Misteri Susu Hamil

Tulisan ini saya tujukan bagi Ibu-Ibu muda yang baru pertama kali hamil. Atau teman-teman yang baru saja menikah, dan berencana untuk program hamil. Kenapa saya sampai menulis cerita ini? Tentu saja berangkat dari pengalaman di kehamilan pertama saya saat ini. Kebetulan, suami punya dua kakak yang baru saja melahirkan tahun lalu dan yang satunya dua tahun lalu. Keduanya punya komentar berbeda tentang susu hamil. Kakak yang pertama, sebut saja Kakak Madiun. Saat hamil, setiap hari rutin minum susu. Tidak ada larangan juga dari dokter. Oh, ya…. untuk Kakak Madiun ini, dari awal kehamilan dia sudah berniat untuk melahirkan dengan cara operasi caesar. Sedangkan kakak kedua, sebut saja Kakak Pasuruan. Dia punya tekat untuk melahirkan normal. 

Sebelum saya jelaskan panjang lebar, alangkah baiknya Bu Ibu pembaca tidak salah paham soal pandangan saya tentang melahirkan caesar ataupun normal. Bagi saya, prioritas tetap melahirkan normal. Tapi, kecanggihan teknologi juga harus membuka pandangan kita, bahwa ada hal-hal yang terpaksa harus dilakukan di dunia medis untuk mengurangi tingkat kematian.

Baik, kembali ke pembahasan utama. Jadi, Kakak Pasuruan bertanya pada dokter tempat dia periksa kandungan di Pasuruan sana apakah minum susu hamil itu diperlukan? Dokternya dengan nada kecut menjawab, “Ya, kalau mau lahir caesar, minum susu hamil tidak apa-apa.” Akhirnya, Kakak Pasuruan memilih tidak minum susu hamil selama kehamilan.  Kebetulan, isteri teman yang tinggal di Malang juga hamil. Dia bilang, isterinya tidak  minum susu hamil agar anaknya kuat. Begitukah alasannya? Jengkel karena tidak ada penjelasan ilmiah dari mereka, akhirnya saya minum susu UHT karena rasanya enak. Begitu saja alasan saya. Waktu ditanya dokter, saya juga menjawab minum susu UHT. Dokter pun membolehkan di trisemester pertama kehamilan saya.

Baca Juga :

Berikut, Kiat Saya Menjadi “Sandwich Generation”

 

Galau Susu Hamil 

Ketika ada kelas untuk Ibu Hamil di Puskesmas, bidan dan dokter gigi menjelaskan soal nutrisi Ibu hamil. terutama, soal makanan yang mengandung kalsium dan asam follat. Kalsium penting untuk pembentukan tulang. Apabila asupan kalsium untuk janin yang didapat dari makanan tidak cukup, bisa-bisa janin menggerogoti kalsium Ibu. Akibatnya, gigi berlubang, tulang rasanya nyeri. Begitu kata bidan dan dokter gigi. Katanya lagi, penting Ibu Hamil untuk minum susu Ibu Hamil. Kemudian saya bertanya, kalau susu UHT bagaimana? Bidannya menjawab, lebih baik susu hamil. Karena susu UHT takutnya kandungan gulanya lebih banyak dari pada susu hamil. Dan susu hamil memang dibuat kusus untuk Ibu hamil. Jadi lebih baik susu hamil saja yang dikonsumsi.

Ya Allah, tenyata sebegini galaunya minum susu hamil atau enggak. Hehehe maklum ya heboh belum berpengalaman. Akhirnya saya browsing-browsing dan membaca buku. Dan konsultasi lebih rinci lagi dengan dokter spesialis kandungan yang menangani saya. Akhirnya, beliu menjelaskan hal yang membuat saya lega. “Mau minum susu hamil atau tidak itu tergantung kebutuhan nutrisi ibu dan bayinya. Jangan sampai berlebihan juga jangan sampai kurang. Kalau merasa sudah cuku tanpa susu hamil, ya tidak apa-apa minum susu hamil. Kalau dirasa kurang, ya minum saja. Sementara, saya ijinkan minum susu UHT. Apa aja yang kandungan nutrisinya bagus dan bisa masuk, tidak mutah saya ijinkan. Karena trisemester pertama masih dalam masa pembentukan sel, organ, dan jaringan awal. Nutrisi yang masuk harus beragam. Yang terpenting vitamin yang saya beri, harus dihabiskan,” 

Baik, saya putuskan ikuti anjuran salah satu dokter spesial senior di Madiun (suami  melahirkannya juga dibantu beliau) yaitu dokter Suwardi. 

