Berikut, Kiat Saya Menjadi “Sandwich Generation”

Harta yang berharga
Adalah keluarga
Istana yang paling indah
Adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna
Adalah keluarga
Mutiara tiada tara
Adalah keluarga

 

Kok jadi nyanyi? Hehehe. Siapa yang tidak kenal film keluarga cemara? Tapi di artikel ini, saya tidak sedang membahas tentang keluarga cemara. Lirik soundtrack keluarga cemara yang saya jadikan pengantar di artikel ini, hanya ingin menunjukkan betapa indahnya makna sebuah keluarga. 
 
Apakah makna keluarga benar-benar seindah lirik lagu tersebut? Semoga memang begitu adanya karena keluarga adalah perantara Allah untuk mengenalkan kita pada cinta pertama yang tulus di dunia. Menurut saya memang hanya sebatas perantara karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang langsung dari Allah dan Rasulullah. Sudah, saya tidak ingin membahas banyak-banyak soal agama karena pengetahuan saya tentang agama juga masih belum sempurna. Kurang lebihnya begitu gambaran keluarga di mata saya.
 

Bagaimana jika Keluarga Membuat Hidupmu Jadi Terimpit?

Terimpit seperti sandwich? Saya belum menemukan sumber yang sesuai mengenai bagaimana kata sandwich generation diperkenalkan awal mulanya. Kata sandwich generation banyak dimunculkan dari penasihat keuangan, lembaga-lembaga keuangan dan juga psikolog. Banyak yang mengatakan posisi sandwich adalah posisi yang membahayakan dari sisi keuangan, parenting style, dan juga kesehatan mental. Sehingga,, banyak artikel yang menyarankan para sandwich generation ini untuk bekerja lebih giat lagi, kemudian menabung, menyiapkan investasi, mengencangkan ikat pinggang, dan lain sebagainya. Sedangkan soal psikologinya, lebih banyak artikel mengarah pada masalah parenting karena pasti ada campur tangan orang tua dalam pengasuhan anak. 

Apa sih, sebenarnya sandwich generation itu? Menurut pakar psikologi dari Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana mengungkapkan generasi sandwich merupakan generasi yang bertanggung jawab mengurusi generasi di atas dan di bawahnya, sekaligus memenuhi kebutuhannya sendiri. Generasi di atas generasi sandwich adalah orang tua dan mertua. Sedangkan generasi di bawah generasi sandwich adalah anak, adik, atau  keponakan.

Kesannya memang ngeri-ngeri sedap. Bukan hanya soal keuangan saja yang jadi masalah. Bagaimana kita menciptakan rumah yang nyaman dengan perbedaan generasi yang begitu mencolok menurut saya juga penting. Saya sepakat dengan pendapat pakar psikologi dari UI Vera Itabiliana. Dia berpendapat, “Generasi sandwich mengurusi semua kebutuhan, mulai dari keperluan rumah tangga, masalah kesehatan, hingga jalan-jalan ke mal. Namun, generasi ini tidak merasa disulitkan saat mengurusi kebutuhan orang tua sekaligus anak. Sebab, keluarga adalah hal terpenting dalam hidup mereka. Mereka malah merasa bersalah jika kebutuhan orang tua dan anak ada yang tidak terpenuhi.” —– sumber : Republika.co.id.

 

Sandwich dalam Posisi Saya

Sebelum saya jabarkan kiat bahagia menjadi sandwich generation, saya jabarkan terlebih dahulu tentang posisi saya sebagai sandwich. Pertama, orang tua saya tinggal satu yaitu Ibu. Sebenarnya, tidak ada kesulitan dalam merawat Ibu karena beliau Alhamdulillah sehat dan masih aktif ikut pengajian sana-sini. Hanya saja, saya tidak tega kalau harus berjauhan dengan Ibu untuk bekerja di luar kota. Biaya kuliah adiklah yang cukup menantang. Saat ini, dia sedang menempuh pendidikan S1 fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Sedangkan saya sendiri, memilih untuk menikah dan berkeluarga di saat adik dan Ibu saya membutuhkan saya.

Pasti banyak yang bertanya, “Kenapa tidak diselesaikan dahulu kuliah adiknya? Kan, bisa berasama-sama merawat Ibu setelah dua-duanya bekerja?” 

