Persalinan yang Mendewasakan Kami sebagai Pasangan (Kelahiran Part 1)

Setiap persalinan, pasti memiliki ceritanya sendiri. Ada yang begitu mengesankan dan ada yang mengharukan. Kami sendiri memaknai persalinan pertama ini sebagai proses yang mendewasakan. Kami, maksudnya saya dan suami seperti lahir kembali. Tidak hanya lahir kembali menjadi Ayah dan Ibu, tapi juga lahir kembali dengan pemikiran baru. 

Keyakinan dan ketakutan yang terus berperang dalam hati kami, akhirnya mengantarkan kami pada tindakan persalinan yang jauh dari rencana. 15 April 2019 merupakan tanggal HPL putri pertama kami.  Tanggal 11 April 2019, saya masih mendampingi sidang salah salah satu klien saya. Terus ajak komunikasi si janin, “Nak, Ibu sidang dulu ya… lahirnya setelah sidang aja,” waktu itu saya sudah merasa bayi seperti turun menekan area vagina. Batin saya, mungkin sebentar lagi waktunya. 

Baca Juga :

Antara Keyakinan dan Ketakutan (Kelahiran Part 2)

Yang Ditunggu Tak Kunjung Tiba

Saya ke-GR-an. Saya kira, malam setelah sidang saya akan merasakan kontraksi, lalu segera pergi ke bidan terdekat, merasakan gelombang cinta dengan tangan digenggam suami, berbaring di salah satu kamar klinik bersalin dengan lampu redup dan aroma oil yang menyejukkan,ditambah lantunan ayat suci Al-Quran dari youtube yang sudah dinyalakan. Didampingi bidan, dula, dan suami saja. Sampai selesai pembukaan, bidan menyuruh saya mengejan, dan akhirnya putri kecilku lahir. Bidan langsung meletakkan bayi mungilku ke dada untuk proses IMD, sambil tali pusat di potong dan kotoran pasca melahirkan dibersihkan. Saya dan bayi kemudian istirahat sebentar, lima jam kemudian kami boleh pulang lalu makan-makan bersama keluarga. 

Ternyata, itu hanya halusinasi saya belaka. Nyatanya malam hari dari tanggal 11 ke 12 April 2019, saya tunggu-tunggu tidak ada kontraksi datang. Tidak ada tanda-tanda-tanda flek merah. Kami berusaha tetap tenang. Dan terus mengajak komunikasi bayi. “Nak, ayo kamu sudah waktunya lahir. Sudah banyak yang menunggu kelahiran kamu. Kami semua sayang sama kamu.”

Dan, ketika kami mencoba menghubungi bidan pilihan kami untuk konsultasi, beliau bilang sedang tidak bisa melayani karena harus menjaga orang tuanya yang oknam di RS. Jadi, kalau tiba-tiba malam-malam saya kontraksi harus bagaimana? Akhirnya, kami mencari alternatif bidang cadangan. Ternyata tidak memungkinkan. Bidan alternatif yang akan kita pilih lokasinya sulit dijangkau. Terlalu jauh dari rumah saya, pun terlalu jauh dari RS kalau sewaktu-waktu terjadi emergensi.  Ternyata, kontraksi tak kunjung datang dan kami memutuskan langsung saja ke dokter.

 

Hari Perkiraan Lahir Bukan Hari Pasti Lahir 

Pertanyaan kapan lahiran ternyata lebih berat bagi saya dari pada kapan nikah. Sampai tanggal 15 April 2019, si kecil belum juga lahir. Semua anggota keluarga termasuk mbah-mbahnya bocah jadi khawatir. Pagi hari saya dan suami periksa ke  dr. Soewardi, Sp.Og. Beliau bilang, bayi belum turun panggul. Dan pemeriksaan di tutup dengan kalimat, “Ibu, saya beri waktu sampai tanggal 18 ya, kalau janin belum turun panggul, suka nggak suka, mau nggak mau pertimbangkan operasi,”

Rasanya mulai bergemuruh. Pulang periksa saya menangis. “Masak sih, panggul saya sempit? Katanya perempuan didisain mempunyai tubuh yang sempurna untuk melahirkan?” Sebenarnya, Pak dokter juga setengah tidak berani mengatakan karena berat bayi pun normal yaitu 3 kg, Lingkar kepalanya juga normal 34 cm. 

