Membangkitkan Kembali Semangat Berkarya dari Hati

Berawal dari kegagalan saya akhir-akhir ini dalam mengikuti kompetisi menulis. Saya renungi, apa yang salah dari tulisan saya? Kenapa juri memilih pemenang yang itu? Kenapa bukan saya? Pertanyaan itu bergelayut di kepala saya. Bukan saya, kalau tidak segera mencari jawabannya. 

Sembari menyiapkan kompetisi yang menunggu di bulan Februari, saya pun membaca tulisan semua pemenang lomba. Akhirnya, saya tarik kesimpulan tentang apa yang membuat mereka menang. Pertama, setelah saya simak, ternyata mereka sudah lama konsisten menjadi blogger. Sedangkan saya, baru beberapa bulan saja. Ide mereka menarik. Tulisan mereka berbobot dan memberikan manfaat meskipun disisipkan curhat. Sedangkan saya, mungkin masih banyak sisi curhatnya. Berikutnya adalah tampilan visual. Foto-foto dan grapich  yang mereka tampilkan begitu keren. Hidup di dalam tulisan yang mereka susun dengan rapi. Gambar-gambarnya juga beragam, orisinal, dan tidak membuat mata lelah. Visual blog saya jauh dari mereka. 

Terlepas dari semua yang sudah saya sebutkan tadi, ada yang lebih penting yang harus saya renungi. Pada dasarnya mereka semua menulis dengan hati. Bagi yang sudah konsisten lama menjadi blogger, saya akui intuisi mereka memang sudah terasah. Kesabaran hati mereka sudah teruji. Bagi pemula, mereka mengandalkan orisinalitas dari hati yang tidak bisa dibohongi. 

Sedangkan saya, sebagai blogger yang terbilang memulai kembali, hati terkadang masih tertutup dengan ambisi. Ambisi ingin segera blognya dikunjungi banyak orang. Ingin segera tulisannya dikenal. Dan yang lebih membuat saya menjadi tak terkendali yaitu keinginan segera menghasilkan uang dari blog sendiri. Ini yang paling membunuh hati. 

Apakah anda juga merasakannya? Tergerak ambisi hingga mematikan hati. Semoga saja, hanya saya yang mengalami. Menuliskan dengan hati itu artinya harus bisa dirasakan. Tulisan tersebut seolah punya ruh. Menulis dengan logika artinya harus bisa dipertanggung jawabkan. Keduanya harus saling bersinergi. Sedangkan menulis dengan ambisi, hanya akan membuat tulisan tidak bisa dinikmati. 

 

Apa yang Harus Saya Lakukan pada Tulisan Selanjutnya?

Sebelum Februri jauh berlari. Masih ada kesempatan untuk berbenah diri. Selain belajar dari pemenang kompetisi, saya juga belajar dari blogger-blogger yang sudah lama berdiam dalam kanalnya sendiri-sendiri. Komunitas-komunitas penulis yang saya ikuti juga memberikan cakrawala ilmu dunia penulisan tersendiri.

Masih banyak yang harus saya pelajari. Di atas langit, masih ada langit. Tidak bisa berbangga diri dengan prestasi yang sudah terlewati. Ternyata saya masih harus mengasah lagi, lagi dan lagi. Bertemu dengan orang-orang hebat juga membuat saya menyadari betapa masih banyaknya kekurangan yang ada dalam diri. Setelah saya pelajari, berkarya dari hati memang perlu langkah-langkah berikut ini :

  •  
  • Fokus pada Tema Tulisan 

  • Saya pikir, blog pribadi bakal bisa menuliskan apapun sesuai dengan isi hati. Ternyata, menulis dengan hati bukan berarti sesuka sendiri. Harus ada ilmu dan konsep karena kita menyajikan sesuatu untuk orang lain. Dalam hal ini untuk pembaca. Fokus pada tema merupakan suatu hal penting untuk menciptakan self branding. Oleh karenanya, saya membagi blog pribadi saya dengan empat tema utama. Pertama, perempuan karena banyak hal unik yang bisa ditulis untuk perempuan dan saya sendiri adalah perempuan. Kedua, hukum karena kebetulan profesi saya adalah pengacara. Ketiga, adalah karya untuk menyalurkan hobi saya di dunia sastra. Dan keempat adalah ulasan. Kolom terakhir lebih mengedepankan tema lifestyle ala saya. Mengulas hal-hal yang saya suka dan saya ikuti perkembangannya. Sedangkan tulisan lomba, saya sisipkan sendiri namun tetap saya usahakan bisa masuk dalam katagori niche blog yang sudah saya tentukan. Meskipun penyelenggara kompetisi sudah menentukan tema, tapi kita sebagai pemilik blog harus bisa menulis dengan menyesuaikan niche  blog kita. Tujuannya agar blog kita tetap fokus. Dan apa yang kita tulis dalam blog masih dalam materi yang kita kuasai.
  •  
  • Riset