Jika ada suatu perusahaan dengan kondisi, “hidup segan, mati takmau” dan anda menjabat sebagai penentu kebijakan dari perusahaan tersebut, apa yang akan anda lakukan? Saya memilih untuk segera memberi vaksin di perusahaan tersebut. Lalu, bagaimana kalau pemberian vaksin tersebut membutuhkan tim yang lebih solid? Ya, solusinya adalah menambah anggota tim. Tentu ada konsekuensinya. Jelas. Begitulah saya menganalogikan kondisi keluarga saya bersama adik dan Ibu saya kemudian saya putuskan untuk menikah.

Wah, kalau begitu saya menjadikan pernikahan saya sebagai pelarian dari keluarga lama saya dong? Jujur, saya benar-benar jauhkan pemikiran tersebut. Pernikahan bukanlah sebuah bentuk pelarian atas permasalahan keluarga lama kita. Pernikahan juga bukanlah solusi suatu masalah dari hidup kita. Tapi pernikahan bagi saya, adalah bagaimana kita membangun tim kebaikan diri sendiri, keluarga, dan orang-orang tersayang di sekitar kita.

Akhirnya, jadilah saya yang sekarang. Merawat Ibu dan membiayai kuliah adik. Mengurus diri sendiri sekaligus anak. Berat? Berat, ringan tergantung ke-ikhlasan hati kita masing-masing. Benar, kata psikolog Vera Itabiliana jika kita menganggap keluarga adalah hal yang terpenting, cinta yang paling dalam di dunia, apapun yang menjadi tanggung jawab kita soal mereka akan terasa ringan di hati.

 

Kiat Saya Menjadi Sandwich Generation

Sebelum saya tulis poin-poinnya, alangkah baiknya jika anda yang kebetulan membaca artikel ini, menata hati dulu agar ikhlas menjadi sandwich generation.  Sedikit cerita, waktu itu saya belum berkeluarga. Saya sudah menjadi sandwich diantara Ibu dan Adik saya. Sejak Ayah saya meninggal dunia, sayalah yang bertanggung jawab atas biaya hidup Ibu dan Adik saya yang sedang kuliah. Seorang teman menasihati agar saya tidak perlu khawatir dengan posisi saya. Adik dan Ibu saya adalah bagian dari tim saya untuk berjuang hidup bersama. Sampai saya bertemu dengan suami saya sekarang, dan dengan segala resiko dia menawarkan diri menjadi anggota tim ini dengan cara menikahi saya.

Saya begitu menghargai maksud baik suami saya. Sampai hari ini, saya tidak percaya bisa melewati satu-satu dengan perasaan yang begitu bahagia. Bukan beban. Berikut, kiatnya versi saya :

 

1. Iklas dan Empati

Sedikit, saya sudah menyinggung soal ikhlas di pengantar kiat menjadi sandwich generation.  Menurut saya, ikhals adalah kunci utama untuk kita menjalani kehidupan yang sudah digariskan-Nya. Tidak usah banyak-banyak saya ulas. Selain ikhlas, empati juga penting. Masak iya sih, kita tega menelantarkan orang-orang yang kita sayang begitu saja. Bagaimana mengolah perasaan, agar kita tidak menyalahkan orang tua yang tidak mempersiapkan hari tuanya? 

Kita tidak pernah tahu bagaimana orang tua kita ditempa berbagai pengalaman hidup hingga mendidik kita menjadi seperti sekarang ini. Bukan berarti kelak kita juga tidak memikirkan hari tua kita dan membebankan seluruhnya pada anak kita, tapi dari keadaan sandwich ini kita bisa belajar. Kita juga bisa lebih memahami. hingga terbentuklah empati sehingga kita terdorong untuk melakukan berbagai antisipasi agar anak kita kelak tidak menjadi generasi sandwich.

 

2. Komunikasi

Komunikasi tanpa rasa iklas ibarat dua batu yang sedang bertubrukan. Terus keduanya saling membenturkan. Bisa jadi keduanya mengalami kesakitan. Oleh karenanya, ikhlas saya tempatkan yang pertama sebelum komunikasi. 

Bagi saya, komunikasi dalam keluarga harus dilakukan secara terbuka. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi.  Dengan calon pasangan juga harus terbuka. Sebelum saya menikah, saya menceritakan kepada calon suami saya tentang tanggung jawab yang harus saya tuntaskan. Bukannya mundur, dia malah bilang, “ya sudah, kita tuntaskan bersama.”

Komunikasi tanpa ditutup-tutupi ini yang membuat perasaan ikhlas kami semakin bertumbuh dan mendewasakan kami sebagai pasangan baru dalam berpikir. Setelah bagi tugas antara saya dan suami bisa berjalan dengan baik, bagi tugas bersama Ibu dan Adik pun kembali saya atur berlahan. 

