Sakit Itu Mahal, dan Hamil itu Bukan Sakit

Sebelumnya, saya mohon izin pada sahabat pembaca jika saya bagikan kegelisahan saya di blog ini. Ya Allah, hamil-hamil kok gelisah. Semoga setelah menuliskannya jadi membaik lagi ya… Jadi begini, kehamilan saya sudah menuju 32 minggu. Itu artinya, sebentar lagi saya akan melahirkan. Diperkirakan pada 15 April 2019.

Saya ingin cerita dulu. Dari awal kehamilan, saya tanamkan di benak saya bahwa hamil itu bukan penyakit. Ibu hamil itu tidak sakit. Dia hanya mengalami fase perubahan tubuh karena memang begitulah Allah memberikan anugrah pada seorang perempuan. Disyukuri, dijalani, begitu saja, dan saya yakin semua akan baik-baik saja.

Alhamdulillah sampai kehamilan di usia sekarang ini, saya tidak mengalami keluhan yang signifikan. Saya masih aktif bekerja, disamping juga tidak saya lupakan pemenuhan gizi untuk diri saya dan jabang bayi. Memang saya tidak sakit. Makanan bergizi pun sebenanarnya sangat dianjurkan justru untuk orang sehat dengan tujuan mencegah sakit. 

Sekali lagi, kehamilan itu bukan sakit. Jikalau saya lebih perhatian soal gizi dan asupan makanan yang saya makan, mungkin alamiahnya seorang Ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dan ini, juga suatu bentuk latihan pada diri saya sendiri untuk menjaga pola hidup yang lebih sehat dan alami. 

 

Kegelisahan Menuju Hari Kelahiran

Oke, kembali pada masalah kegelisahan saya menjelang kelahiran. Dengan sugesti dari awal kehamilan yang seperti itu, bahkan saya membayangkan bisa melahirkan di rumah dengan bantuan bidan saja. Berharapnya, bidan itu mau datang ke rumah. Atau, saya datang ke rumah bidan yang menyediakan tempat bersalain, suananya hommy, dan cukup disana setengah hari. Pagi melahirkan, istirahat sebentar, dan sorenya pulang. Kan saya nggak sakit. Saya hanya numpang lahiran saja. Karena saya tidak terlalu paham ilmu kelahiran secara medis, ya makannya saya minta bantuan bidan. Sebatas itu aja, kan?

Sayangnya sampai hari ini, saya belum menemukan bidan yang pas. Menemukan bidan dan dokter Sp.Og yang pas, itu seperti mencari jodoh yang tiba-tiba klik aja. Selama hamil, saya memang lebih banyak periksa ke satu salah satu dokter senior di Madiun. Hasil dari rekomendasi mertua. Karena kelahiran anak-anaknya sampai cucu-cucu sebelunya dibantu dokter senior itu. 

Karena khayalan melahirkan di rumah sendiri itu mustahil, saya mencoba realistis. Kakak ipar saya mengusulkan agar saya melahirkan di Rumah Sakit kusus Ibu dan Anak. Ada memang di Madiun. Sayangnya, dokter Sp.Og yang rutin memeriksa saya, tidak praktik di di situ lagi. Singkat cerita saya surve rumah sakit-rumah sakit tempat praktik dokter Sp.Og itu.  Dari pada ya, pas udah hari H lahiran kita buta soal vendor-vendor lahiran akhirnya milihnya asal. Asal bisa bayar juga ndak apa… Hehehe.

 

Kalau Bisa jangan di Rumah Sakit, lah…

Lah, kan saya ndak sakit. Jadi ya nggak usah melahirkan di rumah sakitlah. melahirkan itu bukan sakit. Kalau harus caesar gimana? Caesar kan kalau ada masalah. Caesar juga merupakan produk kecanggihan teknologi di dunia medis. Apa salahnya caesar kalau bisa mengurangi resiko kematian Ibu atau bayi pada saat melahirkan? 

Tapi saya selalu berdoa semoga bisa lahir normal. Kalau bisa lagi, lahirannya di rumah saja. Atau di rumah bidan. Hehehe. Seetelah saya melakukan surve di beberapa rumah sakit di Madiun, akhirnya saya membuat kesimpulan diperlukan uang minimal 10 juta untuk mendapatkan fasilitas persalinan terbaik. Fasilitasnya paling kamar berkelas, obat-obatan, dan berbagai tindakan yang dilakukan pada saat persalinan. 