  • Riset nampaknya menjadi hal yang paling lemah pada diri saya akhir-akhir ini. Kalau saya runtut kemenangan-kemenangan saya sebelumnya, saya jadi teringat ketika saya memilih menepi dan menyenderi di perpustakaan kampus hanya untuk menghasilkan tulisan yang bermutu dan enak dibaca. Sedangkan sekarang, karena terbatasnya sumber, saya melakukan riset tulisan juga seadanya.  Malah terkadang, tidak melakukan riset. Ini kesalahan. Seringan-ringannya bobot tulisan, tetap harus riset terlebih dahulu. Riset bertujuan untuk memperkaya materi tulisan. Dengan riset, tulisan kita lebih teruji. Pembaca juga lebih percaya dengan apa yang kita tulis. 
  •  
  • Menetukan Bentuk Tulisan

  • Tulis saja. Tulis saja semau kita. Menurut saya tidak bisa begitu. Bayangkan, anda mendapatkan tugas memasak untuk keluarga. Bagi Ibu-Ibu, masak memasak sudah menjadi kewajiban bukan? Nah, waktu masak kita pasti berpikir terlebih dahulu. Pertama, mau masak apa. Kedua, apa saja bahannya. Ketiga, bagaimana meramunya? Keempat, bagaimana masakan ini disajikan agar menarik untuk dimakan. Nggak mungkin masak dan berharap tidak dimakan. Sama dengan menulis. Kita menulis berharap untuk dibaca. Bentuk bacaan apa yang pembaca kita suka? Apakah berbentuk cerpen, puisi, narasi, essay, atau yang lain? Bentuk tulisan akan berpengaruh pada kata yang kita pilih dan alur yang akan kita buat dalam tulisan tersebut. Meskipun tulisan dengan bentuk yang berbeda, namun jika isi dan pesan yang akan kita sampaikan sama, tetap pembaca akan menemukan kesan yang berbeda. Sama-sama makan bakso Pak Sabar, tapi makan di warungnya sama di bungkus ternyata sensasinya beda.
  •  
  • Pemilihan Kata dan Diksi

  • Diksi, menurut KBBI adalah pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya. Tujuan diksi yaitu untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti bunyi yang senada dan enak dibaca. Diksi berkaitan dengan kata. Pemilihan kata yang tepat, akan menghasilkan diksi yang indah dan berirama. Keduanya berkalaborasi untuk menciptakan rasa. Saya selalu ingat, kata-kata redaktur saya di kantor media saya bekerja dulu. Gunakan logika untuk menyusun data, gunakan rasa untuk menyusun kata. Tulisan tidak boleh lepas dari keduanya agar enak dibaca dan logis dicerna. 
  •  
  • Tampilan Visual yang Mendukung

  • Tampilan visual inilah yang menjadi kelemahan paling saya tidak bisa. Pertama, saya belum bisa menggambar. Kedua saya belum bisa memotret. Dan ketiga saya belum bisa desain grafis apalagi edit vidio. Kebetulan semua ilmu itu dikuasai suami saya. Meskipun, dengan sangat mudah saya bisa minta bantuan tapi tetap konsep yang matang harus lebih dahulu saya pegang.

 

Kembali merenungi, apa tujuan saya menulis, apa tujuan saya memulai blog kembali?

Setelah sederet teknik saya uraikan, saya juga percaya tidak hanya teknik yang mengandalkan logika saja untuk menghasilkan karya terbaik. Ada faktor X yang akan selalu mengiringi kesuksesan kita di setiap bidang. Kita bisa menemukan faktor X tersebut dari kesadaran diri kita yang paling dalam. Dengan kita berdoa, menjadi lebih peka, membentuk mental percaya diri, dan menghargai setiap proses yang kita lalui. Pada akhirnya, kita akan menemukan jalan menulis kita sendiri. Kenapa kita tetap menulis. Dan kenapa orang lain perlu membaca tulisan kita. Itulah faktor X yang harus kita gali dalam diri kita sendiri agar kita tetap bertahan dan konsisten menciptakan karya dari hati.