“Sudah kita tunggu saja sampai Kamis. Masih ada waktu,” hibur suami. 

Hari itu juga, saya ambil kelas yoga. Kalau pun belum bisa membantu si Bayi turun panggul,  setidaknya saya tidak lagi cemas menunggu tanda-tanda kehadirannya. Karena, kalau saya cemas atau stres akan berpengaruh pada rahim dan janin. Bisa jadi ketubannya keruh karena saya stres dan itu malah membahayakan janin. 

Sambil menunggu, suami terus membelikan degan ijo hampir setiap hari untuk menjaga kondisi air ketuban bersih. Saya tetap meyakini tubuh saya, meski sedikit kacau. Masuk tanggal 17 April, tidak juga ada tanda-tanda. Saya lebih deg-degan, Bukan karena akan segera bersalin, tapi besok akan bertemu dokter. Takut, kalau langsung diminta operasi.

 

Alasan Melahirkan Normal

Saya dan suami menguatkan diri. Kembali merenungi, apa yang membuat kami begitu menginginkan persalinan normal.  Saya sedang tidak sakit. Nyatanya, saya masih bisa melakukan berbagai aktivitas. Tubuh saya kuat. Bayi saya juga sehat. Persalinan adalah proses yang natural. Jika semua baik-baik saja, untuk apa sesar.

Saya juga harus segera mengerjakan banyak hal. Maklum saja, sandwich generation seperti saya tidak bisa mengandalkan satu pemasukan dari suami saja. Saya harus segera bekerja dan merawat bayi saya. Dan tentu saja itu lebih mudah dilakukan jika saya melahirkan si kecil secara  normal.

Dari segi biaya, bersalin normal di klinik bidan juga tergolong mewah dan murah. Mewah bagi saya, ketika saya mendapat fasilitas yang begitu privat. Iya, melahirkan di klinik bidan cenderung sepi dan suasananya seperti ruangan milik sendiri. Kalau di rumah sakit, harus pesan VVIP dulu baru dapat fasilitas yang begitu. Dan pasti mahal. BPJS tidak memfasilitasi itu.

Dari sisi sang bayi, katanya sih, bayi yang lahir normal cenderung memiliki kekebalan tubuh yang tinggi. Kematangan emosi dan pikiran yang lebih stabil karena dilahirkan sesuai waktu alamiahnya. Katanya begitu.

 

Sedikit Cerita Tentang Kehamilan

Saya bukan termasuk Ibu hamil yang malas. Saya olahraga kecil, memperhatikan makanan, dan sama sekali tidak merasakan kelelahan yang harus sampai dilarikan ke rumah sakit. Kaki saya juga tidak bengkak. Rajin yoga, berenang, mengepel, naik turun tangga (kamar di atas) dan jalan-jalan. Saya ingin lahir secara normal. Maka, saya juga harus membantu bayi saya untuk mendapatkan posisi yang bisa mendukungnya bersalin normal.

Awalnya saya meragukan kemampuan saya karena saat uk 30 minggu bayi masih dinyatakan sungsang. “Mau lahiran sesar apa normal, Mbak?” saya jawab dengan santainya, “Terserah bayinya, mau sesar mau normal yang penting dia bahagia.” Ya, saya menjawab seperti itu karena saya tidak ingin terlalu berat memikirkan persalinan nanti. Kalau pun harus sesar, saya memang harus siap. Jawaban saya di dengar seorang Ibu dengan empat orang anak. Beliau pun menambahkan, “Jangan gitu, kata adalah doa. Kalau mantap mau melahirkan normal, ya bilang aja tegas akan melahirkan normal.  Jangan ragu.” Dan sejak itu saya membentuk kembali keyakinan saya. Sampai usia kehamilan 34 minggu, posisi bayi sudah dinyatakan normal oleh dokter.

Memasuki minggu-minggu berikutnya, dokter menyarakan agar saya banyak jalan. Jalanlah saya, pagi sore ditemani suami sekitar 20 sampai 30 menit. Sesekali juga berenang, setelah dokter mengizinkan. Masak sih, saya nggak bisa melahirkan secara normal.