Apa saja tindakannya? Bagian informasi hanya menjawab tergantung dokternya. Ya Allah, saya ingin diperlakukan seperti orang normal yang mau ngejan bukan orang sakit yang harus ditindak sana-sini.  Kalau kehamilan dianggap sakit, pantas saja biaya bersalin mahal. Karena perawatan orang sakit itu mahal. Tapi mana ada orang sakit itu beryukur? Sedangkan saya, begitu beryukur karena mengalami proses kehamilan sampai melahirkan. Seandainya saya bisa bilang, “Jangan rusak rasa syukur saya dengan kata-kata sakit, melahirkan itu sakit, lebih kejam lagi, melahirkan itu penyakit. 

 

Ingin Suasana Melahirkan di Rumah

Lahir, nyusuin, istirahat, nyusui lagi. Semudah itu bayangan saya tentang proses melahirkan. Kalau di rumah, kemungkinan masih bisa. Bayi pun, tidak akan dipisahkan dari Ibunya dengan jangka waktu yang lama. Itu harapan sederhana saya ketika melahirkan di rumah. Bukannya di rumah sakit juga gitu?

Waktu saya surve ke rumah sakit-rumah sakit di Madiun, saya juga menanyakan soal berapa lama nanti saya akan berpisah dengan bayi saya setelah melahirkan? Jawab mereka tergantung dokternya. Apakah ada konsultan laktasi? Apakah rumah sakit ini pro Inisiasi Menyusu Dini? Beberapa memang jawaban memuaskan. Meskipun ada yang tidak memuaskan. Dan memuaskan atau tidaknya, seolah sudah menjadi sepantasnya jika pelayanan dan fasilitas memang dilihat dari harga. 

Hal yang paling membuat saya gelisah adalah, saya tidak bisa memastikan apakah tempat bersalin yang saya pilih pro ASI atau hanya simbolis saja. Dan satu lagi, soal berapa lama Ibu dan bayi dipisahkan setelah kelahiran. Seandainya ada review dari Ibu-Ibu milenial yang bisa saya temukan di internet. Sayang sekali, Madiun termasuk Kota Kecil. Belum ada blogger yang mengulas bagaimana bersalin di suatu rumah sakit tertentu di Madiun. 

 

Memutuskan Senormal Mungkin

Tidak hanya proses melahirkannya saya yang berharap bisa normal. Akhirnya, saya suami sepakat agar saya melahirkan di Rumah Sakit Ibu dan Anak dengan kendali dokter yang berbeda. Bukan dokter yang biasa memeriksa saya secara rutin setiap bulannya. Namun sebenarnya, saya lebih ingin melahirkan bersama bidan. Tentu saja dengan suasana yang hommy

Ya, setidaknya rumah sakit yang saya pilih, memang dikususkan diperuntukkan Ibu yang mau bersalin dan anak yang sedang sakit. Harganya pun juga normal, bisa kami jangkau dengan BPJS. Kapan-kapan deh, saya akan bahas tentang BPJS juga tentang kesepakatan saya dan suami untuk tidak menggunakan produk asuransi.

Sejujurnya, saya heran dengan biaya bersalin yang begitu mahal. Padahal bukan jenis melahirkan di air. Padahal itu juga melahirkan normal bukan caesar.  Lantas bagaimana ya, kalau dokternya atau bidannya bisa diminta datang ke rumah? 

Baca Juga :

Berikut, Kiat Saya Menjadi “Sandwich Generation”

 

 

 

 

 

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Jihan FauziahBunda Erysha (yenisovia.com) Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Bunda Erysha (yenisovia.com)
Guest

Wah-wah aku baru pertama kali lho baca dan tahu ada seorang calon ibu yang ingin melahirkan di rumah. Biasanya aku tahunya di luar negeri aja dan aku salut dengan pikiran itu mba. Kenapa? Karena tidak banyak perempuan yang berani seperti itu. Aku juga nggak berani. Walau berani atau tidak berani itu bukanlah hal salah juga karena pasti banyak pertimbangannya. Kalau saya 3 tahun yang lalu melahirkan dengan sesar di klinik bersalin. Kebetulan juga klinik itu ada buat cesarnya juga. Jarang ya yang begitu. Apapun pilihan mba semoga lahirannya lancar ya, dimudahkan dan ibu ama anaknya sehat 😘😘😘

Go Top