  •  
  • Menggali Kesadaran Diri

  • Kesadaran diri merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk introspeksi diri, memperoleh pengertian dan pengetahuan mendalam tentang kekuatan, kualitas, kelemahan, kekurangan, ide, pemikiran, keyakinan, idealisme, respon, reaksi, sikap, emosi, dan motivasi yang ada dalam diri. Apa kaitannya dengan berkarya dari hati? Perlu dipahami, berkarya merupakan kata aktif yang menunjukkan adanya tindakan. Kita melakukan, menciptakan sebuah karya. Bagaimana bisa kita lakukan tanpa kesadaran diri. Dengan kesadaran diri, kita tau apa yang sebaiknya kita tulis dan apa yang sebaiknya tidak kita tulis. Tentu saja, hal itu ditujukan untuk kebaikan pembaca. Bukan hanya diri kita sendiri. Dengan kesadaran diri, kita jadi lebih paham tanggung jawab kita sebagai penulis untuk pembaca. 
  •  
  • Dibaca Banyak Orang itu Mental

  • Setelah kesadaran diri dibangun, mental akan mengikuti. Sekali lagi, menulis tidak hanya menulis saja, karena saya suka. Menurut saya, itu tingkatan menulis yang paling rendah. Simpan saja tulisan jika hanya untuk diri sendiri. Tapi jika kita sudah berkomitmen untuk menulis di salah satu wadah media, entah itu media sosial seperti twitter, atau facebook, bisa juga blog, atau di media cetak, kita harus siap tulisan kita dibaca banyak orang. Kita harus siap memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk pembaca. Bermanfaat bukan berarti memberikan ceramah yang cenderung menggurui. Bisa juga bermanfaat karena menghibur dan informatif. Yang jelas, bukan membebani pembaca dengan masalah-masalah kita yang kita tuangkan dalam tulisan. Meskipun menulis kegelisahan diperbolehkan, sebaiknya kita susun tulisan kegelisahan itu menjadi sebuah gagasan. Buah pemikiran, sehingga bermaanfaat juga untuk banyak orang. Maka saya sebut, dibaca banyak orang itu mental. 
  •  
  • Menghayati Setiap Proses

  • Menulis adalah sebuah proses. Bagaimana kita menemukan ide, meramunya, hingga menuangkannya dalam bentuk tulisan? Menulis dengan hati, artinya kita mampu meresapi, menyelami, dan menghayati segala proses kreatifnya. Nikmat, kalau tidak ada ambisi. menyenangkan kalau kita menikmati. Setiap penulis, kebanyakan memulai menulis untuk dirinya sendiri. Menjadikan menulis, adalah bagian dari terapi. Tapi setelah dilatih, intuisi menjadi lebih berani. Menulis pun, tidak hanya ingin meringankan beban pribadi tapi juga berkontribusi untuk negeri.
  •  

Kesimpulan

Menulis adalah jalan panjang. Kenapa kita tetap memilih untuk menulis, itu pilihan. Menulis dari hati tidak sama dengan menulis sesuka hati dan seenaknya sendiri. Menulis dari hati, adalah cara kita meramu seni, menghayati setiap proses saji, untuk sampai ke lain hati. 

 

Catatan :

Tulisan ini, sebenarnya hanyalah kontemplasi penulis. Ilmu tersebut sudah lama didapatkan penulis. Ternyata, setelah lama tidak menulis ilmu itu tergerus waktu, terkikis dan tak punya arti lagi. Satu-satunya cara untuk membangunkannya dan mematri kembali di jiwa penulis yaitu dengan cara menuliskannya sendiri. Salam sayang, Februari.

Madiun, 8 – 2 – 2019.

 

Baca Juga :

Melepas, Bahagia, 2018

6
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
3 Thread replies
1 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
Jihan Fauziahrahma balciDita Arina Astriandainez Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
inez
Guest

bener bgt nulis kalo saya butuh berhari-hari utk riset.

Dita Arina Astrianda
Guest

Memang menulis itu merupakan proses yang panjang dengan membaca menulis lagi sharing menulis lagi seperti pedang yang terus diasah untuk mendapatkan ketajaman yang diinginkan

rahma balci
Guest

salam kenal mba, kunjungan pertama, tulisannya menarik, kadang saya juga suka merasa ga percaya diri jika membaca tulisan2 teman blogger yang sudah punya nama, apalagi sering menang lomba, tapi jadi kembali mikir, tentang tujuan awal saya berkecimpung di dunia blog, balik lagi ke track, menulis dengan gaya sendiri yang memang berasa ada ‘ruh’nya, yuk tetap semangat:) tujuan utama bagi saya selama ngeblog berbagi kebaikan dalam cerita.

Go Top