakutan, berubah menjadi tangis haru dan melegakan. bagaimana saya selama di ruang operasi?

 

Bersambung

 

Baca : 

Operasi Caesar dengan Keiklasan (Kelahiran Part 3)

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Antara Keyakinan dan Ketakutan (Kelahiran Part 2) […]

trackback

[…] Antara Keyakinan dan Ketakutan (Kelahiran Part 2) […]

Go Top