Teladan Anak Semua Bangsa – Premoedya

“Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu” – hal 72-73  – Anak Semua Bangsa

 

Suatu hari jika anak saya bertanya, “Ibu, bagaimana gambaran tingkah manusia di dunia sejatinya?” Maka akan saya jawab, “coba baca buku Bumi Manusia karya Pramoedya. Kemudian, jika dia lanjut lagi bertanya, “Ibu, mengapa aku harus belajar ilmu dunia?” Maka akan saya jawab, “coba buku Anak Semua Bangsa karya Pramodya.” Tapi, jika dia tanya, “Ibu, kenapa ilmu dunia dan akhirat harus seimbang?” Maka, akan saya jawab, “coba dalami Al-Quran,”

Masih dalam latar waktu tahun 1800an, Anak Semua Bangsa karya Pramoedya. Salah satu dari seri tetralogi Pulau Buru yang mendunia. 545 halaman, tepat akhir bulan Februari selama satu bulan saya menyelesaikannya. Banyak hal, yang bisa saya ambil dari buku tersebut. Kekaguman Minke pada bangsa Eropa, akhirnya terpatahkan setelah menyimak begitu dalam kehidupan petani desa yang diperlakukan semena-mena.

Apakah arti menulis dengan bahasa sendiri? Apakah arti mempelajari ilmu-ilmu Eropa yang memajukan peradapan bumi? Dalam cerita ini, Nyai Ontosoroh masih bertingkah sebagai peran utama. Mendukung Minke, untuk menulis dengan bahasanya sendiri. Begitu pula dengan Jean Maris. Tapi Minke, takubahnya batu yang keras. Percaya bahwa, keyakininannya pada Eropa dengan menulis gaya Eropa, akan berdampak pada kesuksesannya kelak. Sahabatnyapun sudah mengingatkan, “Tanpa mempelajari bahasa bangsa-bangsa lain, terutama Eropa, orang tak akan mengenal bangsa-bangsa lain. Bahkan tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri” — Anak Semua Bangsa – Hal. 158.

Lewat buku ini, saya akan bilang pada anak saya, “pelajari ilmu seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Pelajari ilmu sampai ke Negeri Eropa. Tapi, jangan lupa. Kau punya rumah auntuk pulang. Dan kauperlu membagikan apa yang kamu pelajari, untuk orang-orang yang membutuhkan. Terutama yang ada di negerimu agar kamu tahu siapa dirimu sebarnya.” Jadi, kenapa saya akan merekomendasikan buku ini untuk anak saya ketika dia remaja? Apa isinya?

 

Belajar Mengenali Diri Sendiri

Setelah kejadian yang sudah diceritakan pada seri buku pertama yaitu Bumi Manusia, Minke kini memutuskan untuk tetap melanjutkan hidupnya dan berupaya mengiklaskan Annelis yang dibawa ke Belanda oleh wali sahnya dihadapan hukum. Minke hendak pergi ke Betawi untuk melanjutkan kuliah kedokteran. Pikirnya, itulah tujuannya. Proses Minke dalam Anak Semua Bangsa, menurut saya adalah proses Minke untuk menemukan dirinya sendiri di penghujung remaja. 

Sebelum pergi memulai awal semester, Minke berlibur ke Tulangan bersama Nyai Ontosoroh. Berbagai fenomena yang menyentuh kemanusiaan Minke temukan dan membuat hatinya iba. Tak terbelesit di pikirannya, ada orang dengan kehidupan seperti Trunodongso. Seorang petani, yang mempertahankan tanahnya agar tak dijadikan perkebunan oleh Belanda.

Kegalauan Minke mulai menjadi. Antara ingin menuliskan kisah Trunodongso agar bisa membntu petani kecil dan Trunodongso lain dan korannya yang tidak mendukung tulisannya untuk disebar luaskan. Kegaguman Minkepada Eropa runtuh. Itulah titik dimana, Minke mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya. Lahir di Hindia, anak seorang Bupati yang berjaya, mendapat kesempatan sekolah di HBS, hidup yang derita jauh darinya. Kisah Trunodongso membuat dirinya ternganga. Dorongan menulis dengan bahasa sendiri akhirnya muncul juga dari hati. Saat Minke mampu mendengar dialog hatinya, saat itulah Minke tau siapa dia yang sebenarnya. Dan dia juga tahu, apa yang harus dilakukannya agar bermanfaat untuk semua bangsa. Terutama, bangsanya sendiri.