 

Trisemester Kedua Kata Dokter, Minum Susu Hamil

Saya suka sekali susu UHT. Segar. Apalagi kalau diminum dingin-dingin gitu. Waktu browsing-browsing dan nemu forum Ibu Hamil, ternyata tidak sedikit Ibu-Ibu yang awaktu hamil minum susu UHT dan sekarang anaknya sudah besar juga tumbuh dengan sehat. Semakin optimislah saya, bahwa susu UHT aman dikonsumsi Ibu Hamil.

Dalam logika saya, penghujung trisemester pertama dan trisemester kedua adalah waktu yang penting bagi janin untuk membentuk jaringan tulangnya. Pastinya, kalau membentuk tulang, butuh kalsium lebih. Akhirnya, saya minum susu UHT tinggi kalsium rendah lemak.

Tiba-tiba waktu periksa ke dokter Suwardi lagi di trisemester kedua, beliau tanya lagi, “Minum susu?”; “Susu UHT, Dok,” jawab saya. “Ganti susu hamil ya,” jawab dokter. Saya tidak lanjut bertanya kenapa. Rasanya, sudah yakin saja bahwa petunjuk medis yang dititipkan Allah untuk saya dan anak saya, ada pada dokter ini.

Bismillah ganti susu hamil.

 

Penghujung Trisemester ke-3. Hentikan Minum Susu

 Ceritanya, nggak boleh cinta berlebihan nih. Waktu saya cinta-cintanya sama susu UHT rendah lemak tinggi kalsium, dokter malah menyarankan ganti susu hamil. Saya pun nurut. Saya minum susu hamil rasa stroberry. Sumpah itu enak. Apalagi siang-siang tambah es. Itu enak. Oh ya, mitos tentang es yang katanya bikin bayi jadi lebih besar di dalam perut ternyata itu cuma mitos loh. Secara ilmiah, yang bikin besar itu kandungan gula dan lemak yang ada pada es. Tapi kalau es batu yang bahan dasarnya air putih, hanya untuk mendinginkan minuman ya tidak bikin besar. Kapan-kapan saya share detailnya. Itu juga hasil berguru dengan bidan instruktur yoga saya (bukan bidan puskesmas).

Ketika kehamilan saya menginjak usia 32 minggu, dokter Suwardi tanya lagi tentang susu apa yang saya minum. Tentu saja, saya jawab susu hamil rasa stroberi. Heheh selengkap itu tanpa sebut merk. Kemudian kata dokter Suawardi, “Susu hamilnya dihentikan saja kalau mau melahirkan normal. Takutnya nanti pas kelahiran bayinya terlalu besar,”

Berat bayi saya dalam kandungan setiap periksa selalu normal sesuai usianya sebenarnya. Tapi kandungan nutrisi yang dibutuhkan setiap trisemester bahkan setiap harinya mungkin berbeda. Mungkin itu juga alasan dokter awalnya mengizinkan saya untuk minum susu UHT, kemudian diminta ganti susu hamil, sampai akhirnya diminta berhenti minum susu. Dokterlah lebih tahu.

 

Kesimpulan Saya Soal Susu Hamil

Sekali lagi, saya bukan ahli medis. Saya hanya membagikan cerita tentang apa yang saya alami. Mungkin bisa dijadikan referensi pandangan. Tapi bukan untuk dijadikan jalan. Allah memberikan kelebihan dan kekurangan pada setiap manusia itu berbeda. Setiap Ibu di dunia ini, juga tidak sama masalahnya. Suatu tindakan, pasti disebabkan karena suatu alasan.

Soal susu hamil, masalah boleh atau tidak boleh minum susu hamil, menurut saya bukan perkara ingin lahir normal atau melalui operasi caesar. Melainkan lebih kepada masalah nutrisi. Soal apa yang diperlukan Ibu dan bayi dalam kandungan pada setiap usia kehamilan. Dokter bisa mengukur, perlu atau tidaknya tambahan nutrisi. Akhirnya konsultasi kepada dokter kandungan menjadi penting. Sebagai referensi, bagaimana kita harus bersikap dengan dasar pertimbangan logika medis yang ilmiah. Jadi, kesimpulan saya tentang susu hamil ya, konsultasikan pada dokter yang sevisi dengan kita. Oh, ya cari dokter yang sevisi itu juga kaya cari jodoh loh. Kapan-kapan deh saya cerita. 

Semoga tulisan ini bermanfaat yaaa……

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top