 

3. Atur Waktu dengan Baik

Seperti manusia pada umumnya, saya butuh waktu untuk diri saya sendiri. Saya butuh waktu untuk keluarga secara keseluruhan. Saya juga butuh waktu bicara dengan mereka sendiri-sendiri. Saya juga butuh waktu untuk bekerja lebih giat lagi, dan saya juga butuh waktu untuk belajar dan istirahat.

Saya harus mengurangi kegiatan A untuk memaksimalkan kegiatan B. Kalau tidak saya atur dengan baik, saya kelelahan atau stres, malah akan membuat komunikasi berantakan. Akhirnya, meluapkan kemarahan pada keluarga. Padahal, mereka tidak hanya butuh kehadiran kita saja, tapi juga butuh rasa aman dan damai dari kita. Oleh karenanya, kita harus atur waktu kita untuk kegiatan yang positif agar keluarga juga menerima energi positif tersebut.

 

4. Strategi Keuangan Cukup

Kalau energi psositif berkumpul dalam satu rumah untuk saling menguatkan, lebih mudah juga mengatur hal yang sensitif satu ini. Keuangan. Hehe.  Keluarga lama saya (Ibu, adik, dan saya) mungkin terbiasa hidup lebih dari cukup dengan adanya Ayah sebelumnya. Tentu saja, sepeninggal Ayah, kauangan harus diatur dengan baik. Sebelum menikah, jujur saya sempat keteteran. Tidak hanya pengaturan masalah keuangan, tapi juga komunikasi dan pembagian tugas sebagai sebuah tim dalam keluarga. 

Menikah bukan pelarian. Tapi Alhamdulillah, Allah menunjukkan solusi. Jadi, dalam mengatur keuangan, saya dan suami sepakat untuk kebutuhan setiap harinya, termasuk listrik, air, makan untuk Ibu, saya, dan anak saya suamilah yang bertanggung jawab. Sedangkan saya, bertanggung jawab untuk biaya kuliah adik dan pemenuhan kebutuhan sekunder serta tersier. Pengaturan ini, kami tetapkan karena kebetulan suami saya seorang karyawan di perusahaan swasta dengan gaji yang cenderung tetap. Sedangkan saya sebagai freelancer mungkin gaji bisa lebih besar, tapi setiap bulannya belum pasti. Dengan cara itu pulalah kami menghindari kredit dan berupaya hidup cukup.

Setiap rumah tangga pasti memiliki visi, misi dan pengaturan keuangan sendiri-sendiri disesuaikan dengan pemasukan dan pengeluaran setiap keluarga yang berbeda-beda. Oleh karenanya, tadi di atas saya jabarkan sedikit tentang posisi saya sebagai sandwich generastion  agar anda bisa melakukan studi perbandingan antara kasus anda dan kasus saya. Memang setiap kasus tidak bisa disamakan. Tapi paling tidak bisa dijadikan pelajaran. 

 

5. Doa

Terakhir dan yang paling penting adalah usaha. Katanya, usaha tanpa doa artinya sombong. Sedangkan doa tanpa usaha adalah pemalas. Usaha dan doa tentu harus beriringan. Ketika Adik saya bingung bagaimana kuliahnya kelak sepeninggal Ayah, saya bilang padanya, “Jika Allah merestuimu belajar dan kuliah disana, pasti semua usaha kita dilanjarkan. Tapi jangan sombong, karena kampus yang menjadi tempat kamu belajar sekarang adalah anugerah-Nya.”

Saya juga mengalami ketakutan sendiri ketika menikah dan punya anak akan menjadi beban tersendiri. Awalnya, saya berniat menunda punya anak. Tapi suami bilang, “Anak itu bukan beban, tapi dia amanah sekaligus anugerah. Kalau memang Tuhan memberikan kita anak lebih cepat dengan keadaan sekarang, berterimakasihlah karena kamu diberi anugrah menjadi perempuan kuat,”

Dan akhirnya, banyak hal yang saya tuntaskan di masa-masa kehamilan saya. 

 

Penutup 

Tulisan ini, pada dasarnya hanyalah tulisan subyektif hasil dari pengalaman dan pendalaman saya sebagai sandwich generation. Tidak cukup digunakan sebagai refrensi. Tapi mungkin cukup dijadikan pembelajaran. Jangan kapok berkunjung di blog ini. Mari kita jalin silahturahmi. 

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
NurulRahma Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
NurulRahma
Guest

Whoaaa, insight yg menarik banget! Thanks for sharing yak

Go Top