 

Mengontrol Emosi dan Lebih Rendah Hati

Meskipun lulusan HBS, dan banyak bergaul dengan orang-orang Belanda, dalam seri buku ini, Minke mulai sadar banyak hal yang dia tidak tahu sebenarnya. Pemahamannya pun dibenturkan oleh orang-orang baru yang dia temui seperti Trunodongso, Surti, dan ada lagi tokoh yang dia temui di kapal saat berlayar menuju Betawi. Apalagi pemahamannya yang hanya sebatas teori tak bisa ia bantah saat berhadapan dengan orang-orang yang lebih sering melihat kenyataan.

Dalam buku ini, Minke juga merasa orang-orang terdekatnya tidak lagi mendukungnya untuk berkarya pada jalan yang dia pilih. Marah, kesal, dan kecewa tentu saja membunjcam di hatinya manakala, orang terdekat memintanya mengambil jalan lain untuk menulis. Yakni, menulis dengan bahasa sendiri. Bukan Belanda. Disinilah, Minke belajar meredam emosinya. Belajar memahami mengapa harus mengapa orang-orang terdekatnya justru menyarankannya untuk menulis dengan bahasa sendiri. Apakah Eropa masih kurang megah untuk dikagumi? Nyatanya di akhir cerita, Minke menemukan kebusukan orang-orang Eropa sampai akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan orang-orang terdekatnya benar.

 

Memandang Bangsa Secara Menyeluruh

Tanpa Minke sadari, ternyata dia terlalu subjektif dalam menilai sekelilingnya. Dalam seri ini subjektifitasnya tergugah. Seperti anak muda yang bergelora semangatnya, Minke hampir selalu merasa benar dengan embel-embel lulusan HBS. Penolakan-penolakan dia terima awalnya dengan kemarahan. Mengapa begini mengapa begitu. Sampai akhirnya dia sadar pikirannya terlalu sempit untuk mencerna sesuatu. Proses seorang Minke untuk menjadi lebih dewasa kentara dalam seri Anak Semua Bangsa. 

Dalam buku ini, Minke juga dihadapkan ideologi-ideologi baru yang saya sarankan harus dipelajari kawula muda secara menyeluruh. Bukan asal mengatakan benar dan membenci ideologi lain karena tidak sepemikiran. 

Salah satu pandangan baru itu, tertuang dalam surat yang diterimanya ataupun dari cerita orang-orang baru yang ditemuinya seperti Khouw Ah Soe. Mereka mengenalkan Minke pada Filipina dan pergolakan masyarakat Tionghoa yang menyusul diakuinya kesetaraan antara Jepang dan Eropa di Hindia.  Sepenggal dialog menjelaskan potongan masa-masa awal Jepang mengalahkan Tiongkok lalu menjadi satu-satunya ras kulit berwarna yang dianggap sejajar dengan Eropa. Minke juga terkagum-kagum dengan Revolusi Perancis yang pada waktu itu memang menjadi pendorong berkembangnya paham-paham liberalis, demokrasi dan nasionalisme. Berbagai ideologi yang disajikan, Minke juga dibenturkan dengan realita Trunodongso. Seorang petani, yang sudah saya singgung di atas. Di bagian ini, Minke mempertanyakan ada di mana dia sekarang?

 

Akhir Cerita

Pramoedya mengakhiri cerita Minke sedikit menggantung. Mungkin, harus baca tetralogi selanjutnya yaitu Rumah Kaca agar lebih paham. Anak Tuan Melemma dari isteri Belandanya datang ke rumah Nyai Ontosoroh. Minke terpaksa membatalkan perjalananya ke Betawi dan membantu Nyai Ontosoroh melawan Melemma muda itu.

Jean Marias, Kommer, dan tak ketinggalan Darsam juga ikut membantu menyuarakan kegelisahan Nyai Ontosoroh yang sebenarnya juga kegelisahan mereka semua. Kegelisahan mereka yaitu, bagaimana Eropa atau Belanda menguasai Hindia dengan permainan modal sehingga banyak petani pribumi menderita.

Di seri pertama Bumi Manusia, sudah diceritakan bahwa hukum tidak memihakpada golongan pribumi. bahkan pengacarapun mundur. Sangat sulit bagi pribumi mendapatkan keadilan di mata hukum. “Kini yang bisa kita lakukan hanyalah bersuara,” kata Nyai Ontosoroh.

 

Detail Buku :

Judul Buku : Anak Semua Bangsa

Jumlah Halaman : 540

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

 

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Go Top