 

Bayi Malah Naik Panggul 

18 April 2019 kami datang lagi ke dokter. Kata dokter, bayinya malah semakin menjauh dari panggul. Akhirnya dokter mengusulkan operasi. Sebelumnya, saya dan suami sepakat untuk menunggu lagi sampai Senin, 22 April 2019. “Mungkin kita juga harus tegas menjadi orang tua. Lahir kapanpun memang terserah si bayi, tapi kita juga harus kasih tenggat waktu. Dari pada stres nunggu akhirnya ketuban keruh, kan malah bahaya,” kata suami. Akhirnya kami putuskan menunggu sampai 22 April 2019. “Kalau adek tidak juga keluar, nanti dibikinin jalan dokter loh… gimana? Kalau adek nggak suka, ayo kita sama-sama usaha. ”

Dokter menyetujui permintaan saya  untuk menunggu sampai tanggal 22 meskipun sedikit ragu. Tanggal 18 itu juga, dokter memberi rujukan pada kami untuk operasi tanggal 22. Kami diminta booking kamar tanggal 18 itu juga. Kalau-kalau tidak ada kamar.

Saat kami booking kamar, petugas administrasi bilang akan segera dibuhungi via telfun jika kamar ada. Nyatanya, sampai pagi menjelang operasi kami tidak dihubungi.

 

Hari Pasrah Untuk Menanti

Hati kecil, sebenarnya masih ingin mengusahakan melahirkan dengan cara normal. Ada satu bidan di kota saya, yang katanya cukup berani ambil keputusan. Saya pun mendapat kontaknya detik-detik terakhir menjelang tanggal 22 April. Mau bilang suami pun tidak berani. karena kita sepakat untuk pasrah. Tidak melakukan usaha apapun yang membuat bayi lahir sesuai kehendak kita. “Biarkan jalan dengan sendirinya,” kata suami.

Kami menghabiskan waktu menjelang tanggal 22 dengan melakukan wisata kuliner, belanja, dan jalan-jalan. Bahkan saya dapat satu tas diskon. hehehe. Sempat galau karena pihak rumah sakit tidak juga menghubungi kami perihal ketersediaan kamar. 

Saya dan suami pun, tidak menghubungi ulang karena kesepakatan tadi. Selama menunggu tanggal 22, kami tidak akan mengusahakan apapun terkait persalinan. Termasuk menghubungi ulang pihak rumah sakit terkait pendaftaran yang kami lakukan tanggal 18. 

 

Siapkah Untuk Operasi?

Sampai tanggal 21 April 2019, tanda-tanda juga belum nampak. Padahal, masih berharap gelombang cinta itu datang. Saya pun, punya perasaan untuk membatalkan operasi. Baru 41 minggu. Saya ingin menunggu sampai 42 minggu.

 

Antara Keyakinan yang ditantang Ketakutan

Anak pertama, rasa ketakutan akan kehilangan atau tak jumpa pasti ada. “Ini masalah nyawa,” begitu kata suami waktu saya mengusulkan untuk menunda. Saya terdiam. Sudah di titik inikah saya? Bahkan saya tidak peduli dengan nyawa saya sendiri. Mungkinkah saya yang disalahkan jika ada sesuatu yang terjadi dengan si bayi dan saya baik-baik saja?

Saya membujuk suami agar mau mengantar ke bidan yang membuat saya penasaran. Malam hari di tanggal 21 April saya baru mendapat nomor bidan itu. Sebelum saya mengajak ke bidan itu, saya cerita dulu ke suami tentang kiah-kisah heroik wanita saat melahirkan secara normal. 

Apa balasan suami saya?

Dia meminta saya membaca tulisan temannya yang sudah tiga tahun menikah tak kunjung punya anak. Bukan mereka tanpa usaha. Mereka berusaha keras mendapat momongan. sampai akhirnya diberi di usia pernikahan yang ke tiga. Sedangkan kita, saya dan suami, diberi momongan sebelum kami memohon sungguh-sungguh. Sebelum usia pernikahan kami menginjak satu tahun. “Kamu harus bersyukur, sebagai perempuan kamu bisa merasakan hamil, masih banyak perempuan yang belum hamil bagaimana mereka punya keinginan bersalin normal atau sesar? Syukuri saja apa yang dipersembahkan semesta untuk besok,” kata suami.

 

Bersambung

Baca Juga :

Antara Keyakinan dan Ketakutan (Kelahiran Part 2)

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Persalinan yang Mendewasakan Kami sebagai Pasangan (Kelahiran Part 1) […]

trackback

[…] Persalinan yang Mendewasakan Kami sebagai Pasangan (Kelahiran Part 1) […]

Go Top